Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Materi 16 : Kerajaan Allah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi Ke - 16

Pokok Bahasan           : Ajaran Gereja

Sub Pokok Bahasan   : Kerajaan Allah

Tujuan Pembelajaran Khusus:

  1. Menjelaskan arti Kerajaan Allah menurut konsep iman Israel
  2. Menjelaskan arti Kerajaan Allah menurut Perjanjian Baru
  3. Menjelaskan hubungan Kerajaan Allah dengan kehidupan orang Kristen

 

KERAJAAN ALLAH


Pemahaman Iman GPIB Pokok III tentang Manusia dalam alinea vii mengatakan sebagai berikut :

Bahwa manusia memerlukan anugerah pembaruan agar dapat melanjutkan pekerjaannya hingga pemenuhan Kerajaan Allah.

Hal ini menyiratkan dua hal penting. Pertama, Kerajaan Allah adalah sesuatu yang ada. Kedua bahwa kalaupun Kerajaan Allah itu ada, kerajaan itu belum penuh.

Pemahaman tentang ‘Kerajaan Allah’ tidak boleh dilepaskan dari kepercayaan tentang Kemaha-kuasaan Allah. Dan karena itu pikiran tentang Kerajaan Allah tidak bisa dipikirkan sebagai Kerajaan manusia, dimana ada batas batas geografis misalnya. Karena Allah yang mahakuasa adalah pencipta langit, bumi dan segala isinya, maka tidak mungkin kita membatasi luas wilayah Kerajaan Allah itu. Kita juga tidak bisa membatasi Kerajaan Allah itu pada bangsa tertentu. Kerajaan Allah adalah konsep Alkitab yang karenanya harus dimengerti secara Alkitabiah pula.

Kerajaan Allah menurut konsep Iman Israel

Istilah Kerajaan Allah dalam tradisi Israel dikenal dengan istilah Kerajaan Yahweh, dikenal dalam agama Israel seperti terungkap dalam kitab Mazmur dan para nabi. Awalnya, tema Kerajaan Yahweh ini dalam sejarahnya merupakan pikiran dasar yang digunakan oleh suku-suku Kanaan untuk menyatakan bahwa Yahwehl-lah yang berkuasa atas mereka. Bukan para raja yang secara manusiawi menguasai mereka. Karena itu tema ini juga digunakan sebagai dasar untuk membebaskan diri dari kekuasaan yang menguasai mereka. Tetapi bagi Israel purba Kerajaan Yahweh mempunyai arti politis yang mengesampingkan semua penguasa manusiawi (Hakim Hakim 8 : 22-23).

Yang membedakan Israel dari para tetangganya di dunia timur tengah kuno adalah pengalaman mereka, yang tidak pernah memenangkan peperangan tanpa Allah. Mereka bisa menang tanpa pimpinan seorang raja secara manusia, sekalipun mereka tidak memiliki pengorganisasian secara politis yang memadai. Komentar lain tentang perasaan anti monarkhi pada pemimpin Israel terdapat dalam pidato nabi Samuel pada saat suku-suku Israel sedang mendapat tekanan dari bangsa Filistin yang sudah mempunyai organisasi yang baik (1 Samuel 8:4-5, 10,17). Dari catatan teks-teks ini nampak jelas bahwa Pemimpin Israel purba pun dengan sadar menolak ide monarkhi sekalipun umat berkali-kali memintanya karena ingin memiliki model kerajaan yang mereka temui dalam masyarakat di sekitar Israel.

Setelah lebih dari dua abad Israel berdiri sebagai Kerajaan Yahweh, Israel memilih bentuik kerajaan. Raja pertama, -Saul- gagal mentaati kehendak Allah. Menyusul Daud dan Salomo yang sekalipun sadar akan kekuasaan Allah, namun gagal juga. Praktis seluruh raja di Israel gagal untuk tetap menjadikan Allah sebagai Pemimpin Utama mereka. Tapi kita juga bisa melihat secara pasti dalam sejarah raja raja di Israel, bahwa ketika raja yang memimpin taat pada Allah - dan karenanya menjadikan Allah Pemimpin Utama - maka masyarakat menjadi baik secara sosial ekonomis dan politis. Tapi saat raja yang memimpin tidak taat kepada Allah maka masyarakat menjadi sengsara.

Walaupun para penulis Perjanjian Lama (PL) tidak menggunakan istilah “Kerajaan Allah”, mereka dengan penuh harapan menantikan Hari yang besar itu, yakni saat Allah akan memperlihatkan kemuliaan-Nya secara dramatis sehingga semua orang akan mengakui pemerintahan-Nya: Yesaya 24:23; Zakaria 14:9

Kita bisa menyimpulkan bahwa konsep Kerajaan Allah dalam Perjanjian Lama lebih berorientasi pada pengakuan akan kepemimpinan Allah, dan karenanya hukum dan kehendak Allah harus ditaati. Ketaatan ini berakibat langsung pada kesejahteraan masyarakat sendiri.

