Home Info Tentang GPIB Pemahaman Iman GPIB Firman Allah Penjelasan Firman Allah Alinea 3
Penjelasan Firman Allah Alinea 3 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

PENJELASAN TENTANG PEMAHAMAN IMAN GPIB

VII  FIRMAN ALLAH

ALINEA 3

Bahwa dengan terang Roh Kudus, persekutuan orang percaya menetapkan tulisan-tulisan 1) yang memberitakan perbuatan Allah serta respons manusia terhadap tindakan Allah pada kurun waktu tertentu .


VII.3.1 ORANG PERCAYA MENETAPKAN TULISAN-TULISAN

Kesaksian Kitab Suci :    1. Yohanes 22: 25.

2. 2 Timotius 3 : 16-17

3. 2 Petrus 1: 20-21

4. Wahyu 22 : 18


I. TUJUAN PENERIMAAN KANON KITAB SUCI

Gereja percaya dan mengakui, bahwa Allah telah menyatakan diri melalui Firman Allah baik yang  disampaikan secara lisan dan tulisan serta mencapai puncaknya di dalam kehadiran Yesus Kristus (Yohanes 1:1-4,14). Melalui Firman lisan maupun tulisan itu Allah mengkomunikasikan kehendak-Nya, agar manusia mengenal dan mengetahui rencana dan maksud Allah. Oleh karena itu, gereja perlu menyatakan daftar Kitab-Kitab yang dipedomani sebagai dasar bagi pemberdayaan seluruh kehidupan orang-orang percaya yang bersekutu di dalam Gereja (GPIB). Kanon Kitab Suci bertujuan:

1. Menjadi landasan bagi pengembangan seluruh jenjang peraturan-peraturan Gereja;

2. Menertibkan kehidupan etis-moral Warga dan Presbiter/Pejabat Gereja sesuai Panggilan dan Pengutusan Allah.

Menjadi landasan bagi :

a. Leksionari (Daftar Bacaan Pemberitaan Firman).

b. Materi Kurikulum Katekisasi (Kelas Dewasa Umum dan Kelas Dewasa Khusus).

c. Materi Kurikulum Kelas Katekisasi Pemuda dan Remaja.

d. Kurikulum Pembelajaran Anak-Anak (PA/PT).

e. Menjadi dasar dari pemberitaan (Yunani : kerugma, Ibrani : Berith) dan pengajaran (Yunani : didache) di dalam Gereja dan di luar Gereja.

3. Menjadi landasan pengambilan keputusan etis-moral dalam penggembalaan umum maupun khusus untuk membangun kehidupan persekutuan – pelayanan – kesaksian yang bersih sesuai kehendak Allah.



II. OTORITAS KITAB SUCI 13

II.1. Otoritas Kitab Suci tak tergantung pada pernyataan dan pengakuan Gereja, akan tetapi melekat erat pada TUHAN Kepala Gereja. Hal itu berarti Gereja mengakui dan menyatakan, bahwa di dalam Kitab Suci Allah berkenan menyatakan kehendak-Nya kepada manusia melalui persekutuan umat yang dipanggil dan dipilih-Nya sendiri.

II.2. Disebabkan otoritas Kitab Suci tidak tergantung pada Pengakuan dan Pernyataan Gereja, maka Kitab Suci berkedudukan lebih tinggi dari pada Gereja dan seluruh jenjang peraturannya.

II.3. Ada atau tidak adanya Gereja sebagai organisasi sosial-kegamaan tidak berpengaruh besar terhadap ada atau tidak adanya Kitab Suci. Sebab Gereja hanya mengenal dirinya dalam pembacaan dan pemberlakuan kehendak Allah seperti yang ditemukan pada pernyataan dari tulisan-tulisan Kitab Suci.

Gereja tidak mengenal satu persekutuan lain yang sehakikat, setara dan sederajat dengan dirinya di luar pernyataan Kitab Suci.14 Berdasarkan otoritas Kitab Suci, Gereja mengemban kuasa Allah yang dikaruniakan Roh Kristus kepadanya untuk menjalankan fungsi pelayanan-kesaksian.

II.3. Di dalam Kitab Suci manusia ciptaan Allah, baik di dalam Gereja maupun ”di luar Gereja” 15 dapat menemukan pernyataan dari orang-orang beriman yang menuliskan pengalaman perjumpaannya dengan TUHAN Allah. Penulisan pengalaman iman itu diungkapkannya dengan memakai bentuk-bentuk kesusateraan yang berlaku pada masanya.

