Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169

Warning: mktime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 117

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 169
Alkitab http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab Thu, 23 Oct 2014 14:26:45 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management in-id Materi 4 : Sejarah Penulisan dan Penyusunan Alkitab http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/271-materi-4-sejarah-penulisan-alkitab http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/271-materi-4-sejarah-penulisan-alkitab Materi ke – 4

Pokok Bahasan             : Alkitab

Sub pokok bahasan        : Sejarah penulisan dan penyusunan Alkitab


SEJARAH PENULISAN DAN PENYUSUNAN ALKITAB


Pendahuluan

Alkitab yang kita pegang sekarang adalah buku orang Kristen yang berintikan Firman Allah. Firman Allah yang menjelaskan tentang 2 sisi yaitu 1. Tentang Allah dan kebenaran-Nya. 2. Tentang manusia dan keberadaannya. Allah dan kebenaran-Nya serta manusia dan keberadaannya coba dipaparkan oleh Alkitab dalam berbagai peristiwa yang terjadi dalam kaitan dengan bangsa Israel dan dalam kaitan dengan karya penyelamatan Yesus Kristus. Peristiwa-peristiwa yang terjadi ini berada dalam batasan waktu.

Peristiwa peristiwa itu terungkap dalam 66 kitab besar – kecil, ke 66 kitab ini dibagi lagi menurut isinya yaitu 39 kitab Perjanjian Lama (PL : Taurat, Kitab Sejarah, Kitab Nabi–nabi) dan 27 kitab Perjanjian Baru (4 Kitab Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat). Pembagian menjadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilihat dalam fokus percakapan tentang Tuhan Yesus Kristus yang adalah Firman Allah menjadi manusia. Perjanjian Lama banyak berbicara tentang karya Allah yang mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus melalui bangsa Israel. Hal ini dapat dilihat dalam ayat – ayat yang berbicara tentang nubuatan tentang Yesus Kristus (misalnya : Kejadian, Yesaya, Mikha, Zakharia). Sedangkan Perjanjian Baru berceritera tentang karya-karya langsung Yesus Kristus dan karya-karya Yesus melalui para murid-Nya, hal ini dapat dibaca secara jelas dalam 4 kitab Injil dan Kisah Para Rasul.

Setiap kitab dari Alkitab mempunyai berita dan ceritera dengan latar belakang dan waktu tertentu, setiap kitab menceriterakan tentang Allah dan kebenaran-Nya serta manusia dan keberadaannya dalam waktu tertentu dan di tempat tertentu, atau dengan kata lain Allah dan dan kebenaran-Nya serta manusia dan keberadaannya terjadi dalam sejarah.

Pelajaran katekisasi saat ini membawa supaya kita dapat memahami isi berita dalam setiap kitab dengan benar, oleh sebab itu kita perlu mengetahui tentang bagaimana penulisan Alkitab dan bagaimana Alkitab bisa memiliki susunan kitab seperti sekarang ini.


Sejarah Penulisan Alkitab

Allah dan Kebenaran-Nya serta manusia dan keberadaannya disampaikan secara lisan melalui manusia-manusia dan terjadi dalam peristiwa-peristiwa nyata kemanusiaan dalam lingkup bangsa Israel dari generasi yang satu ke generasi yang lain. Dalam perjalanan waktu, pernyataan lisan itu kemudian ditulis oleh orang-orang yang dipakai secara khusus oleh Allah. Dan ini terungkap dalam naskah-naskah yang ditemukan. naskah yang berbicara tentang peristiwa dalam perjanjian lama dan perjanjian baru .

Penyampaian berita secara lisan, membuat penangkapan / penyerapan berita menjadi tidak sama, akibatnya muncullah berbagai versi ceritera Alkitab, yang berdampak pada penulisan Alkitab (contoh : Kejadian 1 : 1 - 24 & Kejadian 2 : 5 - 25). Berdasarkan perjalanan waktu yang panjang, maka disadari bahwa naskah asli telah lama rusak dan semuanya sudah musnah, hal ini disebabkan karena naskah asli itu ditulis di atas papirus yang gampang rusak. Tetapi dalam perjalanan waktu naskah asli Alkitab ini telah disalin. Dan salinan ini sudah sangat lama, salinan salinan tua dari kitab – kitab Alkitab.

Berbicara tentang salinan salinan tua dari kitab = kitab Alkitab, pada abad ke 2 sebelum masehi, para cendekiawan Yahudi (yakni yang disebut para Masoret ) telah mencocokan dengan sangat teliti berbagai salinan yang ada pada waktu itu. hasil pekerjaan para masoret mencocokkan itu ialah suatu naskah yang lazim disebut ‘naskah masoret’. Menurut keyakinan para masoret, naskah masoret yang paling cocok dengan naskah-naskah asli. Salinan-salinan ‘naskah Masoret’ itu telah ditemukan pula tertulis diatas perkamen yang berasal dari tahun 916 sesudah Masehi. Salinan itulah yang diterima dan yang dipakai sebagai dasar atau naskah induk untuk terbitan kitab-kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani dan untuk terjemahan-terjemahan Alkitab.

Naskah-naskah PL yang masih ada dan menjadi dasar naskah sekarang berasal dari abad ke 6. Naskah-naskah itu terbukti hanya sedikit berbeda dengan naskah dari tahun 250 Sebelum Masehi (misalnya Dekalog) yang ditemukan tahun 1948 di Qumran. Dalam perkembangan sejarah dunia,  tahun 1948, ditemukanlah dekat laut mati di gua Qumran dan Muraba’at di tanah Palestina naskah tulisan tangan dari perjanjian lama yang tertulis di atas papirus dan kulit. Naskah tulisan tangan itu berasal dari abad ke 2 Sebelum Masehi. Jadi 1000 tahun lebih tua dari pada naskah-naskah perkamen yang tertua yang telah ditemukan sampai sekarang ini dan setelah diselidiki, ternyata bahwa tulisan-tulisan, yang termuat dalam gulungan-gulungan papyrus dan perkamen itu, banyak sekali yang cocok dengan naskah Masoret, dan dengan demikian semakin diteguhkanlah kebenaran naskah masoret.

Sejak abad ke 4 Sesudah Masehi dipergunakanlah perkamen sebagai bahan untuk menulis, tetapi sebelum itu orang menggunakan papirus. Perkamen lebih awet dari pada papirus. Perkamen adalah kulit binatang yang sudah diolah, makanya dapat tahan lama berabad-abad lamanya. tetapi papirus dari hati batang papirus. Papyrus adalah tumbuh-tumbuhan sebagai teberau atau gelagah, yang banyak tumbuh di dekat sungai Nil di Mesir. Papirus tidak dapat tahan berlama-lama.

Naskah tulisan asli Perjanjian Baru disebut juga áutoghapha’ sudah tidak ada lagi. Tetapi kita mempunyai banyak salinannya, ada 4100 salinan yang sudah tua. Salinan tertua yang tertulis di atas perkamen. Misalnya naskah yang disebut codex Vaticanus, codex Sinnaiticus (2 codex ini merupakan seluruh naskah seluruh Alkitab dari abad ke 4), codex Alexandrinus (disusun oleh ahli dari Alexandria Mesir sebelum tahun 200 (karena papirus 52 diadakan kurang lebih pada tahun 125 dan papirus 66 kurang lebih pada tahun 200, naskah salinan ini pendek dan paling dekat dengan teks asli kitab PB) berasal dari abad ke 4.

Naskah pada papyrus yang ditemukan kembali dan berasal dari abad 1 dan abad yang ke 2 membenarkan naskah-naskah abad ke 4 dan abad ke 5. Gulungan papirus yang ditemukan dan yang berbicara mengenai perjanjian lama ternyata juga dalam gulungan itu berisi Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. tahun 250 – 130 sebelum Masehi kitab ini diterjemahkan oleh 72 orang Yahudi (70 = septuaginta) ke dalam bahasa Yunani. Kecuali kitab Ezra dan Daniel yang sebagiannya ditulis dalam bahasa Aram. Perjanjian baru pada umumnya ditulis dalam bahasa Yunani umum / Yunani koine


Sejarah Penyusunan Alkitab

Alkitab yang kita pakai sekarang ini adalah Alkitab yang berisi kitab – kitab kanonik artinya kitab – kitab yang diakui sebagai kitab – kitab yang berisi Firman Allah. Tersusunnya Alkitab menjadi bentuk sekarang ini merupakan satu proses panjang dan membutuhkan waktu yang lama serta merupakan pergumulan banyak orang. Kitab-kitab dalam PL yang diakui sebagai kitab-kitab yang berisi Firman Allah ini, dihimpun oleh orang orang Yahudi dan kitab-kitab dalam PB dikumpulkan oleh orang – orang Kristen mula – mula selama abad pertama hingga abad ke-3. Pada zaman Perjanjian Lama (mulai zaman Musa) orang-orang Yahudi menggunakan 2 macam cara utama untuk memutuskan apakah kitab benar–benar adalah tulisan yang suci.

