Home Info Tentang Pembinaan Katekisasi GPIB Ajaran Gereja Materi 13 : Allah Bapa, Pernyataan dan KaryaNya
Materi 13 : Allah Bapa, Pernyataan dan KaryaNya PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

Materi ke – 13

Pokok Bahasan           : Ajaran Gereja

Sub Pokok Bahasan   : Allah Bapa

ALLAH BAPA, PENYATAAN DAN KARYANYA

PENDAHULUAN

Kata ‘Allah’ adalah dari bahasa Arab. Kata ini, di dalam Alkitab, menunjuk pada ‘Sang Pencipta’ langit, bumi dan segala isinya, termasuk manusia. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan kata ‘Allah’ dari kata Ibrani ‘Elohim’. Nama ini mau menjelaskan eksistensi Sang Pencipta, bahwa Dia adalah ‘Allah’; bukan manusia, malaikat atau suatu makhluk lain.

Jika kita membaca Alkitab. Maka di samping kata ‘Allah’, ada juga kata lain yang menunjuk pada “Sang Pencipta” Misalnya, ‘TUHAN Allah’ yang diterjemahkan dari kata Ibrani ‘Yahweh Elohim (Kejadian 2 : 4b); ‘TUHAN’ diterjemahkan dari kata Ibrani Yahweh’ (Kejadian 6 : 7) dan ‘Tuhan’ yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani ‘Adonay. Kata ‘Adonay’ sesungguhnya adalah sebutan lain atau semacam gelar untuk ‘Yahweh’. Karena bagi orang Israel, kata ‘Yahweh’ adalah nama yang Mahasuci, sehingga tidak boleh disebutkan dengan sembarangan. ‘Jangan menyebut nama TUHAN; Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.’ (Keluaran 20:7) Oleh karena itu, setiap kali orang Israel menemukan kata ‘Yahweh’ mereka akan membacanya dengan ‘Adonay’ (Tuhan).

Pemakaian kata yang beragam, yang menunjuk pada Sang Pencipta, tidak bertujuan untuk membuat kita bingung, seolah-olah ada banyak Allah. Kita juga jangan mempersoalkan nama mana yang asli dan benar. Sebab hanya ada satu Allah, dan semua nama ataupun gelar yang disebutkan di atas menunjuk kepada menunjuk pada Allah yang satu itu. Keberagaman nama yang tampak hanya karena para penulis Alkitab ingin memahami dan menyebut Allah sesuai bahasa dan budayanya masing-masing.

Penjelasan ini penting karena belakang ini ada gerakan yang menamakan diri Pengagungan Kembali Nama Yahweh berusaha mempengaruhi warga jemaat. Gerakan ini menganggap bahwa nama yang benar untuk Sang Pencipta adalah Yahweh; bukan Allah. Menurut gerakan ini nama ‘Allah’ menunjuk pada ‘sesembahan’ umat Islam. Karena itu, mereka berusaha untuk menggantikan nama ‘Allah’ di dalam Alkitab dengan nama Yahweh. Padahal kita ketahui bahwa kata ‘Allah’ sudah dipakai di dalam Alkitab sejak lama; lagi pula kata ‘Allah’ sudah menjadi bahasa Indonesia.

Akan tetapi terkait dengan konteks di Indonesia, dan supaya kita bisa hidup dan bekerja sama dengan sesama umat beragama maka alangkah baiknya kita memakai kata ‘TUHAN’ sebagaimana juga disebutkan dalam Pancasila.

EKSISTENSI ALLAH

Alkitab menyaksikan bahwa pada mulanya, sebelum sesuatu diciptakan, hanya ada Allah. ‘Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.’ (Kejadian 1:1) Artinya, Allah adalah Pribadi yang ‘ADA’ dan ‘HADIR’ sebelum segala sesuatu ada. Oleh karena Allah ‘Ada’ dan ‘Hadir‘ maka pastilah Ia adalah Pribadi yang ‘HIDUP’; bukan suatu benda yang mati. Sebab suatu benda yang mati tidak akan mungkin dapat menatakan eksistensi dan kehadirannya.