II.4. Karena itu, usaha menafsirkan dan mengkontekstualisasikan atau membumikan Firman Allah (Ibrani : Amar YHWH, Dabar YHWH; Yunani : Logou tou Theou; Arab : Kalam Allah) perlu memperhatikan konteks kebudayaan dan peradaban ketika Firman Allah dituliskan para penulisnya. Pentafsiran itu dilakukan dengan mengindahkan aturannya (2 Petrus 1:20), agar dapat menjamin kemurnian pemberitaan dan pengajaran Gereja.

II.5. Firman Allah yang diberitakan dan diajarkan Gereja berdasarkan kesaksian Kitab Suci terdiri dari :

i. Ucapan-ucapan langsung dari Allah yang tertulis di dalam Kitab Suci.

ii. Cerita-cerita yang dituliskan penulis kitab-kitab (di dalam Kitab Suci) yang bersumber dari pengalaman perjumpaan dengan TUHAN Allah di dalam kehidupan konteksnya.


II.6. IMAN dan KITAB SUCI

A. Bertolak dari pemberitaan Kristus Yesus dan pengajaran para rasul-Nya; dan, oleh karena pekerjaan Roh Kudus, iman kepada Allah bertumbuh dan berbuah di dalam kehidupan manusia, seperti yang dikatakan Paulus : ”Iman itu timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman Allah(Roma  10:17).

B. Iman yang sehat tampak dari buah-buah yang terungkapkan melalui perbuatan baik yang   dituntun oleh kuasa Roh Kudus (Galatia 5:25; Filipi 2:12-13; Yakobus 2:14,24,26).

C. Untuk mengukur kebenaran perbuatan baik yang lahir dari ketaatan iman kepada Allah melalui Kristus Yesus serta mengawasi dengan tujuan mendidik orang percaya dalam kesalehan Gereja wajib memakai Kitab Suci sebagai ukuran (Yunani : kriterion) dan pedomannya. Dengan demikian proses pembangunan kepribadian Gereja-Jemaat baik secara individual maupun kepribadian organisasi dapat bertumbuh sesuai dengan kehendak TUHAN Allah (2 Timotius 3:16-17).


II.7. KRISTUS YESUS dan KITAB SUCI

A. Gereja mengakui dan mengimani penggenapan dan pemenuhan janji-janji Allah yang tertulis di dalam Perjanjian Lama di dalam Kristus Yesus.

B. Berdasarkan kesaksian yang dituliskan oleh penulis-penulis dalam Kitab Suci, Gereja memberitakan dan mengajarkan pemahaman dan pengakuan imannya tentang KRISTUS YESUS adalah 16 FIRMAN ALLAH. Dia telah menjadi dan diam di antara manusia (Yohanes 1:14)

C. Gereja sesuai dengan pemahaman dan pengakuan imannya secara tersendiri 17 maupun dalam keesaan yang bersifat oikumenis 18, menyaksikan dalam pemberitaan dan pengajarannya, secara langsung dan terbuka : YESUS adalah KRISTUS (Kisah Para Rasul 3:20-21), KRISTUS YESUS adalah TUHAN bagi kemuliaan Allah Bapa (Kisah Para Rasul 2:36; Filipi 2:10), dan bahwa KRISTUS YESUS adalah MESIAS, Anak Allah Yang Hidup (Matius 16:16).

D. KRISTUS YESUS adalah FIRMAN ALLAH (Yohanes 1:1-2) yang menampilkan HIKMAT ALLAH di hadapan  manusia (bandingkan 1 Korintus 1:24,30; Amsal 8:22)

 

II.8. KITAB SUCI BERSIFAT TERBATAS DAN TIDAK TERBATAS

A. KITAB SUCI BERSIFAT TERBATAS

KANON 19 Kitab Suci diterima sebagai kesatuan yang utuh dari pemahaman, bahwa Kitab Suci (di mana terdapat tulisan-tulisan atau nubuat-nubuat atau surat-surat atau kitab-kitab) bersifat terbatas, sebab ia dituliskan berdasarkan latar belakang konteks penulisnya. Hal itu berarti bahwa meskipun tulisan-tulisan di dalam Kitab Suci diterima sebagai “penyataan Allah”, akan tetapi Allah tidak menyusunnya dalam bentuk kitab-kitab, tulisan-tulisan, surat-surat, perikop-erikop, Judul-Judul dan dalam ayat-ayat sebagaimana yang ditemukan dalam KANON Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