Kerajaan Allah dalam konsep Perjanjian Baru.

Menurut Injil-Injil, Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga merupakan tema pokok pemberitaan Yesus. Matius menggunakan istilah Kerajaan sorga, sementara Markus dan Lukas menggunakan istilah Kerajaan Allah yang sama dengan Kerajaan sorga, tetapi lebih gampang dimengerti oleh orang non-Yahudi. Pemakaian istilah Kerajaan sorga oleh Matius, pasti disebabkan oleh keengganan orang Yahudi untuk menyebut nama Allah. Tidak ada perbedaan antara kedua istilah ini (bandingkan Matius 5 : 3 dengan Lukas 6 : 20). Bandingkan kesejajaran antara “Kerajaan Sorga” menurut Matius, dengan “Kerajaan Allah” menurut Markus dan Lukas, misalnya Matius 4:17 dengan Markus 1:15; Matius 8:11 dengan Lukas 13:29; Matius 13:11 dengan Markus 4:11 dan Lukas 8:10; dan masih banyak lagi. Ini menunjukkan betapa pentingnya peranan tema Kerajaan Allah dalam ajaran Tuhan Yesus sendiri. Kerajaan Allah merupakan berita Injil ( Markus 1:15). Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga itu ada di sorga, ada di dunia, bahkan ada di dalam diri manusia tertentu. ( Matius 12:28. Lukas 17:21). Dan ketika para murid diutus untuk pertama kalinya, yang harus mereka beritakan adalah perihal “Kerajaan Allah” : Lukas 9:2; 10:9-11

Tuhan Yesus tidak pernah mendefinisikan apa yang dimaksudkan-Nya dengan “Kerajaan Allah”. Namun ketika menjawab pertanyaan Pontius Pilatus, Ia dengan cermat menyatakan maksudNya bukan untuk memiliki daerah kekuasaan yang bersifat fana di dunia ini : “ (Yohanes 18:36). Kerajaan Allah dalam Alkitab pada umumnya berarti : Allah yang aktif memerintah di dunia. Kadang-kadang Tuhan Yesus mengatakan tentang “memasuki” Kerajaan Allah, adalah sama halnya kita memasuki sebuah Negara (Markus 10:23). Jadi gagasan dibalik kata yang dipergunakan-Nya jauh lebih berarti “pemerintahan” ketimbang “kerajaan”. Mungkin ungkapan dalam Doa Bapa Kami tepat, yaitu harapan akan datangnya Kerajaan Allah disamakan dengan melakukan kehendak-Nya. Dimana kehendak Allah dilakukan dengan ketaatan yang sempurna, disinilah arti yang menurut Perjanjian Baru Kerajaan Allah dinyatakan. Pengharapan yang sangat dalam ini, baik pengharapan dalam arti luas, maupun kerinduan akan kemerdekaan negeri itu, masih terus berkobar sampai pada zaman Tuhan Yesus (Yusuf dari Arimatea, menurut Markus, adalah salah seorang yang “juga menanti-nantikan Kerajaan Allah”).

Jadi, ketika Yohanes Pembabtis mengatakan bahwa “Kerajaan Allah sudah dekat” (Matius 3:2), ia segera dikerumuni oleh sekumpulan orang yang dengan penuh semangat datang untuk menyaksikan kuasa Allah, yang sudah lama mereka nanti-nantikan, memerintah dalam sejarah manusia.Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus bersama-sama memberitakan Kerajaan Sorga / Kerajaan Allah. Dan murid-murid Yesus juga memberitakan hal yang sama: Matius 10:5-7. Matius mencatat pengajaran Tuhan Yesus semua dilandaskan, karena, dan untuk Kerajaan Sorga: (Matius 5:3. ; 6:9 -10,13,33; 7:21; 13:24).

Kerajaan Sorga / Kerajaan Allah adalah tema yang utama di seluruh Alkitab. Allah adalah Raja dari semua raja-raja. Yesus yang kita sembah – Dia adalah Allah dan Raja dari kerajaan rohani. Dimana pemerintahan Yesus itu ada di dalam hati umat Tuhan di seluruh dunia. Jadi Kerajaan Allah tidaklah terlihat dari benda yang dibangun oleh manusia atau suatu tempat, tetapi Kerajaan Allah adalah Tuhan memerintah kerajaan-Nya di dalam hati semua umat Tuhan.

Kerajaan Allah ada di dalam kita! (Lukas 17:21). Tuhan Yesus memang tidak memerintah secara ‘De yure’ dan secara ‘De facto’ sebagai pemimpin suatu negara secara pengertian duniawi, misalnya menjadi Raja/Pemimpin Yudea seperti Herodes, tapi secara rohani Dia seorang Raja, Yesus Kristus. Dia Raja kita dan kita ini rakyat-Nya, umat yang Dia perintah. Kita ini pengikut-pengikut-Nya. Dalam pemahaman ini mari kita meneladani sikap salah seorang yang disalib di sebelah Yesus: “Ya Yesus bila Engkau datang kembali sebagai Raja, ingatlah kepadaku...” Yesus menjawab: “Hari ini Engkau bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:42-43).

