Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Ibadah & Doa Materi 39 : Hari-hari Raya Gereja

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Materi 39 : Hari-hari Raya Gereja PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke – 39

Pokok Bahasan          : Ibadah dan Doa

Sub Pokok Bahasan    : Hari-Hari Raya Gereja

Tujuan Pembelajaran Khusus :

  1. Mengerti diadakannya Hari-hari Raya Gereja
  2. Merasakan dan menghayati tuntunan Allah yang dirayakan dalam kehidupan beriman.
  3. Mampu memiliki kepekaaan iman dalam upaya penghayatan makna tiap Hari-hari Raya Gereja dalam perayaan kehidupannya.


HARI HARI RAYA GEREJA


PENGANTAR

Merupakan kebiasaan umum seseorang merayakan hari ulang tahun kelahirannya. Meskipun hal itu dilakukan dengan berbagai cara tergantung kemampuan. Bagi semua yang terlibat dalam pesta (terutama yang berulang tahun), ‘diharapkan’ benar-benar berada dalam suasana lahir-batin yang bahagia. Mengapa diharapkan ? Sebab peristiwa pesta itu dipandang memiliki makna bagi perjalanan hidup seseorang untuk mencapai cita-citanya. Terkadang seseorang memiliki beberapa hari tertentu yang menurutnya patut dirayakan (keberhasilan belajar, kematian orang yang dikasihi, dlsb.).

Bangsa Indonesia juga memiliki berbagai peristiwa di masa lampau yang penting untuk diingatrayakan. Ambil salah satu contoh perayaan di negara kita, yakni peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Di sana semua rakyat Indonesia dari seluruh pelosok pedesaan hingga di pekotaan, di rumah dengan alam lingkungannya hingga di berbagai perkantoran berusaha mengungkapkan kegembiraannya dalam pesta kemeriahan yang bermakna. Kalau demikian, mereka merayakan hari ulang tahun kemerdekaan RI, tentunya bukan sekedar untuk peristiwa ulang tahunnya saja yang perlu dibuat meriah tanpa muatan makna, tetapi dari pesta yang disertakan warna pernik-pernik berbagai simbol 4 itu bukan hanya ‘berbicara’ soal informasi sejarah, melainkan mau memberi motivasi baru, dorongan, dan harapan bagi rakyat Indonesia.

Hampir sejalan dengan muatan orang melakukan perayaan di atas. Setiap agama juga memiliki berbagai peristiwa penting di masa lampau yang selanjutnya patut dan wajib diperingati pada hari-hari tertentu di masa kini. Ia (peritiwa itu) dipandang sangat menolong umatnya dalam menghayati hidup, memperteguh iman, dan setia dalam harapan.

 

PERAYAAN IMAN DAN GEREJA

Umat Israel memiliki sejumlah Hari Raya keagamaan,yang muncul seiring dengan perjalanan sejarah terbentuknya mereka sebagai umat dan bangsa. Meski ada perayaan yang kesannya tercampur terkait dengan perayaan nasional dengan keagamaan, misalnya perayaan Paskah ( Ibrani Pesah berarti: melewati ) 5. Namun demikian semua perayaan Israel tetap di tempatkan dalam suasana keagamaan, artinya tidak ada yang terlepas dengan keterlibatan TUHAN.

Dari beberapa perayaan keagaman Israel ada yang kini dirayakan ulang oleh Gereja, tentunya dengan muatan makna baru 6 . Di samping itu, Gereja pun memiliki sejumlah hari perayaan keagamaan yang semuanya memiliki dinilai penting 7 serta disikapi dengan sukacita dan hormat. Dengan banyaknya perayaan Gereja tentunya hal ini menjadikan hidup Gereja (umat Kristiani) berada dalam tradisi liturgi yang tidak putus dan dibungkus dengan aneka perayaan iman. Dengan kata lain pula, hidup Gereja adalah hidup dalam perayaan iman. Tradisi liturgi membawa umat memasuki penghayatan akan karya Allah dalam Kristus Yesus melalui tuntunan Roh Kudus. Tradisi Liturgi demikian, peristiwa peristiwa yang dirayakan disebut Tahun Gereja.

