Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Konteks Gereja Materi 34 : Fungsionaris Pelayanan Gereja
Materi 34 : Fungsionaris Pelayanan Gereja PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 34

Pokok Bahasan          : Konteks Gereja

Sub Pokok Bahasan    : Fungsionaris Pelayanan Gereja


FUNGSIONARIS PELAYANAN GEREJA


PENGANTAR

Fungsionaris Pelayanan Gereja adalah orang-orang yang Tuhan pilih melalui jemaat untuk memimpin dan melayani jemaat. Para fungsionaris ini mendapat mandat gereja sebagai pelayan Tuhan sesuai karunia yang diberikan Roh Kudus (1 Korintus 12:4). Meskipun para fungsionaris pelayanan adalah pemangku jabatan gereja, namun kepemimpinan mereka bersifat kepemimpinan yang melayani. Seorang pemimpin tidak dapat memimpin tanpa menjadi seorang pelayan. Pemimpin yang melayani adalah juga pelayan yang memimpin.

Peran utama Fungsionaris Pelayanan Gereja terletak pada vocasi atau tugas panggilan dan pengutusannya bukan tertuju kepada status jabatan semata. Para pemangku jabatan dalam gereja atau jemaat adalah “hamba-hamba dari Yesus Kristus, Tuhan Gereja”. Dalam Markus 10:45 Yesus mengatakan bahwa “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani……….”. Nas ini mempunyai arti yang mendalam bagi pemangku jabatan gereja di semua aras pelayanan Gereja. Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya untuk meneladani diri-Nya sebagai pelayan : “… Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai Pelayan” (Lukas 22:27). Dalam melaksanakan pelayanan-Nya Tuhan Yesus merendahkan dan mengosongkan diri-Nya, taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2 : 8). Tuhan Yesus juga memberikan contoh dengan membasuh kaki para murid-Nya (Yohanes 13 : 14 – 15).

 

PEJABAT GEREJA GPIB

Menurut J L Ch Abineno, ada 3 Tipe Teologi Jabatan dalam Gereja :

  1. Tipe Teologi Jabatan Roma Katolik atau “High-Church”. Tahbisan jabatan dianggap sebagai suatu Sakramen, yang oleh suatu janji tertentu dari Roh Kudus, pemangku jabatan bukan saja berhadapan dengan jemaat tetapi juga menempatkannya di atas jemaat.
  2. Tipe Teologi Jabatan Klasik Reformatoris. Tipe teologi jabatan ini bukan saja menempatkan pejabat berhadapan dengan jemaat melainkan juga di dalam jemaat.
  3. Tipe Teologi Jabatan Gereja Bebas atau “Low-Church”. Tipe ini mengganggap pejabat tidak lebih dari pada suatu pengkhususan saja dari jabatan orang-orang percaya (Imamat Am orang-orang percaya). Jadi secara prinsipal pejabat gereja tidak lebih daripada koster atau administrator.

Tipe teologi jabatan Roma Katolik yang “High-Chruch” tersebut ditentang oleh Reformator Yohanes Calvin berkaitan dengan hirarki Jabatan dalam Gereja Roma Katolik. Dalam buku yang dituliskan oleh Yohanes Calvin “Institutio” dan komentar-komentarnya atas Kitab Perjanjian Baru, ia mengemukakan asas-asas sistem atau struktur Presbiterial-Sinodal. Asas-asas sistem dan struktur bergereja ini dipraktekkan oleh Calvin di Geneva; dan kemudian diambil alih oleh Gereja-gereja lain di seluruh dunia. Salah satu contohnya adalah kepejabatan Gereja di GPIB yang diambil alih langsung secara utuh dari Swiss (Geneva) ke negeri Belanda dan kemudian ke Indonesia; yakni : Pendeta – Penatua– Diaken. Ketiga jabatan ini masih berlaku sampai sekarang di GPIB.

GPIB memakai istilah “pejabat gereja” untuk pemangku jabatan (Pendeta – Penatua – Diaken) hal itu berpadanan dengan sistem pemerintahan gereja GPIB, yaitu Prerbiterial – Sinodal. Pejabat gereja GPIB merepresentasikan dan mengaktualisasikan kepemimpinannya dengan meneladani ajaran, ucapan serta perilaku Yesus Kristus. Pejabat gereja GPIB dalam memimpin dan melayani jemaat diatur serta ditata sedemikian rupa sesuai dengan aturan GPIB yang berlaku. Dengan demikian mereka dapat memimpin, melayani, mendorong, mengkoordinasi, menggerakan serta menggiatkan warga jemaat menjadi warga gereja yang rajin dan tekun melaksanakan suruhan Allah.

