Materi 30 : Gerakan Keesaan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 30


GERAKAN KEESAAN


Kebangkitan Gerakan Keesaan Abad XX di Eropa.

Jika kita ingin mengetahui gerakan Keesaan di Indonesia, kita tidak dapat dilepaskan dari kebangkitan gerakan keesaan abad XX di Eropa. Bermula dari Konperensi Pekaran Injil Sedunia di Edinburgh, 14 – 23 Juni 1910. Konperensi ini adalah konperensi studi dan konsultasi untuk membahas sejumlah persoalan yang timbul di lapangan pekabaran injil, namun ternyata dari delapan pokok bahasan dalam konperensi ini, ada juga pokok tentang Kerjasama dan Keesaan. Dan untuk itu lalu dibentuk sebuah komite yang disebut Continuation Committee.

Keputusan untuk membentuk komite ini, ternyata di kemudian hari sangat berarti dalam sejarah gerakan keesaan di seluruh dunia. Dengan demikian Konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910 dilihat sebagai saat kelahiran gerakan oikumenis atau keesaan di seluruh dunia. Beberapa konperensi yang dilaksanakan oleh Continuation Committee, terutama konperensi pertama dan kedua kemudian menjadikan tema keesaan sebagai tema penting atau sentral dalam pokok-pokok bahasan dan keputusannya.

Konperensi pertama Faith and Order yang berlangsung di Lausanne, Swiss pada 3 – 20 Agustus 1927, dan Konperensi kedua yang berlangsung di Edinburgh pada 3 – 12 Agustus 1937, adalah konperensi-konperensi yang dijiwai semangat gerakan keesaan Gereja.

Konperensi pertama Faith and Order membahas dan menghasilkan tujuh pokok pemahaman bersama. Pokok-pokok pemahaman itu adalah:

  1. the call to unity (panggilan untuk keesaan);
  2. the Churh’s message to the world-the Gospel (amanat Gereja bagi dunia-injil);
  3. the nature of the Church (Sifat Gereja);
  4. the Church’s common confession of faith (pengakuan iman bersama Gereja);
  5. the Church’s ministry (pelayanan Gereja);
  6. the Sacraments (Sakramen-sakramen);
  7. the unity of Christendom and the place of the different Church in it (keesaan kekristenan dan tempat Gereja-gereja yang berbeda di dalamnya).

Dan pada konperensi kedua Faith and Order selain berbicara tentang Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus (the Grace of the Lord Jesus Christ), tetap mengusung pokok keesan. Pokok-pokok keputusan Konperensi di Edinburgh yaitu :

  1. the Grace of the Lord Jesus Christ. (Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus);
  2. the Church of Christ and the Word of God (Gereja Kristus dan Firman Allah);
  3. the Church of Christ: Ministry and Sacraments (Gereja Kristus, Pelayanan dan Sakramen-sakramen);
  4. the Church’s Unity in Life and Worship (Keesaan Gereja di dalam kehidupan dan pekerjaan; pokok ini kemudian dibagi dua, sehingga ditambahkan:
  5. the Communion of Saint, Persekutuan orang kudus).

Konperensi Edinburgh dan juga Lausanne memberikan inspirasi atau menjadi semangat pendorong terbentuknya berbagai bentuk gerakan keesaan.

 

PERTUMBUHAN DAN GERAKAN KEESAAN DI ASIA

Salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkebangan keesaan di Asia adalah pengaruh nasionalisme di Asia, setelah Jepang megalahkan Rusia pada tahun 1905. Timbul perasaan bahwa orang-orang Asia telah cukup mampu untuk mengurus persoalan-persoalan mereka sendiri sehingga tidak perlu lagi diatur oleh orang-orang Barat. Selain itu terdapat juga pengaruh dari konperensi Pekabaran Injil Sedunia tahun 1910 di Edinburgh.

Di beberapa Negara di Asia seperti di India, Jepang, Cina, Burma, Sri Lanka, Korea, Filipina dan termasuk Indonesia, muncul lembaga-lembaga Pekabaran Injil yang sesungguhnya disemangati oleh konperensi Edinburgh. Dan ketika di tahun 1938, dilangsungkan konperensi pekabaran Injil sedunia di Tambaran India muncul kesadaran orang-orang Kristen Asia bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan bersama yang berbeda dari kepentingan-kepentingan gereja-gereja Barat. Kesadaran ini yang kemudian membuahkan Dewan-dewan Gereja di negara-negara Asia, yang kemudian turut melahirkan Dewan Gereja Asia.

 

PERTUMBUHAN GERAKAN KEESAAN DI INDONESIA

Ada lima hal yang memperngaruhi sejarah Oikumene di Indonesia yang bermuara pada pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Menurut Dr. T.B. Simatupang, kelima hal itu adalah :

  1. Alkitab (dalam hal ini Yohanes 17 : 21) dan Pengakuan Iman;
  2. Nasionalisme di Indonesia menjelang dan sesudah Perang Dunia II;
  3. Pengalaman pemuda Kristen dalam Christelijk Studenten Vereniging (CSV, Perhimpunan Mahasiswa-mahasiswa Kristen) dan pada Sekolah Theologia Tinggi (Sekarang STT) di Jakarta;
  4. Pengalaman pada masa Jepang;
  5. Pengaruh gerakan oikumenis dari luar (IMC, WSCF, DGD) dan pengaruh tokoh-tokoh di kalangan Pekabaran Injil.

