Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Ibadah & Doa Materi 41 : Simbol, Perangkat Penunjang Ibadah dan Bangunan Gereja
Materi 41 : Simbol, Perangkat Penunjang Ibadah dan Bangunan Gereja PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 41

Pokok Bahasan          :

Sub Pokok Bahasan  : Simbol, Perangkat Penunjang Ibadah dan Bangunan Gereja

Tujuan Pembelajaran Khusus :

  1. Memahami makna simbol, perangkat penunjang ibadah dan bangunan gereja yang digunakan dalam ibadah GPIB.
  2. Menghargai setiap simbol, perangkat penunjang ibadah dan bangunan gereja yang digunakan dalam ibadah GPIB.
  3. Menyebutkan dan menjelaskan makna dari simbol, perangkat penunjang ibadah dan bangunan gereja yang digunakan dalam ibadah GPIB.

SIMBOL, PERANGKAT PENUNJANG IBADAH DAN BANGUNAN GEREJA

 

PENGANTAR

Kata “Simbol” berasal dari kata kerja bahasa Yunani symbollein yang berarti ”mencocokkan” atau menghubungkan antara dua bagian atau dua entitas yang berbeda. Makna kata simbol dilatarbelakangi oleh sebuah tradisi Yunani kuno: ”Pada waktu dua orang di Yunani kuno mengadakan perjanjian, mereka kerap kali memateraikan perjanjian itu dengan memecahkan sesuatu – sebuah lempengan, sebuah cincin, sebuah benda dari tanah liat – menjadi dua bagian dan masing-masing pihak menyimpan satu bagian. Jika salah satu pihak yang mengadakan perjanjian kemudian hari menghendaki perjanjian itu dihormati, ia atau wakilnya akan mengidentifikasi diri dengan mencocokkan bagian dari barang yang telah dipecah itu dengan bagian yang lain.

Dengan demikian simbol dapat dipahami sebagai sebuah kata, gambaran, benda, tempat, gerakan, tindakan, mitos atau ritus dsb. yang menghubungkan atau menggabungkan. Ia dipahami sebagai sesuatu yang menghubungkan dengan atau mewakili (menyimbolkan) sesuatu yang berbeda, atau mengacu kepada realitas yang lebih tinggi atau ideal. Dengan kata lain, ”Simbol mempersatukan atau menggabungkan suatu segi pengalaman manusia yang sudah dikenal dengan baik dengan apa yang mengatasi pengalaman itu maupun pengungkapannya”.

A. SIMBOL DALAM IBADAH GPIB

Ibadah GPIB dari awal hingga akhir dipenuhi dengan berbagai macam simbolik, yang dapat berbentuk verbal (misalnya kata-kata dalam liturgi atau khotbah), visual (gambar, dekorasi atau benda-benda lain yang dapat dilihat) atau ritual (tindakan, gerak tubuh, dsb. dengan elemen-elemen simbolis yang tidak hanya dapat dilihat, namun juga dirasakan oleh semua indra).

Tujuan adanya simbol dalam ibadah GPIB adalah untuk mengkomunikasikan keberadaan Allah, karya penyelamatan-Nya dan kehadiran-Nya yang tidak mungkin dapat dijelaskan atau dikomunikasikan dengan sempurna oleh bahasa lisan, tulisan atau bahasa isyarat, kecuali dengan bahasa simbol. Misalnya : kekudusan Allah yang tidak mungkin diungkapkan atau dijelaskan dengan bahasa lisan. Oleh karena itu makna dari simbol harus dipahami oleh setiap anggota jemaat GPIB agar dapat menjadi sarana yang baik dalam membantu umat untuk menghayati kehidupan Gereja sebagai persekutuan keselamatan yang beribadah dan yang diutus ke dalam dunia. Bila tidak dipahami oleh jemaat, maka simbol-simbol tersebut hanya akan menjadi sekadar hiasan saja dan akan kehilangan makna.

Simbol-simbol Verbal yang dapat dijumpai dalam ibadah GPIB, misalnya Haleluya, Amin.