Dalam rangka menjadi fungsionaris pelayanan gereja yang bertanggung-jawab untuk melaksanakan panggilan dan pengutusannya, maka pejabat gereja tersebut harus melalui suatu proses. Yaitu proses panggilan batin berdasarkan anugerah kasih karunia Tuhan yang memanggil, memilih semua orang dalam karya penyelamatan-Nya. Di samping itu untuk memperlengkapi warga jemaat, para pejabat gereja GPIB harus juga melewati proses penetapan dan pemantapan berdasarkan tatanan serta aturan kelembagaan GPIB. Para pejabat gereja GPIB ini dipilih oleh dan dari antara warga sidi jemaat dan ditetapkan sesuai aturan tentang pejabat gereja GPIB.

Untuk mendukung semua pelaksanaan penatalayanan dan penyelenggaraan gereja agar berdaya-guna dan berhasil-guna maka para pejabat gereja GPIB dibantu oleh badan pelaksana atau badan pembantu, misalnya: Bidang Pelayanan Kategorial, Departemen-Departemen, Komisi-Komisi, Panitia-Panitia dan sebagainya. Pengadaan dan tugas tanggung jawab badan pelaksana atau badan pembantu ini diatur sesuai dengan aturan GPIB yang berlaku.

 

LANDASAN INSTITUSIONAL PEJABAT GEREJA GPIB

Tata gereja GPIB mengamanatkan bahwa pejabat GPIB adalah sebagai berikut:

  1. Agar panggilan dan pengutusan dapat terselenggara secara tertib, teratur dan terkendali (Tata Gereja GPIB tahun 1982), GPIB mengangkat dan menetapkan para pejabat gereja terdiri dari :
    1. Pendeta
    2. Penatua
    3. Diaken
  2. Untuk memperlengkapi warga gereja melaksankan panggilan dan pengutusannya, GPIB (TATA GEREJA GPIB 1996) mengangkat dan menetapkan para pejabat yang terdiri dari :
    1. Presbiter
    2. Pengajar
  3. Untuk mewujudkan panggilan dan pengutusannya, para pejabat gereja (presbiter) memusyawarahkan kebijaksanaan dan menyatukan kepemimpinannya dalam wadah kebersamaan, yaitu :
  1. Majelis Sinode
  2. Majelis Jemaat

Adapun mengenai tugas pejabat gereja GPIB, Tata Gereja GPIB mengamanatkan sebagai berikut :

Tugas umum :

Kepada para pejabat dipercayakan menjaga kemurnian dan memelihara kemurnian pemberitaan firman, pelayanan sakramen dan ajaran gereja.

Tugas Khusus :

  1. Kepada para pendeta dipercayakan secara khusus pelayanan firman dan sakramen, peneguhan sidi, pemberkatan nikah, peneguhan pejabat dan penggembalaan.
  2. Kepada para penatua dipercayakan secara khusus pelaksanaan penggembalaan dan ketertiban pelayanan.
  3. Kepada para diaken dipercayakan secara khusus diakonia sosial atau pelayanan kasih.

 

DASAR ALKITABIAH PEJABAT GEREJA GPIB

Sebagai fungsionaris pelayanan gereja, pejabat gereja GPIB yang bertugas memperlengkapi orang-orang kudus bagi pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4 : 12) dan pertumbuhan iman ( Efesus 4 : 15 – 16 ), haruslah meneladani para pelayan Tuhan dalam Alkitab, misalnya :

  1. Rasul-rasul : jabatan pada masa jemaat Kristen perdana yang dijabat oleh murid-murid Yesus, termasuk juga Paulus (Kisah Para Rasul 1:12, dyb).
  2. Nabi-nabi : jabatan ini dikenal juga dalam masa Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 21:10 dan 1 Korintus 12:28).
  3. Pemberita-pemberita Injil : mereka yang melaksanakan pemberitaan Injil tentang kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 8:12).
  4. Gembala-gembala dan pengajar-pengajar : jabatan ini bertumbuh karena kebutuhan akan pengajaran kitab suci (Kisah Para Rasul  20 : 17, dyb dan 1 Petrus 5:1, dyb).

