Home Info Tentang GPIB Info berita GPIB Aneka Berita Bersyukur GPIB Ber HUT LXIII (Pdt. Hallie Jonathans)
Bersyukur GPIB Ber HUT LXIII (Pdt. Hallie Jonathans) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Joanna   

Bersyukur GPIB Ber HUT LXIII

17 November 2011, 14:49

Mazmur 107.


Oleh : Pdt Hallie Jonathans

Segenap Warga GPIB di manapun berada.

Kita semua bersyukur memasuki HUT LXIII Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat. Tepatnya 31 Oktober 1948, GPIB dilahirkan dari Ibunya yang bernama Gereja Prostestan di Indonesia (GPI). GPIB terlahir dari suatu sejarah panjang Protestantisme yang berarti Calvinisme di Indonesia. Bayangkan sejak 27 Pebruari 1605, saat di Benteng Victoria, kota Ambon, berlangsung Ibadah Protestan yang pertama. Tentu saat itu GPI belum mendapatkan bentuknya sebagai Gereja yang lengkap. Melalui suatu sejarah yang panjang akhirnya berdirilah GPI setelah lama ia adalah de Protestansche Kerk in Nederlandsch Indie. Bukan saja berisi warisan teologi Protestan atau Reformasi atau Calvinisme tetapi juga suatu Gereja yang memiliki semangat dan cita-cita keesaan yang bahkan jauh melewati batas-batas protestantisme yang Calvinis itu, seperti menyapa Gereja Lutheran, Gereformeerd dan Gereja yang ada di Hindia Belanda dulu. Dengan semangat dari Komisi Urusan Gereja-Gereja Protestan di Hindia Timur Belanda dan Hindia Barat Belanda. yang berkedudukan di ‘s Gravenshage mengharuskan semua orang Protestan di Hindia Belanda bergabung dalam Gereja Protestan di Hindia.

Dalam hubungan dengan Pemerintah Belanda di Belanda maka Gereja Hervormd Belanda atau NHK bertanggungjawab menyampaikan persoalan-persoalan Gereja Hindia atau Indische Kerk ini setelah menerima laporan dari Komisi Haag atau De Haagsche Commissie. Komisi ini menerima mandat dari Pengurus Gereja Protestan atau Het Bestuur di Batavia. Selanjutnya kita ketahui bahwa perkembangan demi perkembangan terjadi dalam urusan Gereja dan Negara dengan satu hal yang sangat mencengangkan. Hal itu adalah rangkaian Sidang-Sidang Raya atau Grote Vergadering. Sidang Raya Pertama dari 19 September sampai 14 Oktober 1916. Disebut Besar atau Raya itu sebab sifatnya yang Am atau Algemeen itu. Inilah pula Sidang Am pertama yang diselenggarakan. Sidang Raya Am pertama ini membuat suara dari Gereja Protestan ini didengar oleh Pemerintah dan Masyarakat. Sidang ini dipimpin oleh Ketua Badan Pengurus atau Kerkbestuur itu. Sidang Raya ini menghasilkan keputusan bahwa Sinode Gereja dibentuk berdasarkan tugas dan peraturan untuk menjalankan otoritas gerejawinya yang tertinggi dalam gereja. Pengurus Gereja kemudian kelak diganti oleh Komisi Sinodal. Kemudian dibentuk Komisi Pemisahan Gereja dari Negara. Juga pemisahan Keuangan Gereja dan Negara dikemukakan. (24 September 1921).

Nama-nama orang Indonesia dalam Komisi ini adalah R.A.A.Djajadiningrat, F. Laoh, Haji .A. Salim, dan J.A Soselisa dan Ds D.J Leepel sebagai Ketua Badan Pengurus Gereja Protestan di Hindia Belanda, R.M.J Soepandi sebagai Pejabat Dokter Hewan. Jumlah uang yang disediakan bagi pekerjaan lanjutan dari Gereja Protestan di Hindia Belanda adalah sebesar 31.000.000,- Gulden. Reorganisasi Gereja Hindia kemudian dilakukan dalam Sidang Raya Kedua, dilaksanakan pada tahun 1933. Gereja diletakkan dalam latar belakang yang lain, bukan lagi dalam pengayoman Pemerintah Belanda. Gereja juga ditaruh dalam perspektif lain. Mungkin Sidang Raya sadar bahwa akan terjadi perubahan-perubahan besar dalam sepuluh tahun mendatang, oleh sebab itu ia berbicara tentang latar belakang dan perspektif lain. Yang dimaksudkan adalah pemisahan administratif dan keuangan antara Gereja dan Negara. Sidang Raya atau Sidang Am ini juga menentukan pembentukkan Gereja Protestan di Minahasa, Maluku dan Timor.

