Home Info Tentang GPIB Pemahaman Iman GPIB Manusia Penjelasan Manusia Alinea 5

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Penjelasan Manusia Alinea 5 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

PENJELASAN TENTANG PEMAHAMAN IMAN GPIB

III  MANUSIA

ALINEA 5

Bahwa manusia diberi kemampuan 1) dan wewenang menata-layani alam 2) berserta isinya; kemampuan dan wewenang ini dilaksanakannnya dalam keseimbangan di antara kebebasan dan tanggung-jawab 3) , dan di antara hak dan kewajiban 4).

 

III.5.1. MANUSIA DIBERIKAN KEMAMPUAN

Di sepanjang sejarah Gereja percaya dan mengakui, bahwa manusia adalah ciptaan Allah. ”Tanah liat”, materi dasar membuat manusia telah menunjuk pada kelemahan dan keterbatasan, ketidak sempurnaan dan kekurangan, ketidak berdayaan dan ketidak mampuan manusia.

Nafas (Roh Kehidupan) manusia itu adalah karunia Allah (Kejadian 2:7). Menurut sejarahnya manusia itu terdiri dari dua unsur yang berbeda : bersifat material dan imaterial, yang bersifat jasmaniah dan juga spiritual. Akan tetapi secara substansial manusia disebut makhluk hidup disebabkan ia bernafas. Ke dalam tubuh (material) yang dapat binasa, Allah memberikan nafas sehingga ”tubuh yang mati” itu hidup (bandingkan Yehezkiel 37:4,5). Jika demikian hidup manusia tergantung pada Allah selaku Pemberi Kehidupan (Ulangan 8:3). Rohlah yang memberi hidup (Yohanes 6:63).

Demikian juga kemampuan, karunia rohani (1 Korintus 12:4-6), pengetahuan, kepandaian (Mazmur 94:10; Daniel 1:17; 1 Korintus 1:5) merupakan pemberian Allah. Jadi Alkitab bersaksi bahwa manusia tidak mungkin dapat mengembangkan hidup, jikalau ia tidak berjalan bersama Allah.

 

III.5.2. WEWENANG MENATALAYANI ALAM

Langit dengan segala makhluk angkasa, bumi dengan segala ciptaan yang ada di atasnya dan yang ada di bawah bumi bahagian bawah, laut dengan segala isinya, adalah ciptaan Allah. Karena itu seluruh alam semesta adalah kepunyaan Allah. Manusia secara eksistensial maupun esensial juga kepunyaan Allah. Tidak ada satupun di bawah langit dimiliki manusia.

Allah menciptakan manusia untuk tujuan-Nya yang mulia, yakni : KESELAMATAN HIDUP CIPTAAN. Untuk maksud dan tujuan itu pula Allah memberikan MANDAT (kepercayaan dan tanggungjawab) pada manusia, agar manusia menatalayani (Inggris: stewardship ; Yunani: oikonomos) alam semesta. Manusia diberikan kebebasan untuk menatalayani alam semesta dalam batas-batas tanggung jawab sesuai dengan Firman Allah (Kejadian 2:15-17). Ia dapat memerintahi dunia, namun tetap harus taat dan setia kepada Allah, Pencipta.

Naskah Alkitab tentang PENATALAYANAN alam semesta :

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak ; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasa lah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1 : 28)

”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)

Ayat-ayat yang dikutip di atas menunjuk pada beberapa pemahaman penting :

1. ALLAH MEMBERKATI .

Manusia hidup, karena Allah memberkatinya. Berkat itu adalah keselamatan hidup yang meliputi aspek kehidupan spiritual maupun material.

2. ALLAH BERFIRMAN

Dalam upaya mengembangkan dan mengisi kehidupan, manusia harus setia dan taat melakukan Firman Allah. Kesetiaan dan ketaatan memberlakukan Firman Allah merupakan pernyataan sikap hati manusia yang mengasihi Allah.

Pada sisi lain, memberlakukan Firman TUHAN merupakan perbuatan yang baik dan benar, yang sama sebutannya dengan IBADAH. Memberlakukan Firman Allah sama artinya dengan membaktikan diri melaksanakan dan menyelenggarakan rencana penyelamatan Allah ke atas dunia ciptaan-Nya. Dan, karena itu Allah memberkati manusia.