1. Simbol-simbol Visual yang dijumpai dalam ibadah GPIB :

Logo dan warna-warna khusus pada kain mimbar, yang mau menjelaskan tentang berita karya penyelamatan Allah. Simbol-simbol ini disesuaikan dengan Tahun Gereja, oleh karena melalui Tahun Gereja itu semua peristiwa dan perbuatan penyelamatan Allah, seluruh karya Yesus pada masa lampau dan apa yang dilakukan oleh Gereja-Gereja mula-mula di dalam ibadah mereka, kembali dibentangkan di depan umat masa kini, yang kesemuanya memancar dari sumber ilahi Firman Allah yang karena Roh Kudus dijadikan hidup bagi jemaat. Logo dan warna-warna khusus pada kain mimbar tersebut sama dengan yang ada pada stola, sebagai pakaian liturgis yang dikenakan oleh presbiter.

Warna Liturgi Tahun Gereja, Logo dan Artinya:


a. Adventus

Adventus merupakan masa penyadaran diri dan pertobatan.

Manusia yang jatuh ke dalam dosa mengharapkan perjanjian Allah tentang datangnya Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

Adventus juga bersifat eskhatologis yang menunjuk kepada kedatangan Kristus kembali.

Adventus dirayakan 4 minggu berturut-turut sebelum Natal.

Warna dasar : ungu muda

Warna jangkar : kuning

Lambang/logo : salib jangkar

Arti :

Salib jangkar ini, digunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di katakombe-katakombe.

Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus.

Di sini, lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian

akan kedatangan Kristus kembali yang kedua kalinya.

 

b. Natal.

Dirayakan pada setiap tanggal 25 dan 26 Desember. Dalam abad ke IV Natal diterima sebagai pesta kedatangan / kelahiran Kristus ke dunia.

Dalam dunia kekafiran tanggal 25 Desember dirayakan sebagai Dies Natalis Solis Invicti, hari kelahiran sesuatu yang baru (matahari).

Dengan menetapkan tanggal itu sebagai kelahiran Kristus Gereja mau menyatakan bahwa Terang yang benar bukanlah dari alam atau dunia dewa

melainkan Terang itu adalah Kristus, Juruselamat dunia yang datang dari Allah.

 

Warna dasar : putih

Lambang/logo : Palungan dan pelangi

Warna pelangi : merah, kuning, hijau

Palungan : kuning

Arti :

Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi seluruh isi dunia.

Setelah peristiwa air bah yang menunjuk pada bumi yang sudah penuh oleh dosa, maka Allah menghadirkan pelangi

sebagai tanda perjanjian-Nya dengan Nuh beserta seluruh keturunannya, lebih dari itu dengan semua manusia

dan makhluk hidup lainnya yang telah diciptakan-Nya.

Ia berjanji bahwa Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi ini (Kejadian 9).

Pelangi juga mengingatkan tentang kesungguhan Allah untuk memenuhi atau menggenapi jani-janji-Nya.

Palungan memberi arti pada pelawatan Allah kepada manusia, supaya mereka tidak binasa,

dimana Allah telah memberikan anak-Nya yang tunggal, yang lahir di Betlehem untuk memberikan hidup-Nya bagi manusia

supaya mereka tidak binasa (Yohanes 3:16).

Pelangi juga mau menyimbolkan tentang pembebasan / penebusan yang sekaligus telah diberikan lewat kelahiran Anak Allah tersebut

yang diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi terutama lebih menunjuk kepada semua orang dan seluruh ciptaan.

Pelangi dan palungan hendak mengungkapkan suatu tema besar tentang kasih dan kesetiaan Allah terhadap dunia ini.

 

c. Masa Natal – AkhirTahun – Tahun Baru

Akhir tahun dan tahun baru tidak terlepas dari natal yang dirayakan sebgai hari pemberian nama Yesus (Lukas 2 : 21).

Kedatangan Kristus adalah untuk memenuhi hukum Taurat. Warna dasar, lambang / logo sama dengan natal.