  1. Apakah kitab itu ditulis oleh seorang Nabi atau seorang yang mempunyai karunia bernubuat.
  2. Cara penerimaan dan pengunaan PL oleh bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi memandang bahwa PL adalah kitab suci.

Proses pembentukan kanon Perjanjian Baru dilihat dalam kaitan dengan para rasul. Orang yang telah hidup dengan Kristus dan yang telah melihat Kristus dan yang telah berbicara dengan Kristus sesudah kebangkitan-Nya, mempunyai wewenang dan kekuatan yang unik. Agar sebuah kitab dalam PB bisa dipandang asli betul harus diakui oleh anggota gereja mula-mula sebagai benar-benar rasuli, agar dianggap rasuli, maka harus ditulis langsung oleh rasul atau yang bertalian erat dengan para rasul.

Daftar kitab Perjanjian Lama ditetapkan di Yamnia:  pada tahun 100. Dan daftar kitab Perjanjian Baru ditetapkan pada tahun 400.

Penterjemahan PB, sebagian atau seluruhnya, sudah dimulai pada abad ke 2 Sesudah Masehi, dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin (Vetera Antiqua), naskah ini disebut vulgata dan kemudian menjadi terjemahan resmi.


Daftar bacaan buku :

  1. Ensiklopedia Gereja I, II, A.Heuken SJ
  2. Apakah Alkitab benar, David Robert ord & Robert. B Coote
  3. Dapatkah Alkitab dipercaya, Fritz Ridenour
  4. Aku percaya, J. Verkuyl
  5. Pemahaman Iman GPIB
  6. Materi bina penatua diaken 2007 - 2012



========

Situs terkait  : Sejarah Alkitab Indonesia

Sejarah Penerjemahan Alkitab Dalam Bahasa Melayu/Indonesia

Lihat video   : Overview of the Bible

]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 11:48:08 +0000
Materi 5 : Fungsi dan Wibawa Alkitab dalam Gereja http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/272-materi-5-fungsi-dan-wibawa-alkitab-dalam-gereja http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/272-materi-5-fungsi-dan-wibawa-alkitab-dalam-gereja Materi ke - 5

Pokok Bahasan                : Alkitab

Sub Pokok Bahasan        : Fungsi dan Wibawa Alkitab dalam Gereja


FUNGSI DAN WIBAWA ALKITAB DALAM GEREJA


Hal penting dan mendasar yang kerap menjadi pertanyaan tentang Alkitab adalah: ”apakah fungsi Alkitab dan bagaimana memahami wibawa Alkitab dalam kehidupan orang beriman di masa kini yang terkesan sudah kurang menghargai dan tidak lagi memberi tempat bagi Alkitab?” Kemajuan teknologi dan perkembangan pola pikir manusia dan masyarakat telah menggiring cara pandang banyak orang, khususnya orang Kristen terhadap Alkitab menjadi lebih kritis. Dan bahkan bukan hanya kritis, tetapi cenderung mengarah pada sekularisasi Alkitab, sehingga Alkitab dipandang hanya sebagai salah satu dokumen penting untuk diteliti dan tidak lagi diberi ruang akan nilai sakral dan makna transendensi dari Alkitab itu sendiri sebagai Firman Tuhan. Hal ini semakin terasa dalam kehidupan orang Kristen terjadi pengelompokkan sikap dan perilaku orang Kristen terhadap Alkitab, yakni: Kelompok yang pertama adalah kelompok yang tetap mempertahankan sikap dan perilaku mereka memperlakukan Alkitab sebagai ”yang suci” dan ”penuh kuasa” oleh karena itu Alkitab cenderung disakralkan dan bahkan ”dikeramatkan”, sehingga pada waktu meninggal pun, Alkitab turut dimasukkan dalam peti jenazah. Kelompok kedua adalah kelompok yang tetap memberikan penghargaan khusus terhadap Alkitab sebagai ”Kitab suci” namun tidak membelenggu diri dengan sikap berlebihan dengan mensakralkan Alkitab itu; Alkitab dipahami sebagai ”Pedoman utama” dalam hidup beriman. Kelompok yang ketiga adalah kelompok yang lebih ekstrim, yaitu kelompok yang memperlakukan Alkitab tidak berbeda dengan buku-buku lainnya, ia menjadi penting ketika diperlukan dan ia juga tidak perlu diberi penghargaan khusus sebagai ”buku suci”. Dari tiga kelompok orang yang mengapresiasikan Alkitab dalam kehidupan mereka maka tentu akan mempertegas pentingnya pertanyaan di atas, apa fungsi dan wibawa Alkitab dalam gereja?

Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, maka pertama-tama perlu untuk diketahui dan dipahami rumusan Pemahaman Iman GPIB tentang Firman Allah. Pokok Pemahaman Iman GPIB tentang Firman Allah, khususnya pada alinea ke-3 dan ke-4 yang mengatakan bahwa:

Bahwa dengan terang Roh Kudus, persekutuan orang percaya menetapkan tulisan-tulisan yang memberitakan perbuatan Allah serta respon manusia terhadap tindakan Allah pada kurun waktu tertentu.

Bahwa dengan tuntunan Roh Kudus para penulis Alkitab menceritakan dan memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam bentuk tulisan pada suatu kurun waktu tertentu dan juga respons manusia terhadap tindakan-tindakan Allah pada kurun waktu tertentu 3

Dari rumusan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa: pertama, ditegaskan bahwa Alkitab merupakan penyataan Allah yang disampaikan melalui kehadiran dan keberadaan orang (-orang) tertentu yang dipanggil dan diutus untuk menyatakan segala kehendak, rancangan dan perjanjian-Nya (bandingkan Pelajaran/Materi sebelumnya). Dan penyataan Allah ini dituangkan dalam bentuk pengalaman iman yang dipelihara melalui tradisi lisan (pengajaran) dan diteruskan dalam bentuk tulisan dengan beraneka ragam jenis tulisan. Namun, di atas segala proses tersebut, jelas bahwa semuanya dilakukan dengan terang Roh Kudus. Alkitab memang dituliskan oleh manusia, namun proses yang berlangsung bukan semata karena kemauan dan kemampuan manusia, tetapi karena campur tangan Allah  melalui Roh-Nya yang Kudus. Maksudnya adalah bahwa Alkitab sebagai pernyataan tertulis yang berisikan berita tentang karya Allah bagi umat-Nya atau juga bagi dunia, diterima dipelihara dan diwariskan hanya dan oleh otoritas ilahi melalui keberadaan umat-Nya. Dengan demikian, wibawa Alkitab sebagai berita ilahi tidak berkurang oleh perkembangan jaman, Alkitab tetap memiliki wibawa ilahi karena karya-karya Allah yang diberitakan tidak hanya mempunyai makna penting bagi orang pada jamannya tetapi juga mempunyai makna penting bagi kehidupan umat selanjutnya, yaitu jemaat dan gereja. Alkitab berintikan Firman Tuhan tidak akan dapat dibuat sebagaimana ada dan kita wariskan hingga saat ini tidak akan ada tanpa kuasa dan tuntunan Roh Allah. Jadi Alkitab ada bukan karena manusianya, melainkan karena Allah berkenan melalui Roh-Nya menuntun, memampukan dan memakai orang-orang tertentu dan pada kurun waktu tertentu (2 Timotius 3 : 16 : ”Segala tulisan yang diilhamkan Allah....”). Dan oleh karena itu, Alkitab mempunyai wibawa yang tidak dapat digantikan oleh siapapun, Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa:

17 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5 :17-19)

Alkitab memiliki wibawa sebagai KITAB SUCI bukan karena labelisasi oleh sekelompok orang tertentu, tetapi Alkitab adalah KITAB SUCI karena di dalamnya disaksikan karya dan perbuatan Allah, serta hukum dan kehendak-Nya yang dinyatakan oleh Allah melalui orang dan jaman tertentu. Oleh karena itu, wibawa Alkitab tidak pernah memudar seiring dengan majunya perkembangan jaman; sebaliknya, wibawa Alkitab tetap lestari karena Alkitab menyatakan / memberitakan karya dan perbuatan Allah yang mengubah dan membaharui melalui dan atas kehidupan umat yang pada jamannya mengalami karya dan perbuatan itu, juga atas kehidupan umat selanjutnya yang menghayati karya dan perbuatan Allah itu sendiri.

