Home Info Tentang GPIB Pemahaman Iman GPIB Firman Allah Penjelasan Firman Allah Alinea 1

Warning: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone. in /home/immanuel/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Penjelasan Firman Allah Alinea 1 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

.

PENJELASAN – PENJELASAN TENTANG

PEMAHAMAN IMAN GPIB





VII

FIRMAN ALLAH



ALINEA 1

Bahwa dengan perantaraan firman-Nya 1) Allah telah menciptakan langit dan bumi serta isinya 2). Firman Allah berkuasa untuk mengubah dan membaharui 3) .

 

VII.1.1. FIRMAN

”KITAB SUCI KRISTEN BER-’INTI'-KAN FIRMAN ALLAH”.

Pernyataan tersebut bertujuan menjelaskan pemahaman Gereja, bahwa seluruh tulisan yang dibuat dengan menggunakan bentuk sastera (puisi, prosa, prosa lirik) menceritakan INTI BERITA tentang ALLAH YANG BERFIRMAN dan BERKARYA.

A. KITAB SUCI, sebuah TRADISI LISAN

Pada awalnya INTI BERITA, yaitu: Firman Allah dihafalkan orang percaya dan diajarkan berulang-ulang dari generasi ke generasi (Ulangan 6:7). Ia diwariskan secara lisan melalui proses pengajaran di dalam pertemuan-pertemuan orang-orang kudus.

1. TRADISI LISAN DALAM PERJANJIAN LAMA

Tradisi tentang Penciptaan, Menara Babel, Nuh dan bahteranya, Penggilan dan Perjanjian Allah dengan leluhur Israel, pembebasan (exodus) Israel dari Mesir, perjalanan selama di padang gurun sampai memasuki tanah Kanaan dan lain-lain merupakan cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita tersebut belumlah tercatat pada saat peristiwa itu berlangsung.

Di kemudian hari, setelah Israel menetap sudah lama di tanah perjanjian, bahkan sampai ke dalam pembuangan di Babilonia, barulah tradisi lisan itu disalin dan dicatatkan kembali.

2. TRADISI LISAN DALAM PERJANJIAN BARU

Demikian pula halnya dengan Tradisi Lisan yang ada di dalam tulisan-tulisan KITAB SUCI PERJANJIAN BARU, seperti: cerita-cerita di sekitar karya hidup Yesus Kristus, cerita-cerita pekabaran Injil yang dilakukan oleh murid-murid berdasarkan perintah Yesus (Matius 28:18-20; Markus 16:1-15). Pada saat Yesus Kristus masih hidup dan berkarya belum ada Injil Sinoptis yang dituliskan.

Informasi tertulis tentang Yesus hanya diperoleh dari surat menyurat Pejabat Kekaisaran Roma di tanah Yudea kepada atasannya. Namun harus diakui, cerita-cerita sejarah tentang kehidupan Yesus diingat, disampaikan secara berulang-ulang dari generasi ke genarasi.

Di kemudian hari setelah pekabaran Injil semakin meluas dan orang Kristen semakin bertambah serta Jemaat-Jemaat Kristen berkembang, maka penulis-penulis Kristen mulai melakukan pengumpulan bukti-bukti sejarah, meneliti dan mengkajinya, lalu membukukannya dalam kitab-kitab (bandingkan Lukas 1:1-4).

B. KITAB SUCI, sebuah TRADISI TERTULIS

Penelitian, pengkajian dan penulisan (Pengkhotbah 1:13; Lukas 1:1-4) dilakukan penulis-penulis atas cerita-cerita lisan dan fragmen-fragmen naskah suci. Perbuatan itu dilakukan dengan maksud dan tujuan khusus :

    1. Untuk dijadikan materi pemberitaan di dalam pertemuan umat;
    2. Untuk dijadikan materi pengajaran kepada anak-anak;
    3. Menjadi landasan pertumbuhan spiritualitas yang sehat dan benar.
    4. Untuk mengawasi kehidupan etis-moral dalam persekutuan umat;
    5. Untuk menjadi landasan dari nilai-nilai bagi proses pembangunan sistem keumatan dalam Perjanjian Lama dan Gereja dalam Perjanjian Baru

1. TRADISI TERTULIS – PERJANJIAN LAMA

FIRMAN ALLAH adalah INTI berita yang diceritakan berulang-ulang itu, kemudian dituliskan dan dibukukan satu demi satu. Penulisan itu tampak dalam beragam metode.

