Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Konteks Gereja Materi 27 : Gereja dan Negara : Membangun Hubungan Yang Kreatif
Materi 27 : Gereja dan Negara : Membangun Hubungan Yang Kreatif PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 27

Pokok Bahasan          : Konteks Gereja

Sub Pokok Bahasan  : Gereja dan Negara

Tujuan Pembelajaran Khusus :

Melalui pelajaran ini katekisan dapat :

  1. Menjelaskan tugas negara terhadap hidup keagamaan termasuk Gereja sesuai Undang-Undang negara.
  2. Menjelaskan hubungan antara Gereja dan Negara menurut Alkitab dan tradisi teologi.
  3. Mengidentifikasi potensi-potensi yang menyebabkan hubungan antara Gereja dan Negara mengalami ketegangan dan bagaimana menyikapinya dalam terang Firman TUHAN.

Bahan Alkitab : Roma 13 : 1 - 7; Markus 12 : 13 - 17; Lukas 20 : 20 - 26; Yesaya 45 : 1 -25; Wahyu 13 : 1 - 18.


GEREJA DAN NEGARA : MEMBANGUN HUBUNGAN YANG KREATIF


Republik Indonesia diproklamirkan sebagai negara merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan itu diperjuangkan sebagai hak yang direbut dari tangan Belanda yang menjajah Indonesia.

Negara ini didirikan di atas dasar yang disepakati bersama komponen bangsa saat itu yaitu Pancasila. Dasar ini menjamin kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya dan latar-belakang social yang tersebar di berbagai pulau dan daerah di Nusantara. Semuanya diikat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk menata kehidupan bersama disusunlah UUD 1945, Undang-Undang, Peraturan-Peraturan dan Peraturan Daerah, yang semuanya itu mengatur berbagai hal antara lain kehidupan beragama didalamnya termasuk Gereja sebagai lembaga yang melayani masyarakat dan bangsa Indonesia.

(Untuk mendalami apa kata UUD 1945, UU, Peraturan-Peraturan dan Peraturan Daerah yang mengatur tentang hidup keagamaan termasuk gereja pengajar dan katekisan mengidentifikasi ketentuan tersebut melalui kelompok-kelompok tugas dalam bentuk karya tulis untuk diskusi bersama).

Selanjutnya kita membahas pemahaman Kristen tentang Negara:

Secara teologis, negara ditempatkan dalam hubungan dengan tindakan TUHAN untuk memelihara ciptaaan-NYA. Negara tidak diciptakan oleh TUHAN, tetapi diperkenankan TUHAN untuk menjadi alat dalam pemeliharaan TUHAN terhadap dunia. Jadi negara tidak diciptakan oleh TUHAN tetapi merupakan wujud dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Naluri alamiahnya mendorong untuk membangun persekutuan (Calvin: Institutio II.ii.13). Manusia hidup dalam kebersamaan atau persekutuan dan sadar akan pentingnya tata aturan dan kebiasaan antara lain dalam hal membentuk negara. Dapat dikatakan hal tersebut merupakan karunia TUHAN untuk manusia (banding Kejadian 1:28). Dapat dikatakan bahwa keberadaan negara berhubungan dengan tindakan TUHAN untuk memelihara ciptaan TUHAN (istilah teologis: providentia). TUHAN memelihara ciptaan-NYA dengan cara melindungi (conservation), berada bersama-sama (concursus) dan memerintah (gubernatio).

Dalam rangka itu TUHAN memberikan kuasa kepada negara. Kuasa itu dijalankan oleh pemerintah sebagai hamba ALLAH. Sebagai hamba, pemerintah bertugas memberikan perlindungan kepada masyarakat, berada (bekerja dan berjuang) bersama-sama warganya, serta memerintah dalam arti mengatur dan menata sehingga ada kesejahteraan bersama serta masyarakat mengabdi dan memuliakan TUHAN.

Secara Alkitabiah, kita menelaah Firman TUHAN yang terdapat dalam Roma 13:1-17; Markus 12:13-17; Lukas 20:20-26; Yesaya 45:1-25; Wahyu 13:1-18. Walau Gereja sudah berada dalam berbagai ancaman (a.l. datangnya dari pemerintah Roma) tetapi Rasul Paulus bersikap menghargai pemerintah sebagai hamba TUHAN. Sikap seperti ini sesungguhnya berlawanan dengan sikap orang-orang Yahudi yang berjuang melawan pemerintah dan menebarkan teror yang meresahkan masyarakat. Orang Kristen diajak untuk menghormati pemerintah. Dengan cara itu orang-orang Kristen juga menuntut keadilan dari pemerintah, bahkan mendorong (mengkritik) pemerintah agar melakukan kebenaran dan menghindari kekejaman dan penindasan.