Dalam Sidang Raya III atau Sidang Am III, barulah GPIB dimandirikan atau didirikan. Sistem Bergereja Presbiterial Sinodal dan Tata Gereja GPIB disiapkan oleh Sidang Am tersebut bagi GPIB. Kita mengenal sejarahnya dengan baik. Dilakukan Sidang yang disebut Proto Sinode, yang memberikan Tata Gereja dan Membentuk Majelis Sinode GPIB, dan meneguhkan berdirinya GPIB pada 31 Oktober 1948 di Gedung Gereja yang saat itu masih disebut Willemskerk, sekarang Gedung Gereja GPIB Immanuel di Jakarta. Dengan demikian GPIB lahir sebagai Gereja bagian Berdiri Sendiri Ke-Empat dalam GPI.

Tiga gereja sebelumnya adalah :


1. Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM), pada 30 September 1934.
2. Gereja Protestan Maluku (GPM) pada 6 September 1935.
3. Gereja Masehi Injili di Timor, (GMIT) pada 31 Oktober 1947.

Setelah GPIB lahir dari GPI, maka GPI mendapatkan perkembangan GBMnya menambah lima GBM, yakni


GPID (Donggala) 4 April 1965
GPIBT (Buol Toli-toli) , 18 April 1965.
GPIG (Gorontalo) 18 Juli 1965
GKLB (Luwuk Banggai) 27 Januari 1966
GPI IRJA (Irian Jaya), kini GPI PAPUA 25 Mei 1985.
Jumlahnya GBM GPI menjadi 9 GBM.


Dalam sejarah kemudian GPI menerima dalam persekutuannya tiga Gereja menjadi GBM GPI,

IECC, Indonesian Evangelical Christian Church, LA, ditahbiskan pada 25 Agustus 1986.
GPIBK, (Banggai Kepulauan) , didirikan pada 3 Pebruari 2000.
GERMITA, Geraja Masehi Injili Talaud, didirikan pada 23 Oktober 2002.

Kini jumlahnya menjadi 12 GBM. GPI adalah Gereja Persekutuan karena sejarah dan kebersamaan protestantisme yang harus mengarah ke masa depan, memiliki cita keesaan yang am untuk dilaksanakan. Kemandirian GBM adalah kemandirian penuh. Namun sifat protestan penuh seperti yang diwarisinya melalui sejarah Gereja Protestan merupakan ciri khas pengabdiannya mengabarkan Injil Tuhan Yesus Kristus di Indonesia. Ke-Am-an atau universalitas gereja , Pengakuan Gereja dan Ajaran Gereja Protestan itulah yang dipertahankannya dilakukan dalam kebersamaan melalui Sidang Sinode Am dan Sidang Majelis Sinode Am setiap lima tahun dan tahunan.

Oleh karena GPI adalah semacam Uniting Church atau Gereja Persekutuan maka karena ia juga memiliki Dasar Hukum sendiri , GPI tak usah dibubarkan atau dijadikan Persekutuan Gereja-Gereja Protestan di Indonesia. Untuk maksud itu sudah ada PGI. GPI dan GBM tak boleh memperlihatkan reluctancy-nya atau kesetengah-hatian dalam mencapai satu Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. GPI tidak pernah melakukan campur tangan ke dalam urusan pelayanan dan kemandirian GBM. Dalam masalah Harta Benda Tak Bergerak, GPI memberikan support kepada GBM apabila terdapat Harta Milik yang belum sepenuhnya menjadi milik GBM karena alasan balik nama dari PKNI atau Indische Kerk.