Dengan memahami bahwa wibawa Alkitab bukanlah hasil labelisasi dari sekelompok orang yang di kemudian hari, melainkan karena substansi berita yang dinyatakan oleh umat yang mengalami karya dan perbuatan Allah, maka dapat dipahami juga bahwa Alkitab memiliki fungsi yang sangat besar. Dalam Surat 2 Timotius 3 :15-17, Rasul Paulus memberikan penegasan akan fungsi dari Alkitab, yaitu:

  1. Alkitab adalah sumber utama yang menunutun seseorang untuk mengetahui, memahami dan mengenal bahkan menerima keselamatan dalam Kristus Yesus (ayat 15). Dengan Alkitab, iman seseorang mengalami pertumbuhan, bahkan kedewasaan untuk menghayati pengakuan percayanya;
  2. Alkitab mempunyai fungsi edukatif (pengajaran dan mendidik orang dalam kebenaran), fungsi korektif (menyatakan kesalahan), fungsi reflektif-kritis (memperbaiki kelakuan) – (ayat 16); dan
  3. Alkitab mempunyai fungsi untuk membangun citra dan kualitas diri serta kehidupan pribadi dan persekutuan orang percaya (ayat 17).

Alkitab mempunyai fungsi dalam hubungan dengan kehidupan orang percaya dan pertumbuhan iman dari orang percaya. Sehingga Alkitab mempunyai fungsi sentral dan dominan dalam kehidupan pribadi maupun umat. Hal ini menjadi penting, karena jika orang Kristen atau jemaat telah salah memahami fungsi Alkitab bagi mereka maka bukan tidak mungkin nilai fungsi Alkitab akan mengalami degradasi yang luar biasa, bahwa Alkitab akan disepelekan. Alkitab memiliki fungsi sentral dan dominan, karena hidup iman seseorang dan persekutuan ditumbuh-kembangkan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Alkitab. Seseorang makin mengenal Allah, karya Keselamatan-Nya serta menghayati makna hidup berimannya tidak dapat lepas dari tuntunan Alkitab.

Fungsi Alkitab selanjutnya adalah dalam kaitannya dengan pembangunan tubuh Kristus (bandingkan Kisah Para Rasul 2; Kisah Para Rasul 4; 1 Korintus 12; 1 Korintus 14; Efesus 4). Yang dimaksudkan di sini adalah Alkitab berada pada posisi sentral bukan hanya dalam hal kehidupan iman personal atau komunal, tetapi juga posisi sentral itu berlaku, menerangi segala keputusan atau kebijakan yang diambil dalam menata dan membangun persekutuan orang percaya / jemaat. Segala keputusan dan kebijakan gerejawi tidak boleh lepas dari dasar Alkitab. Alkitab sebagai pernyataan kehendak Allah semestinya menjadi dasar pijak dan memayungi segala keputusan dan kebijakan gerejawi baik yang berlaku ke dalam mau pun ke luar, baik untuk tingkat di jemaat maupun di tingkat sinodal. Fungsi ini teramat penting, karena di sinilah letak perbedaan fundamental antara gereja dengan organisasi lainnya; antara keputusan dan kebijakan gerejawi dengan keputusan dan kebijakan organisasi sekuler lainnya. Hal ini juga menjadi penting dan mesti dihayati oleh setiap pribadi dalam gereja terutama para pelayan dan pejabatnya, segala keputusan dan kebijakan gerejawi adalah keputusan dan kebijakan yang mencerminkan citra dan kualitas wibawa Alkitab sebagai pernyataan Allah bagi umat maupun bagi dunia.

Dengan memahami akan fungsi dan wibawa Alkitab dalam gereja, maka peserta katekisasi hendaknya :

  1. Memelihara ketekunan dan kesungguhan dalam membaca dan menghayati pesan Alkitab
  2. Membangun kesetiaan untuk menerapkan penghayatan pesan Alkitab dalam hidup imannya secara pribadi
  3. Membangun dan melatih partisipasi aktif dalam kehidupan berjemaat dengan dasar pijak pada kebenaran Alkitabiah

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3 Majelis Sinode GPIB, Pemahaman Iman, Jakarta: GPIB, 2007, halaman 9

 

Daftar Bacaan Buku :

  1. Majelis Sinode GPIB, Bahan Pelajaran Katekisasi Buku I, Jakarta: GPIB,
  2. Majelis Sinode GPIB, Bahan pelajaran Katekisasi Buku II, Jakarta: GPIB,
  3. Majelis Sinode GPIB, Pemahaman Iman, Jakarta: GPIB, 2007
  4. R. Soedarmo, Makna Ungkapan-ungkapan Asing dalam Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004
  5. R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005
  6. Fritz Ridenour, Dapatkah Alkitab dipercaya ?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
  7. David Robert Ord & Robert B. Coote, Apakah Alkitab benar ? Memahami Kebenaran Alkitab pada Masa Kini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.
  8. David L. Baker, Satu Alkitab Dua Perjanjian: Suatu Studi tentang hubungan Teologis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung  Mulia, 2001
  9. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: suatu Kompedium Singkat, Jakarta: BPK  Gunung Mulia, 2001.
]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 12:22:08 +0000
Materi 6 : Struktur Pembagian Alkitab Perjanjian Lama http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/273-materi-6-struktur-pembagian-alkitab-perjanjian-lama http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/273-materi-6-struktur-pembagian-alkitab-perjanjian-lama Materi ke – 6

Pokok Bahasan          : Alkitab

Sub Pokok Bahasan  : Perjanjian Lama ( 1 )

 

STRUKTUR PEMBAGIAN ALKITAB PL.

 

Pengantar

Mempelajari Struktur Perjanjian Lama menjadi sesuatu yang penting dalam pertumbuhan rohani peserta katekisasi sebabnya adalah dengan mempelajari struktur Alkitab peserta katekisasi dapat membaca Alkitab secara tepat dan mengenal Karya Keselamatan Allah dalam sejarah. Selain itu salah satu cara bertumbuh dalam iman adalah dengan membaca Alkitab. Namun, banyak remaja Kristen hanya membaca Alkitab dan jarang pertimbangan strukturnya. Sehingga hanya membaca layaknya buku biasa tanpa pahami konsep Alkitab. Dan hal ini tidak boleh terjadi pada kita.

Cobalah buka daftar isi Alkitab ! Kita akan menemukan dua rangkaian kata yang merupakan judul daftar kitab-kitab, yakni bagian pertama Perjanjian Lama dan bagian kedua Perjanjian baru. Apa yang dimaksud dengan kata Perjanjian? Kata perjanjian mengandung arti Janji, yang menyangkut dua pihak. Pihak pertamanya adalah Allah dan pihak kedua adalah umat-Nya. Allah yang pertama-tama melangkah mengadakan perjanjian, dan pihak kedua hanya menerima apa yang Allah janjikan dan ajukan sebagai syarat. Pihak kedua tidak  mengajukan syarat apa-apa, karena ia tergantung sepenuhnya pada pihak pertama demi kelangsungan hidupnya dan masa depannya. Perjanjian dengan Allah itu terjadi sebelum Tuhan Yesus datang (Kejadian 17 : 1 -14, Keluaran 20 : 1 -17, Ulangan 5 : 1 - 22), supaya umat sadar bahwa mereka hanya boleh berhubungan dengan Allah yang telah memilih mereka dan telah mengadakan perjanjian dengan mereka serta menyelamatkan mereka. Namun kenyataannya umat dan pemimpin-pemimpin umat kerap kali melanggar perjanjian. Kesaksian Yeremia 31 : 31 dan 32 mengungkapkan keadaan yang tidak diharapkan itu. Dan saat itupun telah dibayangkan akan adanya suatu perjanjian yang baru. Sehubungan dengan hal itu Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa darah-Nya merupakan tanda perjanjian baru (Lukas 22 : 20, bandingkan I Korintus 11 : 25).Dengan demikian perjanjian yang diadakan sebelumnya dapat disebut Perjanjian yang Lama dan lewat darah Tuhan kita Yesus Kristus umat mengalami tanda Perjanjian yang baru. Ringkasnya dapat dikatakan, bahwa semua kitab yang menceritakan pengalaman umat Allah sebelum kedatangan Tuhan Yesus dikelompokkan dalam satu bagian yang disebut Perjanjian Lama, dan pengalaman-pengalaman umat yang baru sesudah kedatangan Tuhan Yesus dikumpulkan ke dalam bagian, yang disebut Perjanjian Baru. Penempatan keduanya tidak berarti kita dapat membaca kedua Perjanjian itu secara terpisah. Kedua-duanya berkaitan erat. Perjanjian Baru merupakan kelanjutan apa yang tertera dalam Perjanjian Lama, atau apa yang masih merupakan bayangan di Perjanjian Lama kelak terwujud di Perjanjian Baru.

