Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Ajaran Gereja Materi 17 : Manusia Ciptaan Allah

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Materi 17 : Manusia Ciptaan Allah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke - 17

Pokok Bahasan          : Ajaran Gereja GPIB

Sub Pokok Bahasan : Manusia Ciptaan Allah

Tujuan Pembelajaran Khusus  : Agar peserta katekisasi dapat :

  1. Memiliki Pemahaman Iman yang benar kepada Allah berdasarkan Alkitab
  2. Percaya dan mengaku karya Allah dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat
  3. Menjadi warga gereja yang bertanggung-jawab dengan melaksanakan misi Kristus di tengah keluarga, gerejadan masyarakat serta ciptaan-Nya sebagai ciptaan Allah dan menghayatinya dalam kehidupan beriman.

 

MANUSIA CIPTAAN ALLAH


Manusia menurut Agama-Agama asli

Ada banyak pandangan tentang asal-usul manusia dalam berbagai suku dan agama di Indonesia mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling berbelit-belit. Salah satunya adalah pada suku bangsa Wemme di Seram Barat terdapat tradisi tentang Hainuwele. Seorang anak yang lahir dari darah bapaknya Amete, kotorannya berupa intan, batu permata, piring dan alat musik sehingga menimbulkan banyak orang yang iri padanya. Pada sebuah perayaan yang berlangsung sembilan malam Hainuwele dengan diiringi tarian dan nyanyian dimasukkan dalam liang dan dibunuh. Jenazahnya di gali Amete, dipotong-potong dan di tanam. Dari padanya timbul tetumbuhan baru seperti ubi, kacang, padi. Amete menunjukkan kedua tangan Hainuwele kepada Mulua Satene (Tuhan Raja) yang menyuruh semua orang berkumpul dan masuk gapura di mana tangan tadi diadili. Orang yang salah diubah menjadi babi, kijang, burung, ikan (binatang yang sebelumnya tidak ada) dan orang yang baik diangkat menjadi patilima dan patisiwa, nenek moyang para bangsawan di Seram. Seiring dengan mitos ini terdapat banyak lagi mitos dalam agama-agama asli Indonesia tentang asal-usul alam dan yang di dalamnya juga menceritakan asal-usul manusia.

Dalam agama-agama asli Indonesia, kita mendapati bahwa manusia hidupnya sangat bergantung dari alam dan apabila ia selaras dengan alam,maka hidupnya beres dan sebaliknya apabila tidak ada keselarasan maka hidupnya akan hancur. Keselarasan itu ditentukan dari praktek hidup di mana ia memahami dengan baik asal-usul dan susunan alam, tetapi manusia tetaplah penguasa dunia. Tetapi bagaimana asal-usul manusia dan keberadaannya, Alkitab menceritakannya secara berbeda.

Siapakah saya menurut Alkitab ?

Manusia yang diciptakan Allah dan tanggung-jawabnya

Manusia dalam catatan Alkitab, Kejadian 1:26 diciptakan oleh Allah Tritunggal (“...baiklah kita menjadikan manusia..”) dan Alkitab memahami manusia secara utuh yaitu terdiri dari tubuh, roh dan jiwa (Kejadian 2:7 “...menghembuskan nafas hidup kedalam.....”) itu berarti bahwa Allahlah yang memberikan kehidupan itu pada manusia, manusia bukanlah makhluk hidup tanpa salah satu unsur tersebut.

Manusia hidup: saling menghargai dan menghormati

Laki-laki maupun perempuan adalah ciptaan Allah yang hidup saling melengkapi dan menolong, sehingga setiap manusia wajib menghargai dan menghormati sesamanya. Alkitab menceritakan penciptaan manusia itu pada bagian pertama di Kejadian 1:26-28; 2:7 yang menggambarkan kemanusiaan manusia hanya dimengerti dalam hubungan dengan Allah sehingga di luar hubungan manusia dengan Allah kita tidak dapat memahami manusia sebagai ciptaan Allah (Homo Religius). Hubungan yang positif ini harus nampak dalam penghormatan kepada Allah.

Pada bagian kedua, di Kejadian 2: 15-25 penciptaan manusia dimaksudkan agar manusia menjalin hubungan yang positif dengan sesamanya dan sesama harus dilihat sebagai anugerah Allah (Homo Social). Sehingga ketika Allah yang menciptakan jenis kelamin lain yang berbeda dengan manusia (“isyh”) memperkenalkan manusia perempuan (“isyah”) kepadanya, maka manusia “menyambutnya” dengan positif (Kejadian 2:23). Sambutan ini merupakan respon terhadap anugerah Allah yang menghadirkan sesama tetapi juga kehangatan dalam “menyambut yang berbeda” dengan baik.

Dalam membangun hubungan dengan sesama ciptaan, manusia dipanggil untuk menyambut yang lain baik di tengah keluarga, gereja dan masyarakat sebagai anugerah yang Tuhan hadirkan untuk saling mengasihi dan memperlengkapi demi kebersamaan dan kesejahteraan sesama. Sehingga manusia Kristen terpanggil untuk bersikap adil terhadap sesamanya dimanapun ia dihadirkan Tuhan. Perilaku adil ini didasarkan pada kesadaran sebagai ciptaan manusia wajib memegang nilai-nilai etis tentang kesepadanan dan kesetaraan dan ini juga terwujud dalam relasi perkawinan: suami-istri dan relasi keluarga: orang tua-anak dan perempuan-laki-laki.