Kita mengambil Mazmur 107:2 sebagai ayat konsentrasi dari seluruh Mazmur 107 dalam perenungan HUT ke 63 , GPIB ini.

“Biarlah setiap orang yang ditebus oleh Tuhan tetap mengatakan:”Bersyukurlah kepada TUHAN , sebab Ia baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”

Bukankah Ia membebaskan mereka dari kuasa musuh?. Begitulah kita harus membaca Mazmur ini. Dari ayat 2 a ke ayat 1 lalu diakhiri dengan ayat 2b.

Dalam NIV dinyatakan: Let the redeemed of the Lord say this:”Give thanks to the Lord, for He is good; His love endures forever” Didn’t He redeemed them from the hand of the foe?.

Atau terjemahan Belandanya: Laat ieder die door de Here is bevrijd dit blijven zeggen: “Prijs de Here, Hij is een goede God. Want Zijn goedheid en liefde blijven eeuwig bestaan”. Hij heeft hen immers bevrijd van de macht van de vijand?

Hari ini kita harus Bersyukur! Bersyukur kepada Tuhan Semesta Alam dan Tuhan Sejarah Dunia, Bangsa-Bangsa dan Sejarah Gereja. Sebabnya adalah karena Tuhan itu baik dan karena kasih setia-Nya dilakukan-Nya untuk selama-lamanya. Begitu banyaknya yang telah dilakukan Allah bagi kita, oleh sebab itu layaklah dan haruslah kita bersyukur kepada-Nya.

Siapakah kita sebenarnya? Dari mana kita berasal? Kita selalu memakai Lukas 13:29 , di mana kita mendengar sabda Tuhan Yesus Kristus:”Dan orang akan datang dari Timur dan Barat, dan dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah”. GPIB memiliki visi eskatologis ke depan, dan berbicara tentang gereja secara am atau universal pada akhir zaman itu. Mengapa menghubungkan GPIB dengan GBM-GBM dalam GPI itu? Kita masih ingat bukan, bahwa Ketua-Ketua Majelis Sinode GPIB yang pertama-tama adalah Tenaga Utusan Gereja dari Gereja Bagian Mandiri GPI yang lalu lintasnya diatur oleh Badan Pekerja Am (BaPeAm) atau Algemene Moderamen GPI.

Pdt Hendrik Ongirwalu M.Th menyatakan “Dalam masa yang lama GPI berkepentingan untuk mengasuh GPIB , baik kepemimpinan, harta milik maupun kegiatan-kegiatan oikoumenis regional dan internasional” (“Sejarah GPI”, Jilid I, 2005). Demikian juga warga GPIB. Tidak lepas dari wilayah-wilayah GBM dan juga tentunya penduduk di Wilayah Barat dari GBM –GBM yang sudah ada di Timur Indonesia itu. Tuhan itu penuh kasih dan ramah terhadap mereka yang berada dalam kesukaran. Itulah sebuah kesimpulan anthropologis tentang Tuhan baik dalam memperlakukan manusia ciptaan-Nya maupun gereja-Nya itu. Kebaikan, persaudaraan gerejawi, dan keramahan yang setiap tahun dan lima tahunan kita rasakan saat Jemaat-Jemaat GBM menyambut berlangsungnya Sidang Majelis Sinode Am (SMSA GPI), beranggotakan Para Ketua Majelis Sinode GBM-GBM, dan Sidang Sinode Am (SSA GPI). Juga berbagai kegiatan lain dalam aras wanita, pemuda, anak dan remaja dan pelbagai Seminar GPI berskala nasional.

Ada empat golongan manusia yang membutuhkan pertolongan Tuhan.

Pertama adalah pengembara-pengembara. (ayat 4-9).

Kedua adalah orang-orang kurungan, Tawanan, atau orang yang Ditangkap atau Dipenjara. (ayat 10-16).

Ketiga adalah Orang Sakit, (ayat 17-20).

Keempat, adalah Orang-orang yang oleh Ombak atau Gelombang Kehidupan. Mereka itulah disebut sebagai  orang yang di-ombang-ambingkan oleh  gelombang. (ayat 23-30).

