Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Alkitab Materi 7 : Mengenal Tema-tema Perjanjian Lama

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Materi 7 : Mengenal Tema-tema Perjanjian Lama PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 7

Pokok Bahasan          : ALKITAB

Sub Pokok Bahasan  : PERJANJIAN LAMA ( 2 )

 

MENGENAL TEMA-TEMA PERJANJIAN LAMA


Pengantar

Mempelajari Perjanjian Baru tanpa pengetahuan dasar dalam Perjanjian Lama adalah laksana mendengarkan hanya irama bagian akhir dari sebuah simphoni yang besar. Jika kita tidak mulai pada permulaannya, kita tidak akan merasakan perkembangan tema-tema itu dan berbagai variasinya yang halus. Agar dapat mengindahkan sepenuhnya musik Alkitab, kita harus mendengarkan irama awalnya.

Melalui uraian pelajaran tentang struktur dalam Perjanjian Lama di pertemuan yang lalu, telah sedikit kita temukan rancangan karya keselamatan Allah yang berlaku bagi kehidupan umat-Nya. Dan saat ini disediakan bagi kita seperangkat catatan mengenai berbagai tema penting di Perjanjian Lama. Dengan membiasakan diri mendengarkan tema-tema ini, kita akan diarahkan menuju pelajaran yang akan memperkaya kerohanian dan meningkatkan pengertian kita akan Kasih Allah yang menyelamatkan. Uraian dari tema-tema Perjanjian Lama ini gambarannya bagaikan sebuah simponi. Ada uraian pokok-pokok sentral, tetapi tidak ada satu titik yang dapat dianggap sebagai pusatnya. Itu berarti kita melihat kesatuan dari suatu keseluruhan. Jadi tema-tema atau pokok-pokok yang akan diuraikan semuanya saling melengkapi dan bersangkut-paut. Dan akhirnya kita akan menemukan Karya keselamatan Allah yang terbukti dan terus menyelamatkan dengan menghadirkan Kerajaan-Nya dulu,  kini dan masa depan.

Tema-Tema dalam Perjanjian Lama

Menguraikan tema-tema Alkitab dalam pemaparan saat ini membuat kita menemukan ’benang merah’ di dalam Alkitab dan akhirnya kita dapat menyadari bahwa Alkitab ternyata masih berbicara kepada kita pembaca-pembacanya masa kini.

Adapun uraian tema-tema besar dalam Perjanjian Lama adalah sebagai berikut; Allah dan manusia, Allah yang bertindak lewat peristiwa keluaran / eksodus, hukum Taurat dan ikatan perjanjian, hikmat, pembuangan dan pemeliharaan,  hari Tuhan dan ciptaan baru.

Allah dan Manusia :

Kisah penciptaan dalam Kejadian 1 mengundang kita untuk memandang dunia ini sebagai hasil pekerjaan Allah Pencipta yang mengundang kita bersukacita melihat kebaikan dari apa yang diciptakan-Nya. Dalam kerangka rencana Sang Pencipta, manusia menempati  kedudukan yang khas. Diungkapkan bahwa manusia diciptakan ”Menurut rupa dan gambar Allah”, artinya manusia berada dalam hubungan pribadi yang bertanggung-jawab dengan Tuhan.

Dengan latar belakang ini, Alkitab memulai kisahnya mengenai perjumpaan Allah dengan manusia di dalam sejarah. Namun, apabila kita mulai dengan Allah sang Pencipta, kita tidak sementara berpikir bahwa Alkitab dimulai dengan spekulasi mengenai penciptaan dunia ini. Itu berarti bahwa apa yang hendak dikatakan Alkitab mengenai Allah bersumber pada beberapa rentetan peristiwa di dalam sejarah manusia. Dalam peristiwa itu Allah berhadapan dengan manusia.

”Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau ke luar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (Keluaran 20 : 2)

Pokok ini mendapatkan tempat yang utama di dalam Perjanjian Lama daripada kepercayaan pada Allah sang Pencipta. Namun bila kita ingin memperhatikan atau memahami kisah tindakan Allah dalam sejarah manusia, maka barangkali sebaiknya kita mulai dengan kisah tindakan Allah dan manusia, sebab hanya di bawah terang inilah makna kisah tindakan Allah dapat menjadi jelas bagi kita.