Manusia juga diciptakan Allah sebagai makluk yang berpikir (Homo Rationale), di mana sudah sejak penciptaannya manusia dianugerahi Allah akal budi. Istilah kese-rupa-an dan kese-gambar-an bukan hanya menunjuk pada hubungan cinta kasih dengan Allah tetapi juga secara tersirat mengandung pengertian, sama seperti Allah pribadi yang berpikir maka ia juga memberikan kedalam diri manusia akalbudi. Hal itulah yang menurut pemazmur terletak kehormatan dan kemuliaan manusia yang membedakan manusia dari ciptaan Allah yang lain. Akal budi merupakan sebuah elemen dari hidup pemberian Allah. Dalam konteks ini manusia dalam menjalani hidupnya juga terpanggil untuk menggunakan akal budinya secara bertanggung-jawab : mengkaji, menganalisa sebelum mengambil kaputusan dan membuat langkah-langkah startegis.

Itu berarti manusia yang utuh adalah apabila ia membangun, membina dan memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan selaku penciptanya (hubungan vertikal), dengan sesama ciptaan (hubungan horizontal) tetapi sekaligus juga menggunakan akal budinya (berpikir dan mempertimbangkan sesuatu) dalam menjalani panggilan hidupnya.

Manusia yang bekerja : sebuah mandat yang disyukuri

Dalam tradisi reformasi, kerja dilihat sebagai ungkapan syukur atas “mandat” (kepercayaan dan tanggung jawab) yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia (Kejadian 1:28), sehingga kerja adalah bagian dari panggilan pelayanan kepada Allah (Filipi 2:12-16, Efesus 6:7) dan kewajiban untuk memuliakan Allah (Kolose 3:17). Sehingga manusia Kristen terpanggil untuk memiliki etos kerja yang baik karena dengan bekerja, manusia memiliki “peluang” untuk menyatakan tanggung-jawabnya untuk kepada Allah. Kerja di sini bukan hanya dalam lingkup gereja, tetapi juga di luar gereja. Ruang di manapun manusia melaksanakan tanggung-jawabnya adalah ladang pelayan yang harus digarap dengan sungguh-sungguh karena dilakukan untuk Tuhan bukan untuk manusia (Efesus 6:7).

Allah menciptakan manusia untuk tujuan yang mulia yakni keselamatan hidup semua ciptaan. Untuk maksud dan tujuan itu pula Allah memberikan “mandat” (kepercayaan dan tanggung jawab) kepada manusia agar manusia menatalayani (Yunani : Oikonomos, Inggris : stewardship) alam semesta. Manusia diberikan kebebasan untuk menatalayani alam semesta dalam batas-batas tanggung-jawab sesuai dengan Firman Allah (Kejadian 2:15-17). Dalam hal ini manusia bukan pemilik alam ini, manusia hanya bertugas untuk menatalaninya dan alam, sama dengan manusia adalah sama-sama ciptaan Allah sehingga tidak untuk disembah. Alam bukan musuh manusia, alam adalah sesama ciptaan, manusia dan alam dipanggil untuk saling mendukung. Kata “taklukkan” dan “berkuasalah” (Kejadian 1:28) menunjuk pada artikulasi positif, kedua kata tersebut menunjuk pada pengertian pemberdayaan sumber daya alam.

Demikian pula Allah menciptakan tubuh manusia itu sempurna tetapi kondisi ini tidak kemudian membuat orang mengambil posisi, menyembah atau sebaliknya merendahkannya. Manusia Kristen terpanggil untuk memanfaatkan tubuhnya sendiri secara proporsional. Pengkultusan pada tubuh manusia dapat menghantar orang pada “pengaguman” tubuh yang mengakibatkan manusia menempatkan diri pada posisi superior atas manusia yang lain. Pada sisi yang lain “penolakan” manusia terhadap tubuh yang Allah ciptakan juga dapat membuat manusia menyalahkan Allah sebagai pencipta dan sekaligus menyesali diri  yang berkepanjangan.

Manusia yang menyalahgunakan kebebasan

Kebebasan adalah hak asasi manusia yang dikaruniakan Allah sejak penciptaan. Kebebasan adalah sesuatu yang melekat utuh pada manusia sejak penciptaan dan hal itu bukan karena status sosialnya. Secara sosial kebebasan manusia harus diatur di dalam norma masyarakat dan agama agar kebebasan dapat diberdayakan demi kepentingan bersama, manusia Kristen tidak pernah mengenal kebebasan tanpa batas, dalam hal ini kebebasan Kristen disebut kebebasan yang bertanggung-jawab. Bertanggung-jawab terhadap siapa?  Terhadap Allah selaku pencipta, pemberi “mandat” dan terhadap sesama ciptaan yang dipercayakan Allah untuk dikelola. Tetapi dalam melaksanakan “mandat” Allah ini manusia seringkali gagal, karena menyalahgunakan kuasa dan tanggungjawabnya sehingga manusia jatuh dalam dosa dan kesalahan. “Mandat” dapat menjadi peluang untuk melaksanakan misi Allah tetapi sekaligus dapat menjadi  “godaan besar” untuk mengeksploitasi sesama ciptaan bahkan menempatkan pencipta dalam posisi ciptaan dan sebaliknya, ciptaan dalam posisi pencipta.

Daftar Pustaka

  1. Agama Asli Indonesia, Rachmat Subagya, Sinar Harapan, 1981
  2. Dogmatika Masa Kini, Soedarmo, BPK Gunung Mulia
  3. Intisari Iman Kristen, Harun Hadiwijono, BPK Gunung Mulia
  4. Pemahaman Iman GPIB, Majelis Sinode GPIB, 2007
  5. Teologi Perjanjian Lama, C. Barth, BPK Gunung Mulia, 1988
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.