Secara harafiah, kita adalah orang-orang pengembara. Orang tua kita lahir di tanah-tumpah darah tertentu. Tetapi kita lahir di kota yang jauh dari tanah tumpah darah itu. Atau kita kemudian bekerja mengejar karir kita sebagai guru, tentara, pegawai atau pelajar, mahasiswa atau sarjana dan ilmuwan. Akibatnya , kita bergereja di GPIB. Kalau demikian bukankah pengembara tidak punya masalah? Tidak juga. Pengembara itu mengenal saat lapar dan haus, lemah lesu. Pengembara itu berseru-seru dalam kesesakan. Apa yang dilakukan Tuhan? Tuhan melepaskannya dari kecemasan. Inilah pengalaman penebusannya oleh Tuhan. Secara rohani, bahkan secara jasmaniah nyata, kita tengah berjalan di padang gurun atau padang belantara. GPIB tak lepas dari pelbagai kemiskinan dan kekurangan pendidikan , ketidak-adilan serta pelbagai pelanggaran terhadap Hukum dan HAM. Pelbagai persoalan lingkungan hidup dan pencemaran ideologis dan kepentingan yang merusak harmoni kehidupan sebagai satu bangsa yang hidup bergotong royong. Reformasi gagal total. Kita tak melangkah maju. GPIB harus juga mencari jalan keluar dengan mulai tindakan pembebasan dari grass root atau masyarakat akar rumput. Hidup tanpa Tuhan adalah hidup tanpa arah. Perjalanan hidup tanpa arah tidak membawa kita ke arah yang hendak dituju, sebab itu kita hanya akan berputar-putar seperti bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun lamanya. Pengembara tidak menemukan kota untuk tinggal di dalamnya. Demikian juga jiwa kita tanpa Tuhan tak akan mendapatkan tempat yang dengan nyaman kita dapat membaringkan diri kita dengan aman dan tenteram.

Pelayanan GPIB di Desa dan Kota menjadi menarik untuk digariskan kembali secara jelas, sebab pelbagai distorsi dihadapi masayarakat baik di desa maupun di kota. Serangan media dan pelbagai alat komunikasi begitu hebat melanda sehingga manusia tak memerlukan lagi komunikasi antar manusia sebab telah digantikan menjadi komunikasi lewat media saja. Manusia menjadi a-sosial. Pekerjaan dalam bidang GERMASA menjadi amat penting. Pekerjaan dalam bidang PELKES merupakan bagian langsung dari pemajuan PMD dan PMKI dan berarti penajaman dari konsep pelayanan GPIB secara holistik atau komprehensif. Pdt C Wairata M.Th (Sekum MS GPIB) yang memberikan konsepsi dasar Pelkes GPIB, sedangkan Pdt S.Mandik dalam kedudukan juga sebagai Sekum MS GPIB banyak melakukan penguatannya dengan pemendetaan para Pelayan Wilayah Pelkes saat itu melalui proses seleksi dan pengalaman kerja di wilayah Pelkes.

Pengembara itu mengalami lapar dan dahaga. Kita juga boleh saja berusaha mendapatkan segala yang kita cita-citakan, hendak dapatkan atau miliki dalam hidup, tetapi akhirnya kita sadar bahwa kita tidak mendapatkan hidup dan damai itu. Hidup kit terasa bagikan di padang gurun, penuh frustrasi. Kita harus menempuh Jalan Lurus yang kita tahu adalah Jalan Tuhan. Barulah kita mendapatkan hidup dan damai itu. Ingat tatkala kita hampir putus asa, bagaimana Tuhan menolong dan membimbing kita. Baik pada skala gereja maupun nasional kita melihat pertolongan Tuhan itu berlaku. Perjalanan GPIB bukan perjalanan yang mudah. Ia harus terus menerus melakukan perelevansian Tata Gereja-nya dalam rangka pelaksanaan panggilan dan pengutusannya.