BUKTI-BUKTI TERTULIS

a). Penulis Kitab Ulangan (Deuteronomi) memulai penulisan tentang Ajaran Musa dengan catatan :

Inilah hukum Taurat yang dipaparkan Musa kepada orang Israel (Ulangan 4:44)

Istilah ”hukum Taurat” yang digunakan penulis Ulangan memiliki makna ganda. Ada perbedaan di antara hukum Taurat dan Taurat (Ibrani : Torah; Indonesia : petunjuk, pengajaran). Yang dimaksudkan dengan TORAH adalah kesepuluh bahagian (Decalog atau Dasa Titah) yang diberikan TUHAN kepada Musa, supaya dibacakan kepada orang Israel. Sementara hukum Taurat menunjuk pada pengertian jenjang pada hukum Israel yang disusun berdasarkan Torah TUHAN. Jenjang  hukum-hukum Israel itu disebut : misphatim, dan tersusun sebagai berikut :

1. TORAH sebagai landasan Konstitusional  Ulangan 5 : 1

2. Ketetapan Ulangan 4 : 45

3. Peraturan Ulangan 6 : 1

b). Kata Pengantar dalam Kitab-Kitab Para Nabi adalah catatan yang diberikan oleh editor (penyunting), dengan tujuan, agar pembaca mengetahui masa kerja dan mengenal lebih dekat riwayat kehidupan nabi – contohnya :

  1. Yesaya 1 : 1

Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda.

  1. Yeremia 1 : 1-3

Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin. Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. Firman itu datang juga dalam zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, sampai akhir tahun yang kesebelas zaman Zedekia bin Yosia, raja Yehuda, hingga penduduk Yerusalem diangkut kedalam pembuangan dalam bulan yang kelima.

  1. Amos 1 : 1-2

Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa, tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, raja Is rael, dua tahun sebelum gempa bumi. Berkatalah ia: "TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel."

  1. Zakharia 1:1

Dalam bulan yang kedelapan pada tahun kedua zaman Darius datanglah firman TUHAN kepada nabi Zakharia bin Berekhya bin Ido, bunyinya : ....

Jadi jelaslah, bahwa dari beberapa contoh yang dikemukakan itu, kita dapat mengetahui latar belakang konteks di mana nabi menyampaikan INTI berita, yakni; FIRMAN TUHAN. Peranan editor (penyunting) naskah-naskah suci yang dikumpulkan menjadi KITAB SUCI orang Israel (namanya : TANAKH) amat penting, meskipun mereka tidak menerima ucapan-ucapan langsung (direct-clause) dari TUHAN.

Nabi-nabilah yang menerima ucapan langsung dari TUHAN, contohnya :

  1. Yesaya 7 : 8

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

  1. Yeremia 1 : 4-5

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

  1. Hosea 3 : 1

Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai o rang Is rael, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis ."

Ungkapan : ”Berfirmanlah TUHAN kepadaku” (Hosea 3:1), ”Firman TUHAN datang kepadaku” (Yeremia 1:4) dan ”aku mendengar suara TUHAN” (Yesaya 7:8) menjelaskan, bahwa TUHAN Allah berbicara langsung (direct-clause) kepada sang nabi, tanpa melalui perantara. Hal itu tampak pada pemakaian akhiran kata ganti orang pertama tunggal ”ku” atau kata ganti orang pertama tunggal ”aku”.

4. TAFSIRAN NABI ATAS INTI FIRMAN ALLAH

Di samping INTI FIRMAN yang diucapkan Allah secara langsung (direct-clause) ada pula tafsiran nabi atas INTI FIRMAN yang kemudian di sampaikan kepada umat, seperti :

Amos 5 : 4 (INTI FIRMAN) diucapkan langsung oleh Allah, bunyinya : ”beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” Ucapan ini langsung dari Allah, agar Amos menyampaikan kepada umat Israel; sedangkan dalam ayat 6 : ”Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup,... ” merupakan tafsiran Amos atas INTI FIRMAN yang kemudian disampaikan kepada Israel.

Penjelasan :

Hukum Bahasa Indonesia menentukan, bahwa kalimat langsung (direct-clause) harus menggunakan kata ganti subjek : orang pertama tunggal ”Aku”. Kata tersebut kita temukan di dalam ayat 4; sedangkan di dalam ayat 6 Amos menggunakan kata ganti diri, yakni: nama TUHAN, untuk menggantikan kata ”Aku”. Hal itu memperlihatkan perubahan struktur bahasa kalimat langsung (direct-clause) menjadi kalimat tidak langsung (indirect-clause). Namun, di samping bukti tersebut, anak kalimat yang mengikutinya pun merupakan tafsiran Amos yang ditambahkan ke dalam INTI FIRMAN.

Dengan demikian, kumpulan kitab-kitab PERJANJIAN LAMA yang kita terima dan akui sekarang ini disebut TRADISI TERTULIS, yang terdiri dari

    1. INTI berita, yakni FIRMAN
    2. Ucapan-ucapan Nabi yang ditafsirkan dan disampaikan berdasarkan INTI FIRMAN.
    3. Catatan-catatan editor (penyunting) tentang pelaku sejarah (nabi, dan lain-lain) yang menyampaikan INTI FIRMAN ALLAH

2. TRADISI TERTULIS – PERJANJIAN BARU

Kesaksian Kitab Suci :     Kejadian 1 : 1-3

Yohanes 1 : 1-3

Yesaya 40 : 28

Ibrani 1:2


VII.1.2 ALLAH TELAH MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI

Kesaksian Kitab Suci : Kejadian 1:1-3


VII.1.3 FIRMAN ALLAH BERKUASA MENGUBAH DAN MEMBAHARUI

Kesaksian Kitab Suci : Yohanes 1:1-5


 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.