 

d. Epifania

Sebelum abad ke IV, hari Epifania dirayakan sebagai hari kelahiran Kristus kedunia yaitu pada tanggal 6  Januari.

Gereja Orthodoks masih mempertahankan tradisi tersebut sedangkan Gereja Katholik merayakannya sebagai hari Tiga Raja (Matius 2 : 4).

Gereja Protestan merayakannya sebagai hari penampakan kemuliaan Yesus setelah Ia dibaptis di Yordan (Matius 3 : 17)

Hari Minggu Epifania dirayakan pada hari Minggu terdekat dengan tanggal 6 Januari ditambah dengan6 minggu sesudah itu

yang diliputi dengan rasa syukur dan puji-pujian.

 

Warna dasar : hijau

Lambang/logo : bintang bersegi lima

Warna bintang : putih

Lingkatan : kuning

Arti :

Bintang bersegi lima ini lebih dikenal sebagai bintang Yakub, dalam hal ini menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (Bilangan 24 : 17).

Kemudian hari hal ini dimanifestasikan lewat kelahiran Yesus Kristus yang ditandai pula dengan munculnya / terbitnya bintang di Timur (Matius 2 : 1-2).

Bintang ini pula yang menunjuk pada penampakan kemuliaan Yesus Kristus bagi umat manusia.

 

e. Prapaskah/Sengsara

Masa ini dirayakan 7 minggu berturut-turut sebelum Paskah, Prapaskah merupakan masa penyadari diri dan pertobatan.

Manusia berdosa menerima anugerah keselamatan melalui kematian dan pengorbanan Kristus di salib

dan diundang untuk menerima kehidupan yang baru.

Logo Prapaskah

Warna dasar : ungu tua

Lambang/logo : Ikan (ICHTUS)

Warna pinggirikan dan huruf : kuning

Tulisan : Yesus Kristus Anak Allah Juruselamat.

Arti :

Tanda ini merupakan suatu rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan;

sehingga untuk menandai diri mereka sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus dipergunakan lambang ikan ini,

yang dalam bahasa Yunani ”IXEYS” (ichtus) yang berarti ikan,

tetapi secara hurufiah merupakan suatu singkatan dari Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat.

 

f. Jumat Agung

Jumat Agung dirayakan untuk memperingati kematian Yesus di salib, di Golghota.

Yesus rela mengorbankan tubuh-Nya untuk menyelamatkan manusia berdosa.

Logo Jumat Agung

Warna dasar : hitam

Lambang/logo : salib dan mahkota diri

Warna salib : putih

Mahkota duri : kuning

Arti :

Salib merupakan lambang yang sudah sangat dikenal untuk menunjuk pada penderitaan dan kematian Yesus,

bahkan tanda ini lebih sering dipakai untuk menunjuk pada kekristenan.

Salib dan mahkota duri di sini merupakan tanda lain bagi penderitaan Kristus,

yang hendak menyatakan bagaimana kejamnya perlakuan yang telah Ia terima sampai pada kematian-Nya di kayu salib karena dosa manusia.

Kemuliaan yang disaksikan lewat penderitaan.

 

g. Paskah

Paskah adalah hari raya yang mula-mula dirayakan dan merupakan unsur penting dalam tahun gereja.

Paskah dirayakan sebagai hari kebangkitan Kristus yang merupakan titik tolak iman orang percaya (1 Korintus 15 : 14).

Paskah dirayakan dalam kegembiraan dan sukacita.

 

 

Warna dasar : putih

Lambang/logo : bunga Lily

Warna bunga Lily : putih

Arti :

Bunga lily merupakan simbol dari hari Paskah dan kekekalan umbi-umbian dari bunga lily harus ditanam dan mati dahulu di dalam tanah,

baru kemudian dari padanya akan tumbuh suatu kehidupan baru.

Lewat Paskah orang telah menerima kehidupan baru yang diberikan lewat kematian dan penderitaan Kristus (bandingkan  Yohanes 12 : 34)

dan kehidupan baru itu sendiri adalah kehidupan yang berkaitan dengan hidup kekal.