Di sana ( Tahun Gereja ) memiliki bimbingan bagi penghayatan iman agar seseorang tidak berada dalam kebosanan serta praktik ibadah dan penghayatan iman yang semua loncat-loncat 8 dan terpenggal-penggal. Tidak terpenggal-penggal dan membosankan, karena kesadaran peran Allah yang bersambut dengan peran manusia. Peran Allah dalam Kristus menjadi kesatuan yang sempurna. Peristiwa peristiwa perayaan Kristen dimulai dari masa Adven hingga Kenaikan; penampakan suci pasca kebangkitan hingga Kenaikan selanjutnya Pentakosta, disusul Minggu Tritunggal Mahakudus (Minggu pertama sesudah Pentakosta) sampai Minggu Kristus Raja (Minggu terakhir dalam tahun Gerejawi) – lebih luas bagian ini akan dibahas dalam  Materi 41 tentang “Simbol, Perangkat Penunjang Ibadah dan Bangunan Gereja”. Tetapi perayaan Gerejawi tidaklah berakhir di sini, seolah tidak ada lagi sukacita. Masa selanjutnya dalam Tahun Gereja, di sana Gereja tetap memiliki dan masih dalam suasana Minggu-minggu Perayaan Gereja. Dan masa itu disebut Minggu sesudah Pentakosta, yakni masa di mana hidup Gereja diingatkan adanya penyertaan Tuhan dalam perjuangan dengan pergumulannya. Dengan keyakinan itulah maka Gereja tetap dalam suasana perayaan iman yang besar dan penuh puji-pujian 9 .

 

HARI RAYA SEBAGAI PERAYAAN HIDUP

Sebagaimana hari-hari raya yang diperingati dalam waktu tertentu, Gereja pun menyambut hari Minggu sebagai hari raya. Perkataan ‘Minggu’ berasal dari bahasa Portugis, Dominggo, artinya: Tuhan. Perayaan tersebut terdorong atas kesadaran akan peristiwa kebangkitan Kristus. Bagi orang Kristen, hari itu dihormati sebagai ‘hari Tuhan’ (= Dominica; Latin), hari kemenangan Yesus atas maut; hari pertama (= Ahad; Ibrani) dalam pekan; awal ciptaan baru 10. Sejak zaman para Rasul dinyatakan sebagai Hari Tuhan (Kisah Para Rasul 20:7; 1 Korintus 16:2; Wahyu 1:10), karena pada hari itu Yesus bangkit dari antara orang mati. Inilah hari penebusan dikerjakan dengan sempurna. Dan para martir pernah menjawab kekaisaran Romawi yang melarang orang Kristen beribadah pada hari Minggu, katanya “Tanpa merayakan Hari Tuhan kami tidak dapat hidup”. Jadi hari itu pun semestinya terjadi dalam kemeriahan perayaan - liturgi. Pada hari itu orang Kristiani wajib ikut dalam perayaan iman. Sudah barang tentu memahami ‘wajib’ di sini bukan karena disuruh atau dipaksa. Pelaksanaan seuatu yang diwajibkan karena suruhan orang lain belum tentu membuat pelaku dalam keadaan gembira dan sukacita. Sama halnya siswa yang merasa dipaksa oleh gurunya mengikuti upacara pengibaran bendera pada tanggal 17 Agustus. Siswa ini berpikir, bahwa upacara itu adalah kerelaan, dan tidak boleh ‘diwajibkan’, biarkan datang dengan kesadarannya, jangan disuruh-suruh dan diancam dengan absen. Mungkin saja ada benarnya siswa itu, tetapi bagaimana memahami ‘wajib’ itu, dan siapa yang mewajibkannya, bagaimana pula kewajiban itu bisa muncul.

Bila seseorang dapat merasakan kehadiran dan peran Tuhan yang menyelamatkan dalam hidupnya, maka tanpa rasa berat ia mau bersyukur. Jadi terdorong oleh berbagai bentuk kasih dan setia rahmat-Nya maka terungkap pula hasrat untuk mengungkapkan berbagai bentuk rasa terima kasihnya dengan tulus, sukacita dan puji-pujian. Inilah ibadah. Dan hasrat itu muncul dari dalam dirinya sendiri, dengan demikian, dirinya sendirilah yang mangatakan wajib. Maka persekutuan ibadah umat pun menjadi persekutuan yang sejiwa, karena masing-masing berangkat dari pengalaman iman yang membahagiakan dalam hidupnya 11 .