SUSUNAN PERJANJIAN LAMA

Merupakan hal yang sangat penting bagi kita mengetahui susunan dalam mempelajari setiap buku. Demikian juga dalam Alkitab. Dalam hal ini perlu juga diketahui suatu istilah, yaitu Kanon ”, yang berarti ”susunan kitab-kitab dalam Alkitab” atau ”daftar isi Alkitab”. Ada dua kanon Perjanjian Lama yang penting, yakni ”Kanon Ibrani” dan ”Kanon Yunani”. Isinya sama, hanya susunan kitabnya berbeda. Susunannya adalah sebagi berikut :

KANON IBRANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA IBRANI ”TENAK

I. TAURAT (bahasa Ibrani : tora)

  1. Kejadian
  2. Keluaran
  3. Imamat
  4. Bilangan
  5. Ulangan

II. NABI-NABI (bahasa Ibrani : nevi'im)

1. Nabi-nabi yang dahulu

  1. Yosua
  2. Hakim-hakim
  3. Samuel
  4. Raja-raja
  5. Yesaya
  6. Yeremia
  7. Yehezkiel

2. Nabi-nabi yang kemudian (dua belas nabi)

  1. Hosea
  2. Yoel
  3. Amos
  4. Obaja
  5. Yunus
  6. Mikha
  7. Nahum,
  8. Habakuk
  9. Zefanya
  10. Hagai
  11. Zakharia
  12. Maleakhi

III. KITAB-KITAB (bahasa Ibrani : ketuvim)

  1. Mazmur
  2. Amsal
  3. Ayub
  4. Kidung Agung
  5. Rut
  6. Ratapan
  7. Pengkhotbah
  8. Ester
  9. Daniel
  10. Ezra-Nehemia
  11. Tawarikh
Daftar Kitab-kitab suci seperti terdapat dalam Alkitab Ibrani ditetapkan demikian oleh ahli-ahli Kitab Yahudi di Palestina menjelang tarikh Masehi. Sampai sekarang daftar ini dituruti oleh orang-orang Yahudi dan (dalam Perjanjian Lama) oleh gereja-gereja Reformasi, walaupun dengan perbedaan sedikit dalam tempat  masing-masing kitab. Daftar di atas hanya memuat kitab-kitab yang memakai bahasa Ibrani (beberapa bagian memakai bahasa Aram yakni Ezra dan Nehemia), sehingga tidak terdapat yang dikarang dalam bahasa Yunani (atau hanya sampai kepada kita dalam terjemahan Yunaninya) dan tambahan-tambahan dalam bahasa Yunani pada kitab Ester dan Daniel. Dan kalau dihitung daftar kitab kitab yang ada dalam Alkitab kita berjumlah 66 Kitab ; 39 Kitab Perjanjian Lama dan 27 Kitab dalam Perjanjian Baru. Hal itu yang lazim digunakan di kalangan Gereja Protestan. Sedang Gereja Roma Katolik mengenal daftar yang lebih Panjang, karena ada tambahan 10 kitab lagi (kitab Deuterokanonika) yakni; Tobit, urutan Yudit, Tambahan-tambahan pada kitab Ester, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, Surat dari nabi Yeremia, tambahan-tambahan dari kitab Daniel, kitab Makabe yang pertama dan Kitab Makabe yang ke dua. Dalam Kitab umat Katolik (LAI) menempatkan dalam daftar antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menjadi bagian yang kedua setelah Perjanjian Lama. Gereja Luteran juga mengenal daftar deuterokanonik itu, tetapi menempatkannya sesudah daftar kitab-kitab Perjanjian Baru. Sebabnya adalah karena Agama Yahudi dan gereja Protestan hanya menerima kitab-kitab dari Perjanjian Lama Ibrani sebagai Firman Allah, sedang gereja Katolik Romawi menerima juga beberapa kitab dari Septuaginta. Akibatnya, kitab-kitab Deuterokanonika dianggap sebagai buku bacaan saja oleh gereja Protestan, sedangkan oleh gereja Katolik Romawi diakui sebagai Kitab Suci. Daftar kitab-kitab ditetapkan pada suatu sidang para ahli dan rohaniawan dalam Synode Jamnia (100 sesudah Kristus) untuk daftar Perjanjian Lama dan untuk daftar Perjanjian Baru pada tahun 400 sesudah Kristus.

Sekarang kita lihat susunan Alkitab untuk Kanon Yunani atau Alkitab berbahasa Yunani dan juga dipakai untuk Alkitab dalam bahasa Indonesia. Dalam Kanon Yunani beberapa Alkitab yang terdiri atas lebih dari satu bagian dihitung sesuai dengan jumlah bagian tersebut, misalnya Kitab Samuel menjadi 1 Samuel dan 2 Samuel. Hal ini mengakibatkan jumlah kitab dalam kanon Yunani menjadi 39, yang dibagi atas empat kelompok sebagai berikut :

KANON YUNANI= SUSUNAN ALKITAB BAHASA YUNANI ”SEPTUAGINTA

KANON YUNANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA INDONESIA

1. TAURAT

    1. Kejadian
    2. Keluaran
    3. Imamat
    4. Bilangan
    5. Ulangan

2. SEJARAH

(a) Sejarah yang Pertama

  1. Yosua
  2. Rut
  3. Hakim-hakim
  4. 1 Samuel
  5. 2 Samuel
  6. 1 Raja-raja
  7. 2 Raja-raja

(b) Sejarah yang kedua

  1. 1 Tawarikh
  2. 2 Tawarikh
  3. Ezra
  4. Nehemia
  5. Ester

3. SASTRA

    1. Ayub
    2. Mazmur
    3. Amsal
    4. Pengkhotbah
    5. Kidung Agung

4. NUBUAT

(a) Nabi-nabi besar

  1. Yesaya
  2. Yeremia
  3. Ratapan
  4. Yehezkiel
  5. Daniel

b) Nabi-nabi kecil

  1. Hosea
  2. Yoel
  3. Amos
  4. Obaja
  5. Yunus
  6. Mikha
  7. Nahum
  8. Habakuk
  9. Zefanya
  10. Hagai
  11. Zakharia
  12. Maleakhi

Jika kita membandingkan kanon Ibrani dengan kanon Yunani, terlihat bahwa urutan kitab-kitab adalah sama dalam kedua kanon untuk kelompok kitab yang merupakan dasar Perjanjian lama, yakni ”Taurat”. Kitab-kitab yang lain disusun menjadi tiga kelompok, sesuai dengan jenis masing-masing kitab, yaitu sejarah, sastra dan nubuat. ”Nabi-nabi yang terdahulu” sebenarnya mengandung lebih banyak sejarah dari pada nubuat, maka digolongkan sebagai sejarah. Sedangkan ”nabi-nabi yang kemudian” kebanyakan terdiri atas nubuat-nubuat dan digolongkan dalam bagian terakhir sebagai nubuat. Kelompok ”Kitab-kitab” dalam kanon Yunani dibagi menurut jenis masing-masing : Rut, Ester, Ezra, Nehemia dan Tawarikh berjenis Sejarah ; Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung dan Pengkhotbah dikumpulkan sebagai tulisan-tulisan sastra; dan Ratapan serta Daniel digolongkan sebagai kitab Nubuat.

Kanon Yunanilah yang dikenal orang Kristen pada umumnya, karena diikuti oleh Alkitab dalam bahasa Latin, Inggris, Indonesia dan hampir semua terjemahan Kristen. Dan kita dapat membayangkan Perjanjian Lama bagai sebuah perpustakaan kecil yang terdiri atas 39 Kitab pada rak sesuai pembagian kanon Yunani (Septuaginta). Membaca dan tekun serta teliti membaca kitab Perjanjian Lama akan membuat kita kagum bahkan terkagum-kagum pada Karya Keselamatan Allah bagi kita umat-Nya.

 

Daftar Kepustakaan :

  1. Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Terjemahan ini diterima dan diakui oleh Konferensi Waligereja Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta 1999.
  2. Bahan Pelajaran Katekisasi Buku I dan II, GPIB, Majelis Sinode GPIB
  3. Materi Bina Penatua dan Diaken Periode 2007-2012, GPIB, Majelis Sinode GPIB
  4. David L.Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2008.
  5. Dr.J.Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009
  6. Dr.C.Groenen OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama,  Penerbit Kanisius, 1979

************************************************************************

 

Link Wikipedia :

Kitab-kitab dalam Alkitab

Perjanjian Lama
Taurat

Kitab sejarah

Kitab puisi

Nabi-nabi besar

Nabi-nabi kecil
HoseaYoëlAmosObajaYunusMikhaNahumHabakukZefanyaHagaiZakhariaMaleakhi

Perjanjian Baru
Injil

Kisah Para Rasul

Surat-surat rasul

Wahyu
]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 12:26:48 +0000
Materi 7 : Mengenal Tema-tema Perjanjian Lama http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/274-materi-7-mengenal-tema-tema-perjanjian-lama http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/274-materi-7-mengenal-tema-tema-perjanjian-lama Materi ke - 7

Pokok Bahasan          : ALKITAB

Sub Pokok Bahasan  : PERJANJIAN LAMA ( 2 )

 

MENGENAL TEMA-TEMA PERJANJIAN LAMA


Pengantar

Mempelajari Perjanjian Baru tanpa pengetahuan dasar dalam Perjanjian Lama adalah laksana mendengarkan hanya irama bagian akhir dari sebuah simphoni yang besar. Jika kita tidak mulai pada permulaannya, kita tidak akan merasakan perkembangan tema-tema itu dan berbagai variasinya yang halus. Agar dapat mengindahkan sepenuhnya musik Alkitab, kita harus mendengarkan irama awalnya.