Orang Kristen tidak dapat melepaskan diri dari ikatan dengan masyarakat dan bangsa, demikian pendirian YESUS. IA sendiri menyatu dengan masyarakat Yahudi, tetapi juga dengan orang-orang Yunani dan Romawi yang bertemu dengan-NYA. Orang-orang Kristen menyatakan tanggung-jawab dan menjawab panggilan TUHAN tetapi juga terhadap masyarakat. Ketaatannya kepada TUHAN dialami juga sebagai berkat bagi masyarakat dan bangsa yang dipimpin oleh pemerintah. Orang-orang Kristen tidak dapat menghindari kewajiban-kewajibannya terhadap negara sebagaimana ia mengharapkan kewajiban-kewajiban negara terhadap warga terwujud dalam masyarakat. Negara yang baik membuat warganya merasa berhutang atas berbagai perlindungan yang diberikannya dengan menjamin keamanan dan kerukunan. Negara yang bertanggung-jawab pasti membuat warganya menghormatinya karena menerapkan hukum yang adil, menyediakan fasilitas-fasilitas umum (seperti transportasi, pasar, listrik dsb..) yang baik bagi masyarakat. Pemerintah yang baik akan menjaga keutuhan, sebab jika terjadi perpecahan, ia sendiri kehilangan wibawa dan Negara menjadi runtuh, lalu hilanglah juga pemerintah.

Gereja sebagai persekutuan yang dipanggil TUHAN untuk hadir di tengah dan bersama masyarakat bekerjasama dengan pemerintah. Walau pemerintah itu kejam seperti pengalaman Gereja perdana (dalam Wahyu), Gereja tetap melakukan tanggung-jawabnya. Ada ketegangan-ketegangan dengan potensi konflik, tetapi Gereja harus berjuang untuk menyadarkan pemerintah atas kekeliruannya. Ada perlawanan terhadap pemerintah secara pasif oleh orang-orang Kristen perdana melalui pengorbanan mereka. Pengorbanan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah menyimpang dan pada saatnya TUHAN menghukumnya. Sebab bukan tidak mungkin TUHAN memakai pemerintah untuk membebaskan umat-NYA dari penderitaan. Pengakuan Negara terhadap Gereja (setelah melewati penganiayaan) pada abad 4 M merupakan bukti TUHAN bekerja. Pembebasan orang-orang Israel dari Babel yang kejam oleh Persia dan pembebasan untuk kembali membangun Israel oleh raja Persia (Koresh) merupakan tindakan TUHAN.

Hubungan antara Gereja dan Negara perlu dibangun secara kreatif. Negara dan Gereja tetap menjaga kemandirian masing-masing. Tidak boleh saling menguasai karena keduanya otonom dan bebas melakukan tugasnya. Dalam melaksanakan fungsinya masing-masing perlu dibangun usaha-usaha untuk saling melengkapi mencapai tujuan bersama yaitu perlindungan dan kesejahteraan masyarakat. Keduanya selalu berinteraksi baik melalui kehadiran warga maupun sebagai lembaga, di pusat maupun di daerah dalam semua aras.

Untuk itu Gereja dan Negara sama-sama berjuang untuk menciptakan undang-undang dan peraturan yang adil untuk kepentingan bersama sebagai satu masyarakat yang majemuk. Dengan undang-undang dan peraturan tersebut semua pihak melaksanakan tugas dalam kebersamaan yang tertata jelas, rapi tersusun dan membangun masa depan bersama.

Kepustakaan :

  1. Yohanes Calvin, Institutio. BPK Gunung Mulia 1980. h.252 dst.
  2. Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Allah. Lembaga Reformed Injili Indonesia 1993. h.311 dst.
  3. G.C.van Niftrik dan B.J.Boland, Dogmatika Masa Kini. Badan Penerbit Kristen 1967. h.129 dst.
  4. John Stott, Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. OMF Jakarta 1996
  5. Marie-Claire Barth, Tafsiran Alkitab. Kitab Nabi Yesaya. BPK Gunung Mulia Jakarta 1983
  6. Th. Van den End, Tafsiran Surat Roma. BPK Gunung Mulia 1995.
  7. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Lukas. BPK Gunung Mulia 1996
  8. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Roma. BPK Gunung Mulia 1991
  9. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Markus. BPK Gunung Mulia 2003
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.