Alkitab berbicara mengenai Allah sang Pencipta:

”Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah...” (Ibrani 11 : 3)

Bahwa dunia ini tidak terjadi secara kebetulan ada. Keberadaannya berasal dari kuasa Allah yang kreatif. Alkitab menggunakan beberapa ungkapan untuk menguraikan hubungan Tuhan dengan alam semesta. (Ayub 38 : 4 - 6; bandingkan  Mazmur 104 : 5). Kalimat ”Pada mulanya Allah menciptakan (bara) langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Bagian ini adalah himne (madah), bukan teori ilmiah. Sehingga tidak untuk dipertentangkan. Menurut Kejadian 1, dunia ini berada sebagai ungkapan kehendak dari Allah yang mahakuasa. Sejak mulanya Allah telah berfirman, dan dengan Firman-Nya segala yang semula tidak ada menjadi ada. Dan Allah menilai apa yang dijadikannya itu baik (Kejadian 1:4,10,12,17,25) malah sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Wujud dari kelengkapan hidup itu adalah taman Eden (Kejadian 2:8-17).

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa Tuhan-lah yang menjadikan segala sesuatu dan Ia adalah Pencipta yang Esa. Ia memberikan kepada manusia untuk menikmati segala kelengkapan itu yakni suatu suasana aman, tentram dan sejahtera. Dan di dalamnya Allah memberikan batasan dan tatanannya. Dan benar bahwa sejak awal mula tidak ada apa yang disebut kebebasan mutlak, apalagi kebebasan untuk merebut kedaulatan dan kewenangan Allah. Ketika manusia melanggar hal itu yakni batasan yang di buat Allah, manusia dikenai tindakan yang tegas dari Allah : ia diusir dari taman Eden (Kejadian 3:23-24). Kembali terbaca berfirmanlah Tuhan Allah...... (Kejadian 3:22). Manusia harus taat kepada yang Allah tata dan dimintai bertanggung jawab atas apa yang ia buat (Kejadian 3:9-12). Dan karena dinilai bersalah maka tidak bisa tidak tindakan Allah terjadi (Kejadian 3: 13,14,16,17). Di sinilah dapat kita saksikan kebebasan dan tanggung jawab adalah dua sisi kemanusiaan yang sudah ada sejak awal mulanya. Manusia diciptakan untuk hidup dalam hubungan pribadi yang mesra dengan Allah, serta mengusahakan dan memelihara alam semesta dan mengembangkan hubungan baik dan penuh kasih dengan sesama. Sampai disini Alkitab menjabarkan drama besar mengenai Allah dan Manusia dalam panggung sejarah dunia.

Allah yang bertindak :

Membaca Perjanjian Lama secara keseluruhan akan membuat kita menemukan karya dan tindakan Allah di dalam setiap peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

  1. Orang-orang Ibrani menganggap bahwa nenek moyang mereka yang menggembara, Abraham, datang dari Mesopotamia untuk menjawab panggilan Allah. Dalam anggapan ini kita dapat melihat ciri khas kesaksian Alkitab – prakarsa berada pada pihak Tuhan.
  2. Yang menjadi pusat dalam pengajaran Perjanjian Lama adalah tema Keluaran, yaitu mengenai pembebasan budak-budak Ibrani dari Mesir pada permulaan abad ke-13 Sebelum Masehi. Hal ini diproklamasikan sebagai karya besar Allah yang menyelamatkan dan memilih suatu umat bagi diri-Nya sendiri. Nama Ibrani untuk TUHAN, YHWH, menekankan pada hakekat Allah yang dinamis dan kreatif. Pentingnya tema Keluaran ini dilukiskan dalam ibadat dan perilaku sehari-hari.Allah menjadi pusat ibadat orang Israel. Dan perilaku yang dikehendaki dari seorang warga Israel adalah kepatuhan sebagai suatu jawaban yang penuh syukur kepada Allah yang telah melakukan karya-karya besar bagi umat-Nya. Dasa titah misalnya, dimulai dengan menyinggung kisah Keluaran. Allah dalam perjanjian lama bukan hanya sekedar definisi melainkan Allah dipahami lewat tindakan-Nya yang aktif dinamis dan nyata dalam peristiwa-peristiwa sejarah dalam keberadaan-Nya yang tak terbatas dan kekal. (Yosua 24:2-13) Hal itu adalah sebagai berikut; 2000 Sebelum Masehi, bagian utara lembah Mesopotamia direbut dan didiami oleh suku-suku Semit yang oleh orang-orang Babilonia disebut ”Amori”. Dan setelah ditelusuri Abraham berasal dari salah satu kota-kota orang Amori, Haran. Firman Tuhan datang kepada Abram (Kejadian 12:1-3) dan Abram serta keluarganya memenuhi panggilan Tuhan. Allahlah yang mengambil prakarsa. Ia bersabda pada orang tertentu dan waktu tertentu. Allah meminta kepada Manusia untuk memenuhi kehendak-Nya dan berjalan dalam janji-Nya. Dalam proses perjalanan waktu mereka menjumpai kesenangan dan mengalami nasib buruk mereka diperlakukan sebagai budak. Beban penderitaan semakin buruk dan amat berat. Lagi-lagi Allah mengambil prakarsa. Ia memanggil Musa, dialah yang dipilih sebagai alat dan melalui Musa pembebasan itu dilaksanakan. Musa membawa keluar bangsa Israel dari Mesir dari Kekuasaan Firaun. Pertolongan Tuhan nyata. Dengan demikian Karya dan janji Allah nyata dalam sejarah.