Melalui uraian pelajaran tentang struktur dalam Perjanjian Lama di pertemuan yang lalu, telah sedikit kita temukan rancangan karya keselamatan Allah yang berlaku bagi kehidupan umat-Nya. Dan saat ini disediakan bagi kita seperangkat catatan mengenai berbagai tema penting di Perjanjian Lama. Dengan membiasakan diri mendengarkan tema-tema ini, kita akan diarahkan menuju pelajaran yang akan memperkaya kerohanian dan meningkatkan pengertian kita akan Kasih Allah yang menyelamatkan. Uraian dari tema-tema Perjanjian Lama ini gambarannya bagaikan sebuah simponi. Ada uraian pokok-pokok sentral, tetapi tidak ada satu titik yang dapat dianggap sebagai pusatnya. Itu berarti kita melihat kesatuan dari suatu keseluruhan. Jadi tema-tema atau pokok-pokok yang akan diuraikan semuanya saling melengkapi dan bersangkut-paut. Dan akhirnya kita akan menemukan Karya keselamatan Allah yang terbukti dan terus menyelamatkan dengan menghadirkan Kerajaan-Nya dulu,  kini dan masa depan.

Tema-Tema dalam Perjanjian Lama

Menguraikan tema-tema Alkitab dalam pemaparan saat ini membuat kita menemukan ’benang merah’ di dalam Alkitab dan akhirnya kita dapat menyadari bahwa Alkitab ternyata masih berbicara kepada kita pembaca-pembacanya masa kini.

Adapun uraian tema-tema besar dalam Perjanjian Lama adalah sebagai berikut; Allah dan manusia, Allah yang bertindak lewat peristiwa keluaran / eksodus, hukum Taurat dan ikatan perjanjian, hikmat, pembuangan dan pemeliharaan,  hari Tuhan dan ciptaan baru.

Allah dan Manusia :

Kisah penciptaan dalam Kejadian 1 mengundang kita untuk memandang dunia ini sebagai hasil pekerjaan Allah Pencipta yang mengundang kita bersukacita melihat kebaikan dari apa yang diciptakan-Nya. Dalam kerangka rencana Sang Pencipta, manusia menempati  kedudukan yang khas. Diungkapkan bahwa manusia diciptakan ”Menurut rupa dan gambar Allah”, artinya manusia berada dalam hubungan pribadi yang bertanggung-jawab dengan Tuhan.

Dengan latar belakang ini, Alkitab memulai kisahnya mengenai perjumpaan Allah dengan manusia di dalam sejarah. Namun, apabila kita mulai dengan Allah sang Pencipta, kita tidak sementara berpikir bahwa Alkitab dimulai dengan spekulasi mengenai penciptaan dunia ini. Itu berarti bahwa apa yang hendak dikatakan Alkitab mengenai Allah bersumber pada beberapa rentetan peristiwa di dalam sejarah manusia. Dalam peristiwa itu Allah berhadapan dengan manusia.

”Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau ke luar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Keluaran 20 : 2)

Pokok ini mendapatkan tempat yang utama di dalam Perjanjian Lama daripada kepercayaan pada Allah sang Pencipta. Namun bila kita ingin memperhatikan atau memahami kisah tindakan Allah dalam sejarah manusia, maka barangkali sebaiknya kita mulai dengan kisah tindakan Allah dan manusia, sebab hanya di bawah terang inilah makna kisah tindakan Allah dapat menjadi jelas bagi kita.

Alkitab berbicara mengenai Allah sang Pencipta:

”Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah...” (Ibrani 11 : 3)

Bahwa dunia ini tidak terjadi secara kebetulan ada. Keberadaannya berasal dari kuasa Allah yang kreatif. Alkitab menggunakan beberapa ungkapan untuk menguraikan hubungan Tuhan dengan alam semesta. (Ayub 38 : 4 - 6; bandingkan  Mazmur 104 : 5). Kalimat ”Pada mulanya Allah menciptakan (bara) langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Bagian ini adalah himne (madah), bukan teori ilmiah. Sehingga tidak untuk dipertentangkan. Menurut Kejadian 1, dunia ini berada sebagai ungkapan kehendak dari Allah yang mahakuasa. Sejak mulanya Allah telah berfirman, dan dengan Firman-Nya segala yang semula tidak ada menjadi ada. Dan Allah menilai apa yang dijadikannya itu baik (Kejadian 1:4,10,12,17,25) malah sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Wujud dari kelengkapan hidup itu adalah taman Eden (Kejadian 2:8-17).

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa Tuhan-lah yang menjadikan segala sesuatu dan Ia adalah Pencipta yang Esa. Ia memberikan kepada manusia untuk menikmati segala kelengkapan itu yakni suatu suasana aman, tentram dan sejahtera. Dan di dalamnya Allah memberikan batasan dan tatanannya. Dan benar bahwa sejak awal mula tidak ada apa yang disebut kebebasan mutlak, apalagi kebebasan untuk merebut kedaulatan dan kewenangan Allah. Ketika manusia melanggar hal itu yakni batasan yang di buat Allah, manusia dikenai tindakan yang tegas dari Allah : ia diusir dari taman Eden (Kejadian 3:23-24). Kembali terbaca berfirmanlah Tuhan Allah...... (Kejadian 3:22). Manusia harus taat kepada yang Allah tata dan dimintai bertanggung jawab atas apa yang ia buat (Kejadian 3:9-12). Dan karena dinilai bersalah maka tidak bisa tidak tindakan Allah terjadi (Kejadian 3: 13,14,16,17). Di sinilah dapat kita saksikan kebebasan dan tanggung jawab adalah dua sisi kemanusiaan yang sudah ada sejak awal mulanya. Manusia diciptakan untuk hidup dalam hubungan pribadi yang mesra dengan Allah, serta mengusahakan dan memelihara alam semesta dan mengembangkan hubungan baik dan penuh kasih dengan sesama. Sampai disini Alkitab menjabarkan drama besar mengenai Allah dan Manusia dalam panggung sejarah dunia.

Allah yang bertindak :

Membaca Perjanjian Lama secara keseluruhan akan membuat kita menemukan karya dan tindakan Allah di dalam setiap peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

  1. Orang-orang Ibrani menganggap bahwa nenek moyang mereka yang menggembara, Abraham, datang dari Mesopotamia untuk menjawab panggilan Allah. Dalam anggapan ini kita dapat melihat ciri khas kesaksian Alkitab – prakarsa berada pada pihak Tuhan.
  2. Yang menjadi pusat dalam pengajaran Perjanjian Lama adalah tema Keluaran, yaitu mengenai pembebasan budak-budak Ibrani dari Mesir pada permulaan abad ke-13 Sebelum Masehi. Hal ini diproklamasikan sebagai karya besar Allah yang menyelamatkan dan memilih suatu umat bagi diri-Nya sendiri. Nama Ibrani untuk TUHAN, YHWH, menekankan pada hakekat Allah yang dinamis dan kreatif. Pentingnya tema Keluaran ini dilukiskan dalam ibadat dan perilaku sehari-hari.Allah menjadi pusat ibadat orang Israel. Dan perilaku yang dikehendaki dari seorang warga Israel adalah kepatuhan sebagai suatu jawaban yang penuh syukur kepada Allah yang telah melakukan karya-karya besar bagi umat-Nya. Dasa titah misalnya, dimulai dengan menyinggung kisah Keluaran. Allah dalam perjanjian lama bukan hanya sekedar definisi melainkan Allah dipahami lewat tindakan-Nya yang aktif dinamis dan nyata dalam peristiwa-peristiwa sejarah dalam keberadaan-Nya yang tak terbatas dan kekal. (Yosua 24:2-13) Hal itu adalah sebagai berikut; 2000 Sebelum Masehi, bagian utara lembah Mesopotamia direbut dan didiami oleh suku-suku Semit yang oleh orang-orang Babilonia disebut ”Amori”. Dan setelah ditelusuri Abraham berasal dari salah satu kota-kota orang Amori, Haran. Firman Tuhan datang kepada Abram (Kejadian 12:1-3) dan Abram serta keluarganya memenuhi panggilan Tuhan. Allahlah yang mengambil prakarsa. Ia bersabda pada orang tertentu dan waktu tertentu. Allah meminta kepada Manusia untuk memenuhi kehendak-Nya dan berjalan dalam janji-Nya. Dalam proses perjalanan waktu mereka menjumpai kesenangan dan mengalami nasib buruk mereka diperlakukan sebagai budak. Beban penderitaan semakin buruk dan amat berat. Lagi-lagi Allah mengambil prakarsa. Ia memanggil Musa, dialah yang dipilih sebagai alat dan melalui Musa pembebasan itu dilaksanakan. Musa membawa keluar bangsa Israel dari Mesir dari Kekuasaan Firaun. Pertolongan Tuhan nyata. Dengan demikian Karya dan janji Allah nyata dalam sejarah.