Doa Yesus dalam Yohanes 17 : 21 : "supaya mereka menjadi satu ... agar dunia percaya" menjadi tema Gerakan Oikoumene. Sejak abad 20 Gerakan Oikoumene itu berkembang meliputi seluruh dunia, juga di Indonesia ini. Dan ketika kesadaran/gerakan oikoumene mulai melanda Indonesia, pada saat yang sama kesadaran nasionalisme muncul. Gereja-gereja mulai berupaya menghilangkan perselisihan, perpisahan dan keterasingan satu dari yang lain. Ini tidak mudah, sebab faktor-faktor dogma dan tradisi masih kuat. Sekalipun demikian mulai nyata bahwa upaya itu tidak sia-sia.

Tahun 1939, atas inisiatif dari Gereja Protestan di Indonesia (GPI), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Kristus, dan Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat (GKI Jabar) serta dihadiri juga oleh peserta-peserta yang mengikuti Konperensi Pekabaran Injil Sedunia di Tambaran India, diadakan sebua pertemuan di Batavia (Jakarta). Pertemuan ini memutuskan mempersiapkan pembentukan suatu National Christian Council. Dibentuklah Panitia persiapan yang merancangkan Anggaran Dasar dan Peraturan untuk Dewan ini, dengan diketuai oleh Dr. Mulia dan Sekretaris-Bendahara adalah Van Randwijck. Rencana pembentukan Dewan ini terkendala bukan saja karena Perang Dunia II tetapi juga karena ada perbedaan pendapat tentang Anggaran Dasar dan tentang perwakilan Gereja dan Lembaga Penginjilan dalam Dewan yang akan dibentuk.

Selain itu, selama masa Jepang, Gereja-gereja mulai melihat bahwa mereka menghadapi pergumulan bersama dan harus diatasi bersama. Maka di beberapa daerah Gereja-gereja bergabung untuk mengatasi bersama masalah-masalah yang mereka hadapi. Ada juga gereja-gereja di daerah tertentu yang membentuk Dewan Gereja. Ada Dewan Permoesyawaratan Geredja-geredja di Indonesia (DPG) yang menghasilkan kesepakatan Kwitang pada Mei 1947; ada Madjelis Oesaha Bersama Geredja-geredja Kristen (MOBGK) yang berpusat di Makassar untuk Gereja-gereja di Indonesia bagian Timur. Nyata bahwa ada upaya yang sungguh untuk membentuk suatu lembaga keesaan Gereja. Dan akhirnya tanggal 25 Mei 1950, DGI didirikan.

Berdirinya DGI merupakan hasil dari sebuah Sidang Raya Gereja-gereja Protestan yang berlangsung tanggal 21 – 28 Mei 1950 di STT Jakarta. Dan tanggal 25 Mei 1950 tepat jam 12.00 WIB, diputuskan dan disahkan Anggaran Dasar berdirinya DGI.

Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah panjang gerakan keesaan sampai berdirinya DGI a.l. Dr. T.S.G. Mulia yang turut hadir dalam Konperensi Pekabaran Injil di Yerusalem tahun 1928 dan di Tambaran tahun 1938, Pdt. W.J. Rumambi yang turut membidani MOBGK.

Tahun 1984 dalam DGI berubah menjadi PGI. Semangat yang menjiwai PGI nampak dalam prinsip-prinsip penting yang dijadikan pedoman Gerakan Keesaan antara lain :

  1. Keesaan itu bukanlah soal keseragaman atau keterpisahan, melainkan keberagaman dalam kebersamaan. Seperti tubuh yang terdiri dari banyak anggota yang saling terikat satu dengan yang lain
  2. Keesaan itu adalah keesaan dalam roh. Keesaan yang bukan hasil usaha manusia, tetapi karena karya Kristus.
  3. Keesaan itu harus nampak agar dunia menjadi percaya.

Berdasarkan prinsip-prinsip penting itu, maka harus ada saling mengakui dan saling menerima, saling memahami, saling menolong atau topang menopang dan mengupayakan hal-hal yang berguna bagi banyak orang.

Selain PGI yang kebanyakan anggotanya adalah Gereja-gereja Protestan, terdapat juga Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI) dan Persekutuan Injili di Indonesia (PII), Persekutuan Gereja-gereja Tionghoa Indonesia.

 

 

Kepustakaan :

  1. Dr. Christiaan de Jonge, Menuju Keesaan Gereja, Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema-tema Gerakan Oikumenis, BPK-Gunung Mulia, Jakarta, 1996.
  2. Dr. J.M. Pattiasina & Pdt. Weinata Sairin, M.Th (Ed), Gerakan Oikumene, Tegar Mekar di Bumi Pancasila Buku Peringatan 40 tahun PGI, BPK-Gunung Mulia, 1990.
  3. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Dalam Kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan, BPK-Gunung Mulia, 1991.
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.