Hal di atas mendorong kerinduan untuk mengungkapkan beribadah syukur. Tentulah ungkapan perayaan lahir batin. Artinya bahwa perayaan ibadah bukan hanya ungkapan rohaniah saja, melainkan totalitas penyembahan, sebagaimana secara total dan utuh Tuhan menghadirkan kebaikan-Nya di dalam dunia ini. Totalitas penyembahan tentulah tidak sebatas pada bentuk ibadah seremonial saja, melainkan kehadiran di tengah lingkungannya saat berjumpa dengan ciptaan lainnya, ia bersikap sebagai orang yang beribadah. Hal ini sejalan dengan Pemahaman Iman GPIB yang di awali dengan pokok Keselamatan, Pokok tersebut menjadi titik berangkat spiritualitas baru yang merayakan kebaikan Tuhan. Atau dengan pemahaman lain, pokok tersebut mengandung makna, bahwa kasih Allah telah dicurahkan mendahului kehendak manusia, yang pada gilirannya mengajak manusia masuk dalam perayaan hidup. Dengan kata lain, Tuhanlah yang telah menciptakan ibadah, dan Ia pun menciptakan manusia untuk beribadah.

 

HARI RAYA DAN SPIRITUALITAS.

Boleh dimaknai secara sederhana ‘spiritualitas’ adalah totalitas hidup yang dipenuhi semangat baru, yang pada gilirannya mempengaruhi daya dan gaya hidup. Semangat baru itu muncul akibat mengalami perjumpaan dengan sesuatu yang berarti. Tetapi dalam konteks ibadah, tentu setelah ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan (misalnya melalui doa-puasa/retreat 12 ), atau penghayatan mendalam (kontemplatif/meditative). Tetapi lebih pada atmosfir (suasana) Hari Raya Gerejawi, kehadiran seseorang di dalamnya dengan semangat penuh, ingin merayakan Tuhan yang telah hadir. Dan semangat tersebut nyatanya pun tidak berakhir di sini; kegembiraan iman dalam perayaan terus dan makin memberi motivasi baru yang diyakini namun mau meyakinkan dunia akan kehadiran-Nya.

 

(bagian ini hanya untuk Pengajar )

Tuntunan Pemahaman dalam diskusi.

  1. Katekisan mengungkapkan perasaan mereka ketika berada dalam (salah satu) perayaan Gereja. Lalu mengapa perasaan itu muncul?
  2. Berikan kesempatan kepada katekisan, menjelaskan bagaimana caranya agar dapat menghayati (salah satu) Hari Raya Gereja dan Ibadah Hari Minggu.

 

Pustaka Anjuran Bagi Pengajar

  1. Abineno, J.L.Ch., Unsur-unsur Liturgi, Jakarta, BPK Gunung Mulia. 2001.
  2. ---------------------., Ibadah Jemaat Dalam Abad-abad Pertengahan, Jakarta, BPK Gunung Mulia,
  3. ---------------------., Gereja dan Ibadah Gereja, Jakarta, BPK Gunung Mulia.
  4. Majelis Sinode GPIB, Hasil Persidangan Sinode XV, Buku II, Jakarta, Majelis Sinode GPIB, 1990.
  5. Martasudjita, E., Pengantar Liturgi: Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta, Kanisius, 1999.
  6. Rachman, Rasid, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2001.
  7. Rowley, H.H., Ibadah Israel Kuno, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2002.
  8. van Olst, E.H., Alkitab dan Liturgi, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1999.
  9. White, James F., Pengantar Ibadah Kristen, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2002
  10. Windhu, I. Marsana, Mengenal Tahun Liturgi, Yogyakarta, Kanisius, 1997.

 

Catatan lain;

Materi ini untuk Pengajar , tetapi dapat diberikan bagi Katekisan tanpa catatan footnote.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


4 Kesadaran akan keterbatasan manusia untuk menangkap sesuatu baik yang abstrak atau adikodrati, sesuatu untuk mengungkapkan perasaan, menghantar pada perjumpaan dan masuk dalam suasana diperlukanlah simbol. Di mana-mana manusia memerlukan symbol, bahkan lebih jauh dimengerti, bahwa simbol menolong makna hidup. Simbol dapat menolong untuk menunjuk pada sesuatu yang hendak dihampiri, dirasakan atau dihayati. tetapi bukan ia yang menjadi tujuan, sebab alih-alih hanyalah alat bantu. Simbol juga diperlukan dalam kegiatan peribadatan, sebab bisa saja tanpanya ibadat menjadi sulit untuk bermakna, kaku atau kering tak berarti.