Hukum Taurat dan Ikatan Perjanjian;

Musa adalah orang yang dikenal sebagai orang yang dipilih Allah untuk menyampaikan kesepuluh Firman. (Keluaran 20:1-17, Ulangan 5:1-22). Firman itu merupakan intisari Taurat, yang mengandung apa yang dikehendaki Tuhan, untuk dilakukan setiap orang yang telah menerima perjanjianNya. Perjanjian itu juga meliputi segala perbuatan yang akan Tuhan lakukan sebagai wujud hubungan yang erat dengan umat, dan tersurat di dalam apa yang umat harus lakukan sebagiai tanda ketaatannya kepada Tuhan. (Keluaran 34:10-25). Ketaatan yang dikehendaki Tuhan harus dilakukan umatNya. Ketaatan itu dilakukan setelah Tuhan menyelamatkan umatNya. Akte, tata dan taat adalah wujud ikatan Perjanjian itu. Dimana Akte dan tata adalah prakarsa Tuhan sedangkan yang ketiga yakni taat adalah wujud sikap umat terhadap Tuhan-Nya. Peristiwa dari perbudakan di Mesir dan peristiwa pembuangan di Babel merupakan tonggak sejarah menyangkut akta keselamatan dan pemulihan yang Tuhan lakukan terhadap umat-Nya karena ikatan perjanjian. (Yeremia 31:33) AKU AKAN MEJADI ALLAH MEREKA DAN MEREKA AKAN MENJADI UMATKU. Terungkap bahwa isi perjanjian itu adalah Taurat. Lewat memberlakukan titah dan perintah Allah maka identitas umat dapat menjadi kesaksian dan dengan demikian Karya dan perbuatan Allah dinyatakan Kuasa-Nya.

Hikmat

Perkembangan Gagasan Tentang Hikmat. Kepustakaan Perjanjian Lama mengenai hikmat ialah bentuk sastra yang umum dikenal pada daerah Kuno di Timur Dekat. Kesusastraannya meliputi amsal dan nasihat, renungan-renungan panjang mengenai kehidupan (Pengkhotbah), dan percakapan-percakapan mengenai problem hidup (Ayub). Pokok-pokok pikirannya tercermin dalam kata Ibrani Hokmah dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Kata-kata sejenis biasa diterjemahkan dengan ”Pengertian” dan ”kebijaksanaan”.Dan pada dasarnya hikmat adalah seni yang sangat praktis untuk trampil dan sukses dalam hidup. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani hidup (Amsal 1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal.(1 Raja-raja 3:9,12). Jika upacara keagamaan adalah bentuk ibadah di dalam bait suci atau kemah pertemuan, maka hikmat adalah jiwa ibadah yang diluaskan sampai ke rumah dan pasar. Gagasan yang lebih tua dari agama Israel adalah hikmat berasal dari Allah. Dan manusia sebagai penerima hikmat sangat disadari memiliki keterbatasan walaupun ia telah merasa telah berada sebaik-baiknya dalam hidupnya. Orang yang benar-benar bijak adalah orang yang mengerti akan hal ini. Dan kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati (Amsal 18:12) dan mereka tidak merasa terganggu oleh keterbatasan ini. Namun meski hikmat mengandung keterbatasan karena manusia juga terbatas, namun penggunaan hikmat tetap memberi kita pengharapan (Amsal 8). Amsal mencapai puncaknya dalam pencaian hikmat oleh manusia dengan hidup berkenan kepada Tuhan. Di sinilah kita melihat bahwa apa yang dapat disebut panggilan kepada keselamatan terjadi dan bila kita tidak menghiraukan maka akan menuju maut atau kebinasaan.

Pembuangan dan Pemulihan

Pembuangan yang dialami umat tidaklah berarti tamatlah riwayat umat. Perjanjian Baru ke dalam hati umat di Pembuangan justru adalah awal pemulihannya. Yehezkiel, Ezra dan Nehemia, raja Koresy dan Arthasasta dipakai oleh Allah untuk menyatakan kuasa Firman yakni Akta dan sekaligus perbuatan-Nya. ”Aku Tuhan, yang mengatakannya dan akan membuatnya (Yehezkiel 36:36).. serta pengakuan ” .. Oleh karena Tangan Tuhan, Allah-Nya, melindungi dia (Ezra 7:6, Nehemia 2:8)” Nubuat bahwa orang Israel yang terbuang akan Tuhan kumpulkan kembali benar-benar menjadi kenyataan (Yesaya 11:12,56:8). Firman dan Akta menyatu.. terbukti dan menyelamatkan.

Hari Tuhan dan ciptaan Baru : Yom Yahwe = Hari Tuhan

Ungkapan itu diterjemahkan sebagai saat dan waktu Tuhan bertindak. Sifat tindakan itu bisa menyelamatkan (Keluaran 12:40-42), bisa juga menghukum (Yeremia 15:59), bisa juga memenuhi janji yang sudah berabad-abad sebelumnya (Lukas 2:11, Mikha 5:1-2, Yesaya 9:5, 7:14) Waktu adalah proses yang berlangsung dalam kurun waktu dulu, kini dan akan datang. Dalam proses Penciptaan, perjalanan kehidupan umat Allah dan peristiwa lahirnya Anak Manusia dan pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Pemulihan adalah suatu ciptaan baru, sama seperti yang dialami Nuh. Terjadi sesuatu yang baru oleh Akta Tuhan yang menyelamatkan, dengan menyelamatkan sisa orang Israel yang setia yang mengecap pembaharuan yang diadakan Tuhan. Dalam bahasa Paulus ; Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17), karena akta pendamaian yang Allah buat dengan perantaraan Kristus (2 Korintus 5:18) bukan saja untuk manusia tetapi juga untuk dunia (2 Korintus  5:19). Pemulihan itu berwujud pendamaian, ketika hubungan antara umat dipulihkan oleh Akta Tuhan sendiri. Pemulihan itu terjadi tidak saja lewat pengembalian sisa-sisa umat Israel dari Pembuangan, tetapi juga menjangkau Akhir Zaman dimana terdapat ketentraman, kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan (Yesaya 65:17-25, 66:22; bandingkan Wahyu 21, 2 Petrus 3:13, sedangkan di Yesaya 11:6-10 dikaitkan dengan seseorang yang penuh Roh Tuhan, yang akan menghakimi dengan keadilan (Yesaya 11:1-5).

Kesimpulan

Dengan demikian dapat kita saksikan bahwa begitu Allah mengucapkan Firman-Nya, begitu pula kejadian dimulai sebagai peristiwa, dan pada saat itu pula sejarah dimulai. Dari titik awal sejarah ke titik lainnya, peristiwa demi peristiwa terjadi dari angkatan ke angkatan terjadi sebagai wujud nyata dari Firman-Nya. Melalui orang-orang yang Dia pilih dari berbagai zaman, Ia menyatakan bahwa Ia tetap ada. Oleh sebab itu Ia menyebut diri-Nya ; Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dan dalam perjalanan sejarah, pada zaman yang ditetapkan (Yesaya 9:5, Mikha 5:1) Yesus Kristus, Mesias yang disebut Firman (Yohanes 1:1), hadir sebagai wujud janji Allah, yang mengawali zaman baru dengan Perjanjian yang baru (Yeremia 31:31). Melalui sengsara derita sampai kematiaan-Nya di atas kayu salib (1 Petrus 2:21-24), kehadiran Yesus di pentas sejarah dunia tenyata adalah satu-satunya jalan pendamaian (2 Korintus 5:18). Dia sajalah yang mengucapkan kata-kata ; Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup... (Yohanes 14:6).

 

Daftar kepustakaan ;

  1. Pemahaman Iman GPIB
  2. Materi Bina Penatua dan diaken Periode 2007 – 2012, Majelis Sinode GPIB
  3. Pdt.O.E.Ch.Wuwungan, D.Th. Bina Warga bunga rampai Pembinaan Warga Gereja, BPK Gunung Mulia, 1994.
  4. David L Baker, Mari Mengenal Perjanjian lama, BPK Gunung Mulia, 2008
  5. William Dyrness, Tema-tema dalam Theologia Perjanjian Lama, Penerbit Gandum Mas, 2009
  6. Robert Davidson, Alkitab berbicara, BPK Gunung Mulia, 2001.