Allah yang berfirman itu memberikan tugas kepada manusia :

1. Beranak cucu dan bertambah banyak, penuhilah dan taklukan bumi :

1.a. BERANAK CUCU DAN BERTAMBAH BANYAK :

    1. Gereja memahami tugas ”beranak cucu” dan ”bertambah banyak” serta ”penuhilah” bumi terkait dengan fungsi suami-isteri dalam institusi perkawinan yang disahkan negara dan diberkati dalam ibadah Gereja.
    2. Sesuai dengan keyakinan iman berdasarkan kesaksian Alkitab, dan yang ditetapkan dalam Keputusan-Keputusan Gereja di dalam AKTA GEREJA, maka Gereja tidak menyetujui terjadinya hubungan seksual di luar pernikahan kudus.

1.b. TAKLUKKAN DAN KUASAILAH

Alam bukan musuh manusia. Alam adalah sesama ciptaan. Manusia dan alam perlu saling mendukung. Ungkapan ”taklukkan” dan ”kuasai” bumi, tak berkonotasi negatif, seolah alam adalah musuh manusia yang harus diperangi.

Bahasa Ibrani ”kuasai” dan ”taklukkan” menunjuk pada artikulasi positif. Kedua kata itu menunjuk pada pengartian pemberdayaan alam demi memenuhi kebutuhan manusia .

2. Mengusahakan dan memelihara bumi

Pengusahaan dan pemeliharaan alam menunjukkan pada fungsi pengembangan kehidupan antar sesama ciptaan.

    1. Hubungan SIMBIOSIS MUTUALIS (Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan). Hubungan interaktif antara manusia dan alam harus tiba pada situasi dan kondisi yang saling menguntungkan semua pihak. Alam dapat diberdayakan demi memenuhi kebutuhan manusia; akan tetapi manusia pun harus memikirkan dan merencanakan daur-ulang bagi eko-sistem alami.
    2. Pemeliharaan alam yang dilakukan manusia seharusnya bersifat holistik. Manusia harus memikirkan dan merencanakan keutuhan ciptaan Allah dalam alam semesta dengan membangun kembali ”Eden” yang baru di dalam Kristus Yesus.

 

III.5.3. KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

KEBEBASAN itu hak azasi manusia yang dikaruniakan Allah sejak penciptaan. Kebebasan bukan hak azasi yang dimiliki seseorang karena status sosialnya. Kebebasan itu melekat utuh dan terpadu dengan penciptaan atau kelahiran.

Akan tetapi secara sosial KEBEBASAN harus diatur di dalam norma masyarakat, agar kebebasan dapat diberdayakan demi kepentingan bersama, demi pembangunan manusia dan sesamanya, dan demi pembangunan alam ciptaan Allah. Pembatasan KEBEBASAN itu dilakukan dengan mengadakan TANGGUNG JAWAB manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial.

Dengan demikian Gereja tidak mengenal KEBEBASAN YANG TIDAK TERBATAS. Gereja ditugaskan Allah untuk menata dan mengatur KEBEBASAN dalam fungsi dan peran sosio-religius warganya. Dalam hal seperti inilah KEBEBASAN disebut KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG-JAWAB.

 

III.5.4. HAK DAN KEWAJIBAN

Gereja memahami HAK DAN KEWAJIBAN berdasarkan kesaksian Alkitab tentang PANGGILAN DAN PENGUTUSAN. Allah memanggil orang percaya untuk menerima berkat perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan Abraham, bapa segala orang beriman. Bersamaan dengan itu orang percaya pun diutus untuk membagi berkat kepada sesamanya.

Sesungguhnya, PANGGILAN Allah kepada manusia itu menunjuk pada pemberian HAK sebagai ahli waris perjanjian Allah; sedangkan PENGUTUSAN-Nya menunjuk pada KEWAJIBAN yang harus dilakukan orang percaya.

Dengan demikian PANGGILAN (HAK) dan PENGUTUSAN (KEWAJIBAN) harus dipahami dan dihayati dalam proses pelaksanaan dan penyelenggaraan IBADAH JEMAAT di tengah dunia ciptaan Allah.

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.