Hadirnya Yesus sebagai manusia memang tidak membawa kuasa duniawi / lahiriah, sebab misi Yesus adalah misi rohani. Dia yang adalah Allah itu telah lahir ke bumi dan berkarya bagi keselamatan umat manusia yang dikasihi-Nya. Yesus bicara mengenai satu Kerajaan yang tidak nampak dengan mata (Yohanes 3:1 – 16)’, namun setelah kebangkitan, Yesus ternyata masih menempatkan ‘Kerajaan Allah’ sebagai topik utama (Kisah Para Rasul 1:3.) Selanjutnya, para murid Tuhan Yesus meneruskannya dalam kegiatan mereka mengabarkan Injil, Kerajaan Allah tetap menjadi topik utama. Kisah Para Rasul 8:11-12 ; Kisah Para Rasul 19:6-8. Menurut Markus, Tuhan Yesus mengawali pemberitaan-Nya tentang Kerajaan Allah, yang sudah dekat itu, dengat kata-kata, “Waktunya telah genap” (Markus 1:15). Berita mengenai penggenapan ini digemakan terus dalam kitab-kitab Injil, yaitu bahwa didalam Tuhan Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah menjadi kenyataan yang hidup. Mujizat-mujizat-Nya, dan teristimewa pengusiran setan, memberi kesaksian tentang fakta bahwa Kerajaan Allah sudah datang kepada manusia (Matius 12:28 ). Khotbah-Nya yang disampaikan dengan otoritas yang unik merupakan bukti bahwa kerajaan-Nya sudah datang : Markus 1 :27; Matius 11:5.

Tuhan Yesus berkata “Kerajaan Allah ada diantara kamu” (Lukas 17:21), maka berkat-berkat Kerajaan Allah (diantaranya adalah : pengampunan, keselamatan, dan kehidupan kekal) menjadi milik yang dapat dinikmati oleh orang-orang yang percaya, tidak hanya pada masa yang akan datang, melainkan juga pada masa kini. Selama berabad-abad para nabi telah menubuatkan suatu masa Allah akan menyatakan kekuasaanNya sebagai raja diatas bumi. Dalam Diri dan pelayanan Tuhan Yesus Kristus-lah,masa ini telah dinyatakan.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa dengan kedatangan Diri-Nya sendiri, Kerajaan Allah itu sebenarnya sudah datang, dan juga jelas bahwa Ia memandang ke masa yang akan datang pula, saat kuasa Allah yang berdaulat penuh itu pada akhirnya tampak dengan nyata. Murid-murid-Nya harus berdoa begini “Datanglah KerajaanMu” dan memperlihatkan dengan waspada agar melihat “Kerajaan Allah (telah) datang dengan kuasa” (Markus 9:1, Matius 25:1). Mujizat-mujizat yang mereka lihat dilakukan oleh Tuhan Yesus – yang mereka sendiri juga lakukan dengan kekuatan Tuhan Yesus – adalah tanda yang jelas bahwa Kerajaan itu sudah ada. Tetapi peperangan dengan Iblis masih berlangsung terus dengan seru, dan tidak ada keraguan sedikitpun tentang hasil akhirnya (Matius 25:41). Karena itu, nubuat-nubuat tentang peristiwa penggenapan yang agung di masa depan, berkaitan dengan bukti nyata tentang Kerajaan Allah yang sudah datang saat itu.

Baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang, Allah yang memerintah sebagai Raja menuntut manusia untuk menyerahkan dirinya dengan penuh ketaatan. Manusia tidak dipanggil untuk membangun atau mendirikan sendiri Kerajaan itu, melainkan hanya mencarinya dan memasukinya (Matius 6:33; Markus 9:47)

Standard-standard etika Kerajaan itu tinggi sekali, jauh di atas standard para ahli Taurat dan orang Farisi, tuntutannya bukan hanya pengetahuan teori semata-mata, melainkan bagaimana melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Matius 5:20; Markus 12:32-34; Markus 10:15; Matius 13:44-46

Singkatnya, untuk dapat masuk kedalam Kerajaan Allah diperlukan ketaatan mutlak seperti seorang anak kecil dan juga dituntut kesetiaan serta pengabdian mutlak seorang murid. Namun yang seharusnya diutamakan manusia adalah mematuhi ketentuan atau peraturan Allah, sebab kerajaan Allah – seperti harta yang terpendam atau mutiara yang sangat mahal harganya – adalah satu perkara yang paling berharga di dalam hidup ini, sehingga pengorbanan macam apapun pantas dilakukan untuk memperolehnya.

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.