********************************************************************************

Link Wikipedia :

Kitab-kitab dalam Alkitab

Perjanjian Lama
Taurat

Kitab sejarah

Kitab puisi

Nabi-nabi besar

Nabi-nabi kecil
HoseaYoëlAmosObajaYunusMikhaNahumHabakukZefanyaHagaiZakhariaMaleakhi

Perjanjian Baru
Injil

Kisah Para Rasul

Surat-surat rasul

Wahyu
]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 12:54:27 +0000
Materi 8 : Kanon Perjanjian Baru http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/275-materi-8-kanon-perjanjian-baru http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/275-materi-8-kanon-perjanjian-baru Materi ke - 8

KANON PERJANJIAN BARU

 

Alkitab sebagai Kitab Suci Kristen terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama kita disebut Perjanjian Lama (disingkat PL), yang kita terima atau warisi dari orang Yahudi, terdiri dari 39 (tiga puluh sembilan) kitab dan sebagian besar ditulis dalam bahasa Ibrani. PL adalah Kitab Suci orang Yahudi. Bagian kedua disebut Perjanjian Baru (PB), yang khas Kristen, terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) kitab dan ditulis dalam bahasa Yunani.

Beberapa puluh tahun sesudah naiknya Yesus ke surga, mulai bermunculan tulisan-tulisan mengenai kehidupan dan perbuatan Yesus (yang kemudian membentuk kitab-kitab Injil), tulisan mengenai kehidupan dan perbuatan para rasul (Kisah Para Rasul), tulisan yang berisikan nubuat tentang masa depan Gereja (Wahyu) serta surat-surat berisi pengajaran yang ditujukan entah kepada jemaat tertentu atau keseluruhan Gereja, entah kepada perorangan (Filemon, Titus, Timotius). Dari tulisan-tulisan itu segera dipilih dan dikhususkan sejumlah tertentu, yang kemudian menjadi 27 (dua puluh tujuh) kitab-kitab PB. Jadi PB bukan satu kitab, melainkan suatu kumpulan kitab-kitab, suatu perpustakaan kecil. Semua kitab-kitab PB berbicara tentang Yesus Kristus, karya-Nya dan ajaran-ajaran-Nya. Meskipun PB berpusat pada Yesus Kristus, namun di dalamnya terdapat juga hal-hal mengenai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yakni jemaat Kristen mula-mula dan hal-hal yang mereka hadapi. Kitab-kitab PB tidak sama ciri-coraknya; mereka berbeda satu dengan yang lain. Susunan ke-27 kitab-kitab PB – seperti yang sekarang kita jumpai dalam Alkitab – disusun menurut urutan tertentu, bukan menurut waktu penulisannya. Artinya, kitab yang pertama (Matius) dalam PB tidak menunjukkan bahwa ditulis paling dahulu dan merupakan kitab PB yang paling tua.

1. Injil - injil

PB dibuka dengan empat kitab-kitab yang disebut “Injil”. Kata “Injil” berasal dari bahasa Yunani euanggelion, yang berarti “kabar baik” atau “berita kesukaan.” Kitab-kitab ini hendak memberitakan “kabar baik,” yaitu mengenai Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil PB adalah Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes. Isinya sebagian besar berupa cerita-cerita mengenai hidup Yesus, karya-Nya, ajaran-ajaran-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya. Semua cerita-cerita dalam kitab-kitab Injil berakhir pada cerita tentang penampakan diri Yesus sesudah kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Karena iman Kristen berpusat pada Yesus Kristus, wajarlah kitab-kitab Injil (yang berisi cerita-cerita mengenai Yesus) ditempatkan pada urutan pertama dalam PB. Injil yang dianggap paling tua adalah Injil Matius. Injil Markus dianggap ditulis sesudah Injil Matius, maka ditempatkan pada urutan kedua. Injil Lukas menyusul Injil Markus, dan terakhir Yohanes. Jadi para penyusun kitab-kitab PB mengurutkan kitab-kitab Injil berdasarkan urutan waktu. Namun sekarang ini para ahli Kitab Suci umumnya menganggap Injil Markus adalah yang tertua dari keempat kitab-kitab Injil itu.

2. Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul berisi kisah mengenai apa yang terjadi setelah Yesus dimuliakan, naik ke surga. Ciri-coraknya hampir mirip dengan kitab Injil. Di dalamnya kita membaca cerita-cerita tentang munculnya jemaat Kristen mula-mula, kehidupannya dan penghambatan yang dihadapinya. Disebut kisah para “rasul”, sebab di dalam cerita-cerita Kisah Para Rasul ditampilkan tokoh-tokoh rasul yang memainkan peranan dalam kehidupan jemaat mula-mula, khususnya rasul Petrus dan rasul Paulus. Kisah Para Rasul sebenarnya merupakan jilid kedua dari Injil Lukas (lihat Lukas 1:1; Kisah Para Rasul 1:1). Namun dalam urutan yang sekarang, Kisah Para Rasul terpisah dari Injil Lukas oleh Injil Yohanes. Kisah Para rasul berakhir dengan cerita mengenai rasul Paulus dalam tahanan di kota Roma.

3. Surat-surat

Sesudah kitab Kisah Para Rasul, kita berjumpa dengan sejumlah kitab yang ciri-coraknya sangat berbeda dari kelima kitab-kitab PB yang terdahulu. Kitab kitab ini tidak berisi cerita atau kisah, tetapi lebih berupa anjuran, nasihat atau wejangan, yang lazim disebut “surat” rasuli (yang ditulis oleh rasul atau murid rasul). Sebagian memang berupa surat, namun ada juga yang isinya sebenarnya adalah risalah, khotbah atau kumpulan petuah. Ada yang panjang sekali, tetapi ada juga yang amat pendek.

a. Surat-surat Paulus. Yang paling banyak dalam kelompok surat-surat ini adalah surat-surat tulisan rasul Paulus (ada 14 surat). Surat-surat Paulus diurut sesuai dengan alamatnya. Surat-surat kepada jemaat ditempatkan lebih dahulu. Surat-surat kepada jemaat-jemaat diurut dari yang paling panjang (Roma) hingga yang paling pendek (2 Tesalonika). Jadi urutan itu tidak berdasarkan pada waktu penulisan. Sesudah surat-surat kepada jemaat, barulah surat-surat kepada pribadi-pribadi tertentu, yang juga diurut sesuai panjangnya. Lazimnya surat-surat Paulus dibedakan: surat-surat besar (Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia); surat-surat dari penjara (Efesus, Filipp, Kolose, Filemon) karena di dalamnya disebut bahwa ia mengirimnya dari dalam penjara; dan, surat-surat pastoral (1 & 2 Timotius, Titus), karena berbicara mengenai soal pastoral (penggembalaan) dan/atau pastor (gembala) jemaat. Surat Ibrani ditempatkan dalam urutan paling akhir dalam kelompok surat-surat Paulus, meski surat ini cukup panjang. Mengapa? Ini dikarenakan orang masih ragu apakah surat Ibrani ditulis oleh rasul Paulus. Di dalam surat Ibrani tidak disebutkan siapa yang menjadi penulis atau pengirim surat itu.

b. Surat-surat Katolik (Am). Sesudah kelompok surat-surat Paulus, ada 7 (tujuh) surat lain. Ketujuh surat-surat itu lazim disebut “surat-surat katolik” atau “surat-surat am,” artinya umum. Surat-surat ini tidak dialamatkan kepada jemaat atau pribadi tertentu, tetapi kepada sejumlah (1 Petrus) atau pada umum (1 Yohanes), tanpa menyebut alamat yang dituju (Yakobus, 2 Petrus, Yudas). Hanya 2 Yohanes  yang dialamatkan kepada tertentu (Yang tidak disebutkan namanya) dan 3 Yohanes kepada orang tertentu.

4. Wahyu

Kitab Wahyu Yohanes ditempatkan terakhir dalam susunan kitab-kitab PB. Kitab ini mempunyai ciri-corak yang lain lagi. Meski kitab ini nampak sebagai surat, namun sebenarnya merupakan kumpulan penglihatan mengenai kehidupan jemaat Kristen dan dunia seanteronya. Kitab ini mengarahkan pandangan jemaat ke masa depan, masa terakhir dari sejarah. Pantaslah kitab ini ditempatkan pada urutan terakhir dari susunan PB, bahkan dari seluruh susunan Alkitab (PL & PB). Kitab Wahyu menjadi penutup dari sejarah penyelamatan dalam Alkitab.

 

*******************************************************************************

 

Link Wikipedia :

Kitab-kitab dalam Alkitab

Perjanjian Lama
Taurat

Kitab sejarah

Kitab puisi

Nabi-nabi besar

Nabi-nabi kecil
HoseaYoëlAmosObajaYunusMikhaNahumHabakukZefanyaHagaiZakhariaMaleakhi

Perjanjian Baru
Injil

Kisah Para Rasul

Surat-surat rasul

Wahyu
]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 12:55:47 +0000
Materi 9 : Tema-tema Sentral http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/276-materi-9-tema-tema-sentral http://immanueldepok.info/info-tentang-pembinaan-katekisasi-gpib/alkitab/276-materi-9-tema-tema-sentral Materi ke - 9

TEMA-TEMA SENTRAL

PENDAHULUAN

Perjanjian Baru (PB) adalah bagian tak terpisahkan dari Alkitab (Kitab Suci) sebagai satu kesatuan dengan Perjanjian Lama. Perjanjian Baru (PB) terdiri dari 27 Kitab dan dibagi dalam 4 (empat) kelompok Kitab-Kitab, yaitu :

- Kitab-Kitab Injil,

- Kitab Sejarah (Kisah Para Rasul)

- Surat-Surat :

-  Surat-Surat Paulus,
-  Surat-Surat Umum
-  Surat-Surat Petrus
-  Surat-Surat Yohanes

-Kitab Wahyu (apokaliptik)

Perjanjian Baru (PB) umumnya ditulis dengan Bahasa Yunani, dan beberapa bagian dari kitab Injil ditulis dengan Bahasa Aram.