Hukum Taurat dan Ikatan Perjanjian;

Musa adalah orang yang dikenal sebagai orang yang dipilih Allah untuk menyampaikan kesepuluh Firman. (Keluaran 20:1-17, Ulangan 5:1-22). Firman itu merupakan intisari Taurat, yang mengandung apa yang dikehendaki Tuhan, untuk dilakukan setiap orang yang telah menerima perjanjianNya. Perjanjian itu juga meliputi segala perbuatan yang akan Tuhan lakukan sebagai wujud hubungan yang erat dengan umat, dan tersurat di dalam apa yang umat harus lakukan sebagiai tanda ketaatannya kepada Tuhan. (Keluaran 34:10-25). Ketaatan yang dikehendaki Tuhan harus dilakukan umatNya. Ketaatan itu dilakukan setelah Tuhan menyelamatkan umatNya. Akte, tata dan taat adalah wujud ikatan Perjanjian itu. Dimana Akte dan tata adalah prakarsa Tuhan sedangkan yang ketiga yakni taat adalah wujud sikap umat terhadap Tuhan-Nya. Peristiwa dari perbudakan di Mesir dan peristiwa pembuangan di Babel merupakan tonggak sejarah menyangkut akta keselamatan dan pemulihan yang Tuhan lakukan terhadap umat-Nya karena ikatan perjanjian. (Yeremia 31:33) AKU AKAN MEJADI ALLAH MEREKA DAN MEREKA AKAN MENJADI UMATKU. Terungkap bahwa isi perjanjian itu adalah Taurat. Lewat memberlakukan titah dan perintah Allah maka identitas umat dapat menjadi kesaksian dan dengan demikian Karya dan perbuatan Allah dinyatakan Kuasa-Nya.

Hikmat

Perkembangan Gagasan Tentang Hikmat. Kepustakaan Perjanjian Lama mengenai hikmat ialah bentuk sastra yang umum dikenal pada daerah Kuno di Timur Dekat. Kesusastraannya meliputi amsal dan nasihat, renungan-renungan panjang mengenai kehidupan (Pengkhotbah), dan percakapan-percakapan mengenai problem hidup (Ayub). Pokok-pokok pikirannya tercermin dalam kata Ibrani Hokmah dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Kata-kata sejenis biasa diterjemahkan dengan ”Pengertian” dan ”kebijaksanaan”.Dan pada dasarnya hikmat adalah seni yang sangat praktis untuk trampil dan sukses dalam hidup. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani hidup (Amsal 1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal.(1 Raja-raja 3:9,12). Jika upacara keagamaan adalah bentuk ibadah di dalam bait suci atau kemah pertemuan, maka hikmat adalah jiwa ibadah yang diluaskan sampai ke rumah dan pasar. Gagasan yang lebih tua dari agama Israel adalah hikmat berasal dari Allah. Dan manusia sebagai penerima hikmat sangat disadari memiliki keterbatasan walaupun ia telah merasa telah berada sebaik-baiknya dalam hidupnya. Orang yang benar-benar bijak adalah orang yang mengerti akan hal ini. Dan kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati (Amsal 18:12) dan mereka tidak merasa terganggu oleh keterbatasan ini. Namun meski hikmat mengandung keterbatasan karena manusia juga terbatas, namun penggunaan hikmat tetap memberi kita pengharapan (Amsal 8). Amsal mencapai puncaknya dalam pencaian hikmat oleh manusia dengan hidup berkenan kepada Tuhan. Di sinilah kita melihat bahwa apa yang dapat disebut panggilan kepada keselamatan terjadi dan bila kita tidak menghiraukan maka akan menuju maut atau kebinasaan.

Pembuangan dan Pemulihan

Pembuangan yang dialami umat tidaklah berarti tamatlah riwayat umat. Perjanjian Baru ke dalam hati umat di Pembuangan justru adalah awal pemulihannya. Yehezkiel, Ezra dan Nehemia, raja Koresy dan Arthasasta dipakai oleh Allah untuk menyatakan kuasa Firman yakni Akta dan sekaligus perbuatan-Nya. ”Aku Tuhan, yang mengatakannya dan akan membuatnya (Yehezkiel 36:36).. serta pengakuan ” .. Oleh karena Tangan Tuhan, Allah-Nya, melindungi dia (Ezra 7:6, Nehemia 2:8)” Nubuat bahwa orang Israel yang terbuang akan Tuhan kumpulkan kembali benar-benar menjadi kenyataan (Yesaya 11:12,56:8). Firman dan Akta menyatu.. terbukti dan menyelamatkan.