Dalam rangka melaksanakan penatalayanan dan penyelenggaraaan pelayanan gereja, maka rasul-rasul menetapkan beberapa fungsionaris pelayanan gereja, yaitu para diaken (Kisah Para Rasul 6:3) dan pemangku jabatan penatua (Kisah Para Rasul 14:13). Para diaken dan penatua ini disebut sebagai dewan presbiter yang merupakan reprensentasi (perwakilan) dari jemaat. Selanjutnya dalam organisasi gereja dipilih dari antara dewan presbiter atau majelis gereja / jemaat orang yang memimpin, mengawasi pengajaran dan pemberitaan serta melaksanakan penatalayanan dan penyelenggaraan gereja. Jabatan itu disebut penilik jemaat (Yunani : Episkopos, atau Bishop / Uskup). Sehingga dalam mengelola dan mengatur serta menata persekutuan jemaat, para fungsionaris pelayanan tersebut bekerja dan berjalan bersama-sama. Semangat pelayanan yang ‘berjalan bersama-sama’ (prinsip presbiterial – sinodal) seperti inilah yang kemudian terus dikembangkan oleh para pejabat GPIB dalam melaksanakan penatalayanan serta penyelenggaraan gereja di GPIB.

Berdasarkan kesaksian Alkitab, pejabat gereja harus memiliki syarat-syarat spiritualitas dalam melaksanakan tugas penatalayanan dan penyelenggaraan pelayanan gereja, yaitu :

  • tidak bercacat (1 Timotius 3 : 2; Titus 1 :8),
  • mampu mengajar (1 Timotius 5 : 17; Titus 1 : 9),
  • bukan pemarah melainkan peramah (1 Timotius 3 : 3; Titus 1 : 7),
  • bukan seorang pencinta uang (1 Timotius 3 : 3),
  • bukan seorang yang suka bertengkar (1 Timotius 3 : 3),
  • bukan petobat baru (1 Timotius 3 : 6),
  • mampu mengendalikan diri (1 Timotius 3 : 2; Titus 1 : 8),
  • memiliki reputasi yang baik (1 Timotius 3 : 7),
  • tidak angkuh dan tidak pemberang (Titus 1 : 7),
  • baik, bijaksana dan saleh serta disiplin (Titus. 1 : 8).

 

PENUTUP

Baik pejabat gereja maupun badan pelaksana atau badan pembantu di GPIB adalah fungsionaris pelayanan gereja yang harus menyadari bahwa dirinya sebagai hamba Tuhan. Mereka memimpin, melayani serta melaksanakan tugas penatalayanan dan penyelenggaraan pelayanan gereja berdasarkan perintah Tuhan Yesus, Kepala Gereja. Penatalayanan dan penyelenggaraan panggilan dan  pelayanan gereja oleh para pejabat gereja ini dilaksanakan untuk hormat dan kemuliaan Tuhan. Dalam melaksanakan tugas pelayanan dan kesaksian tersebut para fungsionaris pelayanan gereja inipun harus melaksanakannya secara bersama-sama, dengan sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan (Filipi 2 : 2).

Semua fungsionaris pelayanan gereja melaksanakan tugas pengutusannya secara kolektif dengan mengacu pada aturan GPIB yang berlaku. Para fungsionaris pelayanan gereja ini adalah alat atau sarana yang Tuhan pakai. Jika mereka menjadi alat Allah, maka berkewajiban untuk patuh, taat dan setia pada-Nya. Fungsionaris pelayanan gereja harus menghindari diri diperalat oleh dan atas nama suatu kepentingan yang menyimpang. Sebagai alat dan sarana Allah, fungsionaris pelayanan gereja harus mampu membedakan, manakah kehendak Allah dan manakah yang bukan kehendak Allah (Roma 12 : 2).

 

 

Buku bacaan :

  1. Abineno, J. L. Ch, Penatua: Jabatannya dan Pekerjaannya, Jakarta : BPK Gunung Mulia, Cet.-6, 2005
  2. ------------, Diaken: Jakarta : BPK Gunung Mulia, Cet.-5, 2005.
  3. ------------, Jemaat: Jakarta : BPK Gunung Mulia, 19...
  4. ------------, Pelayan-Pelayan Jemaat Dalam Perjanjian Baru, Jakarta : BPK Gunung Mulia,
  5. Himpunan Tata Gereja GPIB yang Berlaku : Jakarta, Majelis Sinode GPIB, 2006.
  6. Kumpulan Materi Bina : Calon Penatua dan Diaken Tahun 2007-2012, Majelis Sinode GPIB, 2007
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.