Ke-27 kitab Perjanjian Baru ditulis bukan oleh satu orang saja, tetapi oleh sekian banyak orang; baik pribadi, maupun kelompok penulis. Awalnya ditulis dalam lembar-lembar tulisan lepas untuk menjawab kebutuhan para pendengar dalam situasi dan kondisi tertentu.

Proses penulisan Kitab Perjanjian Baru tidak berlangsung dalam waktu singkat, tetapi puluhan tahun. Dimulai sekitar tahun 54 dan berakhir pada tahun 100, yaitu dalam Sidang Sinode di Yamnia, dimana ditetapkan Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) ditetapkan sebagai Kanon, sumber ajaran yang benar.


MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN PB

Tulisan-tulisan yang disatukan dalam Perjanjian Baru ditulis dengan maksud untuk menyaksikan dan memperkenalkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tujuannya di satu pihak, adalah untuk menguatkan para murid agar sungguh-sungguh percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus, sehingga tidak disesatkan oleh ajaran-ajaran sesat yang meragukan ke-Tuhan-an Yesus. Pada pihak lain, adalah untuk memperlengkapi para murid untuk terus meberitakan tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kepada segala bangsa dan suku bangsa di seluruh dunia.

Pada waktu itu, para murid Yesus berhadapan dengan berbagai ajaran yang berlatar-belakang filsafat Yunani dan tradisi Yudais yang sangat berkembang pesat dan mendominasi. Kedua ajaran ini cenderung menekankan ‘ke-Manusia-an’; dalam arti memahami Yesus hanya sebagai manusia semata. Sisi ke-Tuhanan dan ke-Mesias-an Yesus sangat diabaikan. Oleh karena itu, jika kita membaca Perjanjian Baru dengan seksama maka kita akan menemukan tema-tema terkait dengan masalah tersebut.

 

TEMA-TEMA PERJANJIAN BARU

Tokoh sentral dalam Perjanjian Baru adalah Yesus Kristus. Karena itu, tema-tema sentral di dalam Perjanjian Baru, tidak lain adalah terkait Yesus Kristus, yaitu:

1.   Kelahiran Yesus.

Kelahiran Yesus dianggap tema penting oleh para penulis Injil, khusus penginjil Matius, Lukas dan Yohanes. Tema ini diangkat untuk menekankan bahwa Yesus, bukan saja manusia tetapi adalah Tuhan yang menjadi manusia. Dengan kata lain, tema tentang kelahiran Yesus dimunculkan untuk menghantam paham dan ajaran yang menolak Yesus sebagai Tuhan.

2.   Pelayanan Yesus

Pelayanan Yesus menjadi tema penting karena terkait dengan paham tentang Kerajaan Allah. Bahwa Pelayanan Yesus bertujuan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di bumi. Pertama-tama dalam arti dan semangat politis, yakni untuk mewujudkan Kerajaan Israel Raya. Namun, karena mendapat tantangan dari pihak para pemimpin agama Yahudi, khusus para imam; juga karena terjadi perpecahan dalam gerakan Yesus maka Kerajaan Allah yang tadinya bermakna politis bergeser ke paham eskhatologis. Terkait dengan paham itu maka kita bisa mengerti bahwa Kerajaan Allah yang diperjuangkan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya bukan lagi menjadi milik orang Yahudi, tetapi milik semua orang yang menerima serta percaya kepada-Nya.

3.   Penderitaan dan Kematian Yesus.

Penderitaan dan kematian Yesus menjadi tema penting karena mencakup dan menjelaskan beberapa tema lainnya, antara lain : a) tentang kurban Anak Domba, yang harus dipersembahkan untuk menebus dan menyucikan dosa manusia; b) tentang solidaritas dan keberpihakan Tuhan kepada orang-orang kecil, miskin, lemah dan menderita, dengan tujuan untuk membebaskan mereka dari berbagai penderitaan akibat dosa serta mengangkat mereka agar setara dengan manusia lainnya.

4.   Kebangkitan Yesus.

Kebangkitan Yesus adalah tema sentral dalam Perjanjian Baru, dan bahkan seluruh Alkitab, yang mencakup Perjanjian Lama. Sebab tema ini memperjelas semua tema lainnya di dalam Alkitab. Misalnya, kemenangan atas godaan dan dosa; pemulihan dan pembaharuan citra manusia yang telah rusak oleh Adam (Manusia Baru >< Manusia Baru); penggenapan hukum Taurat dan nubuat para nabi (Musa dan Elia). Kebangkitan Yesus juga menjadi pusat iman Kristen dan Sumber Hidup. Dari tema ini kemudian dikembangkan tema-tema lain tentang ‘Hidup Baru’, ‘Kebangkitan Orang Mati,’ ‘Hidup Kekal’ dan lain-lain.

5  . Kenaikan Yesus dan Pencurahan Roh Kudus.

Kenaikan Yesus menjadi tema khusus karena menjelaskan tentang   pengagungan dan pemuliaan Yesus sebagai Mesias; Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Terkait dengan tema ini muncul tema tentang Pengharapan Kristen.

Kenaikan Yesus berkaitan erat dengan Pencurahan Roh Kudus, sebagai penggenapan janji Yesus sebelum menderita (Yohanes 15) dan sebelum terangkat ke surga (Kisah Para Rasul 1). Pencurahan Roh Kudus, dan khusus peranan Roh Kudus menonjol dalam hal pembentukan gereja (persekutuan orang-orang) dan juga berkarya dalam diri dan kehidupan orang percaya serta memberi keberanian, kekuatan, penghiburan dan pertolongan bagi orang-orang percaya dalam tugas pemberitaan Injil kepada segala makhluk sampai Hari Kedatangan kembali. Inilah yang telah dilakukan oleh para Rasul, sebagaimana nyata dalam surat-surat di dalam Perjanjian Baru, dan akan terus dilakukan oleh Gereja di sepanjang zaman.

6.   Kedatangan Kembali Yesus.

Tema Kedatangan Kembali menjadi penting karena merupakan puncak dari seluruh peristiwa Yesus Kristus. Tema ini sekaligus memuncul tema lain, misalnya: Eskhaton (Akhir Zaman) dan Masa Depan Yang Pasti, serta Pemenuhan Kerajaan Allah (Lukas 13:29). Bahwa Yesus akan datang sebagai Raja dan Hakim, yang akan mengadili semua orang. Mereka yang setia beriman di tengah berbagai tantangan akan hidup kekal dan mendapat mahkota; tetapi mereka yang tidak setia menyangkal Yesus akan mendapat hukuman kekal. Yesus juga akan datang untuk membarui segala sesuatu, di langit, maupun bumi sehingga akan tercipta langit baru dan bumi baru.

Tema Kedatangan Kembali menjadi energy bagi pengharapan Kristen, sehingga di tengah tantangan dan pencobaan orang-orang percaya selalu berharap bahwa Yesus pasti datang; cepat atau lambat, Dia akan datang untuk membebaskan orang percaya dari duka dan derita serta menyelamatkan mereka. Inilah yang digambarkan dalam kitab Wahyu.

 

PENUTUP

Jelas bahwa tema-tema dalam Perjanjian Baru tidak bisa dilepaskan dari Peristiwa Yesus Kristus. Sebab semua tulisan PB, baik Kitab Injil, maupun surat-surat, terfokus pada tokoh Yesus, karya dan pelayanan-Nya serta perdebatan dan bahkan perlawanan di sekitar kedirian-Nya.

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Alkitab, 2003; LAI

2. Pengantar Perjanjian Baru

3. Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru.

4. Dll.

************************************************************************

Link ke Wikipedia :

 

Kitab-kitab dalam Alkitab

Perjanjian Lama
Taurat

Kitab sejarah

Kitab puisi

Nabi-nabi besar

Nabi-nabi kecil
HoseaYoëlAmosObajaYunusMikhaNahumHabakukZefanyaHagaiZakhariaMaleakhi

Perjanjian Baru
Injil

Kisah Para Rasul

Surat-surat rasul

Wahyu
]]>
immanueldepok@gmail.com (Nicole) Alkitab Thu, 07 Jul 2011 12:57:38 +0000