Hari Tuhan dan ciptaan Baru : Yom Yahwe = Hari Tuhan

Ungkapan itu diterjemahkan sebagai saat dan waktu Tuhan bertindak. Sifat tindakan itu bisa menyelamatkan (Keluaran 12:40-42), bisa juga menghukum (Yeremia 15:59), bisa juga memenuhi janji yang sudah berabad-abad sebelumnya (Lukas 2:11, Mikha 5:1-2, Yesaya 9:5, 7:14) Waktu adalah proses yang berlangsung dalam kurun waktu dulu, kini dan akan datang. Dalam proses Penciptaan, perjalanan kehidupan umat Allah dan peristiwa lahirnya Anak Manusia dan pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Pemulihan adalah suatu ciptaan baru, sama seperti yang dialami Nuh. Terjadi sesuatu yang baru oleh Akta Tuhan yang menyelamatkan, dengan menyelamatkan sisa orang Israel yang setia yang mengecap pembaharuan yang diadakan Tuhan. Dalam bahasa Paulus ; Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17), karena akta pendamaian yang Allah buat dengan perantaraan Kristus (2 Korintus 5:18) bukan saja untuk manusia tetapi juga untuk dunia (2 Korintus  5:19). Pemulihan itu berwujud pendamaian, ketika hubungan antara umat dipulihkan oleh Akta Tuhan sendiri. Pemulihan itu terjadi tidak saja lewat pengembalian sisa-sisa umat Israel dari Pembuangan, tetapi juga menjangkau Akhir Zaman dimana terdapat ketentraman, kenyamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan (Yesaya 65:17-25, 66:22; bandingkan Wahyu 21, 2 Petrus 3:13, sedangkan di Yesaya 11:6-10 dikaitkan dengan seseorang yang penuh Roh Tuhan, yang akan menghakimi dengan keadilan (Yesaya 11:1-5).

Kesimpulan

Dengan demikian dapat kita saksikan bahwa begitu Allah mengucapkan Firman-Nya, begitu pula kejadian dimulai sebagai peristiwa, dan pada saat itu pula sejarah dimulai. Dari titik awal sejarah ke titik lainnya, peristiwa demi peristiwa terjadi dari angkatan ke angkatan terjadi sebagai wujud nyata dari Firman-Nya. Melalui orang-orang yang Dia pilih dari berbagai zaman, Ia menyatakan bahwa Ia tetap ada. Oleh sebab itu Ia menyebut diri-Nya ; Aku adalah Aku (Keluaran 3:14). Dan dalam perjalanan sejarah, pada zaman yang ditetapkan (Yesaya 9:5, Mikha 5:1) Yesus Kristus, Mesias yang disebut Firman (Yohanes 1:1), hadir sebagai wujud janji Allah, yang mengawali zaman baru dengan Perjanjian yang baru (Yeremia 31:31). Melalui sengsara derita sampai kematiaan-Nya di atas kayu salib (1 Petrus 2:21-24), kehadiran Yesus di pentas sejarah dunia tenyata adalah satu-satunya jalan pendamaian (2 Korintus 5:18). Dia sajalah yang mengucapkan kata-kata ; Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup... (Yohanes 14:6).

 

Daftar kepustakaan ;

  1. Pemahaman Iman GPIB
  2. Materi Bina Penatua dan diaken Periode 2007 – 2012, Majelis Sinode GPIB
  3. Pdt.O.E.Ch.Wuwungan, D.Th. Bina Warga bunga rampai Pembinaan Warga Gereja, BPK Gunung Mulia, 1994.
  4. David L Baker, Mari Mengenal Perjanjian lama, BPK Gunung Mulia, 2008
  5. William Dyrness, Tema-tema dalam Theologia Perjanjian Lama, Penerbit Gandum Mas, 2009
  6. Robert Davidson, Alkitab berbicara, BPK Gunung Mulia, 2001.

********************************************************************************

Link Wikipedia :

Kitab-kitab dalam Alkitab

Perjanjian Lama
Taurat

Kitab sejarah

Kitab puisi

Nabi-nabi besar

Nabi-nabi kecil
HoseaYoëlAmosObajaYunusMikhaNahumHabakukZefanyaHagaiZakhariaMaleakhi

Perjanjian Baru
Injil

Kisah Para Rasul

Surat-surat rasul

Wahyu
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.