 

h. Kenaikan Yesus ke Surga

Kristus diakui sebagi Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (1 Timotius 6 : 15).

Pesta ini dirayakan dengan kemeriahan dan kegembiraan.

Logo Kenaikan

Warna dasar : putih

Lambang/logo : salib dan mahkota kemuliaan

Warna mahkota : kuning

Warna salib : kuning

Arti :

Melalui penderitaan dan kematian Kristus, maka mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya,

kini digantikan dengan mahkota kemuliaan yang menyatakan kemuliaan yang kini dinampakkan lewat peristiwa kenaikan.

Barangsiapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati,

iapun akan mendapatkan mahkota kehidupan itu (bandingkan Filipi 2 : 11-19; Wahyu 2 : 10).

 

i. Pentakosta

Pentakosta artinya hari ke 50 sesudah Paskah yang dirayakan sebagai hari keturunan Roh Kudus.

Sejak abad ke III secara umum dirayakan oleh gereja.

Hari ini juga diperingati sebagai hari kelahiran Gereja, di mana melalui kuasa Roh Kudus Gereja dilengkapi

untuk melaksanakan tugas pengutusannya kepada bangsa-bangsa.

Logo Pentakosta

Warna dasar : merah

Lambang/logo : lidah-lidah api dan burung merpati

Warna merpati : putih perak

Lidah-lidah api pinggirnya : kuning

Arti :

Ke tujuh lidah api menyimbolkan ke tujuh suluh api yaitu ke tujuh roh Allah (Wahyu  4 : 5)

membentuk lingkaran yang menghadirkan kekekalan, keabadian.

Merpati yang menukik dan lidah api menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2 : 2-3).

 

j. Minggu Trinitatis

Hari Minggu Trinaitatis dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (Pentakosta I).

Ia merupakan hari minggu penutup siklus hari-hari raya besar.

Penyataan Allah dan kekudusan kekeesaan-Nya menjadi pusat penyembahan Jemaat. Jadi dirayakan untuk menyaksikan Allah yang esa.

 

Warna dasar : putih

Lambang/logo : Lingkaran segi tiga/triquetra

Warna lambangnya : merah

Arti :

Simbol ini merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan.

Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung, menyatakan kekekalan dari tritunggal tersebut.

Pada pusat dari lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol warisan dari tritunggal.

 

k. Minggu Pentakosta

Minggu Pentakosta dirayakan selama 26 minggu.

Masa ini disebut masa gereja berjuang. Ada yang menyatakan bahwa sesudah minggu Trinitatis sudah tidak ada lagi hari raya.

Sebenarnya masih ada yaitu hari Minggu, di mana melalui setiap hari Minggu,

gereja diingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangan hidup gereja.

Allah selalu beserta dengan gereja-Nya (Allah beserta kita) itulah perayaan yang besar dan yang penuh puji-pujian dan syukur.

Logo Pentakota

Warna dasar : hijau

Lambang/logo : burung merpati dengan ranting- ranting zaitun diparuhnya, perahu berlayar dan pelangi.

Warna pelangi : merah, kuning, hijau

Burung : putih

Ranting : pinggir putih

Tiang dan layar : putih (penuh)

Salib : hijau

Ombak : putih

Perahu : bergaris putih

Arti :

Pada mulanya dalam sejarah gereja, perahu merupakan simbol dari gereja.

Ide ini menjadi berarti bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganiayaan dan pergumulan,

ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan.

Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi.

Janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat.

Pelangi melambangkan kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, dalam hal ini gereja.

Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bandingkan Kejadian 8 :10-11)

yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan.

Jadi sekalipun gereja mengalami berbagai ancaman, goncangan dan cobaan, gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut.