B. KITAB SUCI BERSIFAT TIDAK TERBATAS

i. Kesaksian-Kesaksian para penulis, di dalam Kitab Suci, meskipun bersifat terbatas karena konteksnya, tidak dapat membatasi Allah yang bekerja –- berfirman –- pada dalam setiap waktu dan tempat untuk menyelamatkan ciptaan-Nya.

ii. Sekalipun Kebenaran Allah dinyatakan-nya melalui Kitab Suci, namun Gereja dan orang-orang percaya perlu membuka diri terhadap karya Allah yang berfirman dalam kurun waktu di mana Gereja melaksanakan panggilan dan pengutusan-Nya. Sikap demikian dibijaki Gereja dan orang-orang percaya dengan ”menguji roh” (1 Yohanes 4:1-3) kebenaran yang bermunculan dengan menggunakan Kanon Kitab Suci dan dituntun oleh Roh Kristus 20.

iii. Gereja diberikan kuasa oleh Allah untuk menyelidiki untuk menemukan kebenaran Allah yang terdapat di dalam kesaksian-kesaksian para penulis Kitab Suci.

C. KITAB SUCI dan KEBENARAN ALLAH

i. YESUS KRISTUS adalah KEBENARAN ALLAH (Yohanes 14:6). Hal itu disaksikan oleh Kitab Suci.

ii. Oleh karena itu, Gereja memahami dan mengakui bahwa Kitab Suci memberikan penjelasan kepada Gereja dan orang percaya tentang  KEBENARAN ALLAH.

iii. Gereja dan orang percaya memahami dan mengakui pula, bahwa pengertian dan pengenalan akan KEBENARAN ALLAH itu hanya dapat dimiliki, jika Roh Kudus memberikan tuntunan-Nya (Yohanes 16:12-13, 16-17;15:26).


II.9. KITAB-KITAB YANG DIKANONKAN

Demi memelihara dan menjaga serta mengawasi pemberitaan dan pengajarannya, sesuai dengan tradisi gerejawi (1 Korintus  11:23 : 2 Timotius 2:2), Gereja menerima ke – 66 Kitab di dalam Kitab Suci sebagai berikut :

a. KANON PERJANJIAN LAMA

Kitab Suci Kristen terdiri dari PERJANJIAN LAMA dan PERJANJIAN BARU.

    1. Sepanjang perrkembangan sejarah agama Israel ditemukan tulisan-tulisan yang lebih tua dan muda usianya dalam kurun waktu sampai kelahiran Yesus Kristus, Gereja menghormati temuan temuan tersebut bagi pengembangan studi teologi.
    2. Kitab-Kitab ataupun manuskrip yang dimaksudkan butir 1 di atas tercantum di dalam daftar di bawah ini :
    3. Gereja hanya menerima dan mengakui 39 Kitab-Kitab yang terdapat di dalam Perjanjian Lama

b. KANON PERJANJIAN BARU

1. Gereja mengetahui dan menyadari akan pertumbuhan dan perkembangan sastera Kristen yang dituliskan sejak abad I – IV Masehi bermanfaat bagi pengembangan pemikiran teologi dalam kegiatan akademis.

2. Di antara Kitab-Kitab dan tulisan-tulisan yang ditemukan sepanjang abad I – IV terdapat pula tulisan–tulisan yang sesat atau pseudo-epigraph.

Gereja menolak seluruh kebenaran yang disebut ataupun yang diceritakan tentang Allah Trinitas : Bapa, Putra – Roh Kudus yang terdapat dalam tulisan-tulisan tersebut.

3. Bertolak dari Pemahaman Iman seperti itu Gereja belum dapat menerima kitab-kitab DEUTERO-KANONIKA dan atau Kitab-Kitab APOKRIPH seperti yang dikategorikan di bawah ini :

4. Hal itu disebabkan alasan penggembalaan dan pemeliharaan jiwa dan pertumbuhan iman yang sehat sesuai dengan ajaran-ajaran yang sehat, maka Gereja menerima dan mengakui 27 Kitab yang terdapat di dalam Perjanjian Baru dan yang dituliskan dalam berbagai bentuk sastera.