Eksistensi Allah dalam pribadai yang ‘Ada’, ‘Hadir’ dan ‘Hidup’ – sebagai Terang, Roh dan Firman – membuat Allah menjadi Pangkal, Penggerak, Penata dan Pencipta dari segala yang ada, hidup dan bergerak di bumi. Sebagai ‘Terang’, Allah menerangi kegelapan. Sebagai ‘Roh’, Allah mempersiapkan segala sesuatu sebelum diciptakan. Sebagai ‘Firman’, Allah menciptakan; bukan hanya dalam arti menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada, tetapi juga dalam arti menata yang kacau-balau menjadi tertib dan teratur. (baca Kejadian 1 : 1 – 3).

PENYATAAN ALLAH

Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia, dengan Firman-Nya (Kejadian 1:2,6,9,11,14,20, 24,25,29) dan perbuatan tangan-Nya yang penuh kuasa (Kejadian 2:7,21-22). Karena itu, Allah juga disebut Mahakuasa.

Sebagai Pencipta yang Mahakuasa, Allah berada di atas segala yang diciptakan-Nya. Artinya, Allah bersifat ‘transenden’; mengatasi segala yang ada. Allah berada di tempat yang tinggi, kudus dan mulia, sehingga tidak terhampiri oleh suatu makhluk pun, termasuk manusia.

Keberadaan Allah yang transenden (tinggi dan mulia) menyebabkan manusia tidak dapat dan tidak sanggup mengenal Allah. Akan tetapi Allah mau menyatakan diri-Nya agar dapat dikenal oleh manusia. Eksistensi dan keberadaan Allah dinyatakan kepada manusia melalui karya ciptaan-Nya – langit, bumi dan segala isinya, termasuk manusia, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (baca Kejadian 1 : 26 – 27). Artinya, segala ciptaan, termasuk manusia, adalah penyataan diri Allah, yang melaluinya, manusia dapat mengenal Allah dan mengakui kemahakuasaan dan kekudusan-Nya, sehingga mau menyembah dan mengagungkan-Nya.

KASIH DAN KE-BAPA-AN ALLAH

Pokok Pengakuan Iman Raasuli tentang Allah Bapa berbunyi; ‘Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa. Pencipta langit dan bumi.’

Jelas, bahwa di dalam kemurkaan Allah yang menghukum manusia berdosa, tampak juga ke-Bapa-an Allah yang peduli dan mau terus memelihara bumi dan segala isinya dengan penuh kasih dan kesabaran. Bahkan Allah juga akan memulihkan dan membaharuinya.

Kasih dan ke-Bapa-an Allah nyata sejak penciptaan, khusus melalui kepeduliaan dan pemeliharaan-Nya atas dunia ciptaan-Nya, khusus kehidupan manusia. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka hubungan manusia bersama semua ciptaan lainnya terputus dan terpisah jauh dari Allah. Sejak itu, kehidupan manusia dan semua ciptaan lain di bumi senantiasa terancam kehancuran karena dikuasai oleh dosa yang membawa maut.

Allah sebagai pencipta dan pemilik tidak ingin bumi, khusus manusia ciptaan-Nya hancur karena dosa dan maut. Allah telah menghukum manusia, dan bahkan pernah merencanakan untuk memusnahkan bumi dan segala isinya. Akan tetapi kasih dan ke-Bapa-an Allah menggerakkan hati Allah untuk menyelamatkan manusia dan bumi ciptaan-Nya, dan tidak memusnahkan semuanya, sebab manusia adalah ‘gambar’ Allah. Allah menyelamatkan Nuh dengan seisi bahteranya serta menjadikannya umat baru (baca Kejadian  11).

Karya keselamatan Allah selanjutnya dinyatakan melalui pemanggilan Abraham, dan karena Abraham taat pada panggilan Allah maka Allah mengikat perjanjian keselamatan dengan Abraham. Bahwa melalui Abraham dan keturunannya (Israel dan Gereja), semua bangsa di bumi akan memperoleh keselamatan karena berbalik dari dosanya dan mentaati perintah Allah (baca Kejadian 12).