5 Perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Di sana umat Israel memahaminya sebagai tindakan penyelamatan TUHAN bagi umat-Nya, tetapi sekaligus menjadikan mereka sebagai bani yang kemudian memiliki kedaulatan penuh layaknya suatu bangsa yang merdeka.

6 Di antaranya Hari Raya Paskah, oleh Jemaat Purba, Paskah merupakan perayaan kebangkitan Yesus. Kristus juga disebut “ anak domba Paskah” (1 Korintus 5:7), dan “ Anak Domba yang disembelih” (Wahyu 5:6), bandingkan dengan “ korban Paskah” atau anak domba Paskah dalam Keluaran 12:23-28; 43-51. Juga perayaan Pentakosta (dari bahasa Yunani, ‘kelima puluh’), mulanya oleh orang Israel kuno dirayakan (setelah Paskah) sebagai pesta syukur panen gandum. Dikenal juga dengan sebutan “ hari raya Tujuh Minggu” (Ulangan16:10); selanjutnya dalam Gereja Purba juga dikaitkan dengan turunnya Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2).

7 Bandingkan Naskah Pemahaman Iman GPIB tentang Keselamatan, pokok I, alinea kedua, “Kami mengaku – Bahwa Yesus Kristus telah mati, bangkit dan naik ke surga…”, kata-kata yang dicetak miring juga mengandung penjelasan tuntunan, bahwa GPIB tidak menekankan salah satunya sehingga dijadikan titik pangkal iman, dengan kata lain terkait dengan konteks tulisan ini, GPIB tidak menempatkan perayaan yang satu lebih utama dari pada yang lain, misalnya Natal lebih penting daripada Paskah, atau sebaliknya dengan berbagai penjelasan yang seolah alkitabiah/teologis tapi sebenarnya dibuat-buat.

8 Beberapa orang keberatan bila mendapat ucapan dan doa ulang tahun bila belum waktunya sebagaimana tanggal lahir, banyak alasan keberatannya. Juga akan repot membimbing penghayatann iman bila tidak teratur. Misalnya demikian kisahnya, akan kerepotan seorang pendeta membuat khotbah Advent dalam IHM (Ibadah Hari Minggu) di jemaat ia bertugas, sementara pada hari Sabtu sebelumnya jemaat sudah merayakan Natal, dan di sana juga pendeta yang sama membawakan khotbah Natal. Di hari itu umat sudah menyanyikan “Alam Raya Berkumandang” (KJ.101), tetapi keesokan harinya dalam IHM, umat kembali menyanyikan “Kau Yang Lama  Dinantikan” (KJ.76), atau “Jurus’lamat, Datanglah” (KJ.82).

9 Lihat Ketetapan PS GPIB XV 1990 tentang TATA DAN SARANA IBADAH, bagian“Warna Liturgis Tahun Gereja, Logo dan Artinya”.

10 Sekilas sejarah pemberlakuan ‘Hari Tuhan’ (Latin : Dominica) diberlakukan amat ketat untuk menjaga kekudusannya, sehingga sejak abad ke-4, orang tidak boleh melakukan kerja kasar; untuk selanjutnya larangan tersebut ditekankan oleh beberapa kaisar Romawi (sejak tahun 324), serta gereja sejak Abad Pertengahan. Dan menarik juga, bahwa pengetatan itu pun dilakukan oleh Kalvinisme, hingga beberapa undang-undang negara, lebih lanjut pada pemberlakuan sistem kerja shift dalam industri modern. Lihat  A. Heuken, Ensiklopedi Gereja II, Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, 1992, s.v.”Hari Minggu Misi”

11 Bagian ini dan alinea berikutnya, telah ditekankan secara luas dalam Pertemuan/Materi ke-36, tentang “Ibadah Persekutuan Orang Percaya”.

12 Telah dibahas lebih jauh dalam Pertemuan/Materi ke-37, tentang “Doa, Puasa dan Retreat”.

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.