KANON ALKITAB
PERJANJIAN LAMA 
PERJANJIAN BARU

LIMA KITAB MUSA

(PENTATEUKH)

KEJADIAN

KELUARAN

IMAMAT

BILANGAN

ULANGAN

EMPAT KITAB INJIL

MATIUS

MARKUS

LUKAS

YOHANES

KITAB SEJARAH

YOSUA

HAKIM-HAKIM

I SEMUEL

II SEMUEL

I RAJA-RAJA

II RAJA-RAJA

I TAWARIKH

II TAWARIKH

RUT

EZRA

NEHEMIA

ESTER

KITAB SEJARAH

KISAH PARA RASUL

KITAB – KITAB PUISI

AYUB

MAZMUR

AMSAL

KIDUNG AGUNG

PENGKHOTBAH

RATAPAN YEREMIA

SURAT – SURAT

SURAT ROMA

SURAT I KORINTUS

SURAT II KORINTUS

SURAT GALATIA

SURAT EFESUS

SURAT FILIPI

SURAT KOLOSE

SURAT I TESALONIKA

SURAT II TESALONIKA

KITAB NABI – NABI

I. NABI-NABI BESAR

YESAYA

YEREMIA

YEHEZKIEL

II. NABI-NABI KECIL

DANIEL

HOSEA

YOEL

AMOS

OBAJA

YUNUS

MIKHA

NAHUM

HABAKUK

ZEFANYA

HAGAI

ZAKARIA

MALEAKHI

SURAT-SURAT

PENGGEMBALAAN

I.SURAT PENGEMBALAAN

UMUM

SURAT IBRANI

SURAT YAKOBUS

SURAT I PETRUS

SURAT II PETRUS

SURAT I YOHANES

SURAT II YOHANES

SURAT III YOHANES

SURAT YUDAS

II. SURAT PENGGEMBALAAN

KHUSUS

SURAT I TIMOTIUS

SURAT II TIMOTIUS

SURAT TITUS

SURAT FILEMON


KITAB APOKALIPTIK

KITAB WAHYU KRISTUS


---------------

13 Yang dimaksudkan dengan KITAB SUCI = ALKITAB

14 Pernyataan tersebut bertujuan untuk menolak seluruh bentuk persekutuan lain yang lahir dari kesalah pahaman manusia menafsirkan Kitab Suci, seperti : bidah-bidah atau bentuk-bentuk lain dari perupaan aliran sesat, termasuk di dalamnya Gereja Setan, yang bertumbuh kembang di Indonesia serta diakui / ditetapkan dalam Lembaran Negara melalui Keputusan Departemen Agama.

15 Istilah “di luar Gereja” menunjuk pada orang-orang yang hidup di luar kekuasaan Gereja maupun mereka yang tidak percaya kepada Kristus Yesus.

16 Kata adalah bukanlah kata Bantu ataupun partisip. Kata ”adalah” digunakan Gereja untuk menjelaskan keyakinan imannya terhadap kekuatan kuasa FIRMAN ALLAH ”yang kreatif” atau ”yang menjadi (Yohanes 1:1-2), mencipta”. Kata tersebut tidak menunjukkan pada perbedaan anrtara hakekat (esensi = zat) Bapa dan Anak, akan tetapi menunjuk pada ”kegiatan FIRMAN YANG MENJADI dan MENCIPTAKAN DIRI KE DALAM BENTUK dan RUPA MANUSIA-ALLAH.

17 Yang dimaksudkan dengan ’secara tersendiri” menunjuk pada Pemahaman Iman dari tiap-tiap Gereja – Gereja sesuai konteks yang dihadapinya. Dalam hal ini termasuk PEMAHAMAN IMAN GPIB.

18 Pengakuan Iman Oikumenis yang dimaksudkan adalah PENGAKUAN IMAN RASULI (Credo APOSTOLICUM), PENGAKUAN IMAN NICEA (Credo NICAEA CONTANTINAPOLITAN), dan formulasi Pengakuan Iman yang disusun secara pribadi oleh Athanasius (Credo ATHANASIUS).

19 Kata CANON berasal dari bahasa Latin yang berarti : ukuran, barometer. Tongkat pengukur, sesuatu yang dipakai untuk menimbang dan menilai.

20 Pernyataan II.8.B.ii ini bertujuan membuka kepekaan Gereja terhadap kebenaran-kebenaran yang disuarakan oleh aliran-aliran Kristen berdasarkan nama Yesus Kristus. Tetapi sekaligus mendorong Gereja untuk meningkatkan kewaspadaan (bersikap kritis) terhadap perkembangan kekristenan yang menjamur masakini dan masadepan (bandingkan Efesus 4:14; Matius 24:23)

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.