 

Warna-warna liturgis itu secara internasional mengandung arti sebagai berikut:

  1. Warna putih artinya kebersihan, kesucian, kekudusan, kemeriahan, kedamaian, dan kesederhanaan.
  2. Warna merah artinya keperwiraan, keberanian, kesatria dan kepahlawanan.
  3. Warna ungu artinya pertobatan.
  4. Warna hijau artinya rasa syukur, terima kasih dan puji-pujian.
  5. Warna hitam artinya kematian, kedukaan.

2. Mimbar

Mimbar merupakan simbol dari tempat dimana Firman Allah diberitakan. Mimbar, meja tempat alat perjamuan, tempat baptisan merupakan simbol dasar iman Kristen. Dalam ibadah mereka menjadi pusat liturgi.

3. Salib

Salib merupakan simbol yang menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib dan sekaligus merupakan simbol kemenangan-Nya atas maut.

4. Bejana Baptisan

Bejana Baptisan merupakan simbol kehidupan. Dengan dibaptis, kita telah dibersihkan dari segala dosa dan kesalahan kita serta menjadi manusia yang memiliki hidup baru. Air menjadi simbol inti sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan (dari dosa, dari kuasa maut); dan menyimbolkan hidup dan mati bersama Kristus.

5. Alkitab

Merupakan simbol dari Firman Allah. Alkitab menjadi dasar semua kegiatan ibadah sebagaimana prinsip Protestan ”sola scriptura”. Alkitab diletakkan di mimbar dengan posisi yang dapat dilihat oleh jemaat.

6. Perlengkapan Perjamuan Kudus

Perlengkapan perjamuan kudus merupakan simbol perjanjian Allah dengan manusia yang telah ditebus dosanya.

7. Lilin (pada masa Adven)

Lilin hanya digunakan pada masa adven saja. Lilin pada masa adven adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua, dst.)

Simbol-simbol Ritual yang dapat dijumpai dalam ibadah GPIB

1. Penumpangan tangan pada saat berkat.

Berkat adalah tindakan simbolis dalam liturgi melalui kata-kata dan gerakan tubuh (misalnya angkat tangan atau tangan menyentuh kepala pada saat pemberkatan nikah) untuk menguatkan orang yang diberkati untuk perjalanan dan kehidupan yang akan datang dan menyimbolkan kekuatan, perlindungan dan bimbingan Allah yang akan menyertainya.

2. Duduk

Merupakan simbol untuk mendengarkan sesuatu.

3. Berdiri

Berdiri mengungkapkan sikap hormat. Petugas ibadah berdiri saat membaca Alkitab dan umat berdiri pada saat mendengarkan Injil.

B. Perangkat Penunjang Ibadah & Bangunan Gereja

Ruang ibadah merupakan sarana perjumpaan umat dengan Tuhan. Oleh karena itu, ruang ibadah perlu ditata sedemikian rupa agar menunjang ibadah. Pengertian penataan ruang ibadah mencakup penempatan perangkat dan peralatan ibadah, termasuk pembangunan gedung gereja. Gedung gereja sebaiknya dirancang sedemikian rupa, baik secara arsitektur, akustik, tata cahaya dan sirkulasi udara, agar menunjang ibadah umat. Demikian juga dengan penempatan peralatan musik, dan perangkat musik serta pelayan ibadah. Semuanya perlu ditata sedemikian rupa agar menunjang ibadah.

Contoh: tata ruang ibadah GPIB

1. Mimbar Pemberitaan Firman

2. Alat Sakramen

3. Mimbar kecil

4. Tempat persembahan

5. Penatua

6. Diaken

7. Alat musik

8. 8a. Prokantor

9. 8b. Kantoria

10. Pengumpul persembahan

11. Umat

 

Daftar Pustaka

  1. Hasil Persidangan Sinode XV GPIB tahun 1990 (Buku Ungu) Ibadah Kristen, 2004.
  2. Hildebrandt Markus, Jurnal STT INTIM Makassar: Penuntun Simbol-simbol
  3. Kumpulan Materi Bina Penatua dan Diaken tahun 2007
  4. Mandang Christina, Materi Semiloka Tata Ibadah, 2007
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.