Allah berkehendak bebas untuk memanggil dan memilih siapa pun tanpa memperhitungkan perbuatan baiknya. Allah memanggil dan mengutus orang-orang pilihan-Nya, baik Bapa leluhur (Abraham, Ishak dan Yakub), maupun Israel, termasuk para nabi, guna diutus untuk melaksanakan rencana-Nya menyelamatkan manusia dan seluruh ciptaan. Yang terpenting adalah ‘yang dipanggil’ harus datang dan siap pergi ke mana pun ia diutus untuk melakukan semua yang Allah perintahkan dalam ketaatan pada kehendak-Nya.

Pemahaman Israel tetang Allah sebagai Bapa yang penuh kasih merupakan sebuah tranformasi atau lompatan ide dan keyakinan yang sangat maju di tengah pemahaman agama-agama di sekitar Israel bahwa ilah atau dewa mereka sangat kejam dan penuh angkara murka. Tidak mengherankan jika ilah atau dewa harus didekati dan disembah dalam sikap takut dan gentar. Akan tetapi karena Israel tidak mentaati perintah Allah maka Israel jauh dari Allah dan selalu dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Israel merasa seolah-olah telah kehilangan kasih dan ke-Bapa-an Allah. Israel pun berlaku seperti bangsa-bangsa di sekitar  yang memahami Allah sebagai Pribadi yang kejam, dan berusaha mendekati Allah dengan takut dan gentar. Meskipun begitu kasih dan ke-Bapa-an Allah tidak pernah hilang dari Israel. Allah tetap mengasihi Israel; selalu menjadi Bapa bagi Israel dan menganggap Israel sebagai anak-anak-Nya. Hal ini berlangsung sampai pada zaman Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus memanggil Allah sebagai Bapa-Nya, dan memahami diri-Nya sebagai Anak Allah karena dalam segala hal, Tuhan Yesus selalu bertindak menurut kehendak Allah. Tuhan Yesus berusaha memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang panjang sabar dan penuh kasih; seorang Bapa yang tidak pernah membeda-bedakan kasih-Nya kepada semua orang yang mau menjadi anak-anak-Nya, dan mengaku percaya kepada-Nya sebagai Bapa. Itulah sebabnya juga maka Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdoa dan memanggil Allah sebagai Bapa (Matius 6 : 9-13). Dengan perkataaan lain, Tuhan Yesus mau memasukkan kita dalam suatu hubungan yang baru dengan Allah; yaitu bahwa Allah adalah Bapa kita, dan kita adalah anak-anak Allah karena percaya kepada Tuhan Yesus. Itu berarti bahwa kita pun harus taat pada perintah dan kehendak Allah, sebagaimana diteladankan oleh Tuhan Yesus.

Ketaatan kepada Allah akan membuat kita mendekati Allah tidak lagi dengan sikap takut dan gentar, tetapi dengan sikap hormat, patuh dan setia untuk melakukan kehendak Allah, sehingga dapat merasakan kasih-Nya sebagai Bapa kita.

Pengakuan dan pemanggilan Allah sebagai Bapa yang penuh kasih tidak serta merta menghilangkan kehangatan murka-Nya untuk menghukum manusia jika berbuat dosa. Pengakuan dan pemanggilan Allah sebagai Bapa mau menjelaskan bahwa di dalam kasih-Nya kita akan temukan rahmat dan berkat-Nya; dan di dalam kemurkaan dan penghukuman-Nya, kita akan menemukan kasih dan pengampunan-Nya.

Oleh karena kita mengakui Allah sebagai Pencipta dan Bapa kita maka kita memperoleh masa depan yang pasti; bukan hanya diri kita saja tetapi juga seluruh ciptaan.

DAFTAR BUKU

  1. Alkitab, 2003; LAI
  2. Dogmatika Masa Kini, 1993; G.C.Niftrik & B.J.Boland
  3. Institusio, Pengajaran Agama Kristen, BPK 1985; Yohanes Calvin.
  4. Iman Kristen, 1991; Harun Hadiwijono.
  5. Pengantar Sejarah Dogmatika Kristen, 1989; Bernard Lohse.
 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.