Modernisasi pelayanan terlihat dalam pembaruan struktur pelayanan pada aras sinodal dan jemaat. Tatkala kita berseru kepada Tuhan, maka pertolongan kita pasti datang. Dapatkah kita berseru dalam kesesakan? Pernahkah kita berseru kepada Tuhan? Pasti pernah. Bahkan mungkin sering kita harus berseru kepada Tuhan. Itu terjadi tatkala kita hanya hendak mengikuti arah dari pikiran dan kepandaian kita. Kita justru akan mendapatkan masalah dan sakit hati. Tatkala itulah kita berseru kepada Tuhan, sadar bahwa kita telah salah jalan, telah sesat, tidak mencapai tujuan yang seharusnya kita capai. Tuhan melepaskan mereka dari kecemasan mereka. Pernahkah kita cemas? Yah kita cemas tatkala kita hadapi PSL belum dapat dipenuhi. Kita cemas karena apa yang kita tak duga tiba-tiba terjadi, itulah sebabnya tujuan kita juga tak tercapai. Tuhan adalah Pelepas Agung. The Great Deliverer. Ia memberikan korban tubuh dan darah-Nya melepaskan kita dari salah akibat dosa kita. Akibat pengorbanan-Nya maka kita juga dilepaskan-Nya dari semua kecemasan kita.

Bagaiman dengan para Pendeta GPIB? Apakah kita masih memiliki hati atau perhatian terhadap mereka yang cemas dalam hidup? Apakah kita mau mengunjungi mereka atau kita malah menundanya karena ia orang kecil, susah hidupnya dan tak begitu terpandang? Atau kita memilih pergi ke Mall untuk makan siang dengan rekan atau siapa saja? Tuhan memimpin kita ke muka melalui Jalan Benar. Jalan yang lurus, kata Pemazmur. Apabila kita telah menerima penebusan Tuhan atas kita, maka (seharusnya atau logisnya) kita tidak akan kembali ke jalan pengembaraan tadi , atau jalan sebelum kita mengenal pengampunan dan penebusan kita oleh Tuhan Yesus Kristus itu. Tuhan yang sama yang memimpin kita akan membimbing kita pada Jalan Benar atau Lurus itu.

Bagaimana kita juga mengembangkan terus Sistim Membaca Alkitab menurut jadwal bacaan SBU dan SGK dan sebagainya. Kemajuan dalam hal ini terlihat jelas. Kita kembangkan terus prinsip Reformasi, Sola Fide, Sola Gratia, Sola Scriptura. Ada kepastian pada jalan di mana kita berjalan, dan ada tujuan ke mana kita akan maju melangkah dalam perjalanan itu. Tuhan memimpin kita ke kota yang ada penduduknya. Bayangkah kota yang tak ada penduduknya. Kota itu pasti sepi dan mencekam. Kita dapat dibunuh oleh orang jahat di sana atau dibuat sengsara. Bila ada penduduknya, akan sangat berlainan keadaannya. Pastilah kota itu akan merupakan kota yang dipenuhi oleh harta milik,fasilitas perkotaan , keamanan dan damai di sana. Saya jadi ingat mengelola Harta Milik TaK Bergerak Gereja. Kalau kita mengelola belongings atau milik seperti itu dan harta apapun, jangan pernah melakukan korupsi sekecil apapun.

Harus ada keamanan, termasuk keamanan sosial. Saya bersyukur bahwa DPR RI telah mengesahkan UU BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial bagian pertama, dan diberlakukan tahun 2015. Perjuangan Partai PDI-P berhasil dan semua berbahagia. Ketua DPR RI menyatakan keberhasilan Dewan membuat atau menggolkan UU tersebut. Nanti, pasti tidak akan ada orang Indonesia karena miskin ditolak untuk mendapatkan perawatan kesehatan.Apakah GPIB hanya diam saja melihat perkembangan ini? Apakah GPIB hanya akan membantu memberikan surat pernyataan bahwa Pendeta Emeritus atau yang sakit itu memang memenuhi syarat mendapatkan Assuransi Jaminan Sosial itu? Kurangilah semua biaya yang tak perlu dikeluarkan termasuk biaya jalan-jalan bareng dan ucapan-ucapan syukur yang memakai uang gereja.

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya. Yah , karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak-Nya. Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang lapar, dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. Pendidikan terhadap para Anak, Remaja dan Pemuda-Pemudi kita dalam Tuhan sangat diperlukan.Lihat, Tuhan telah mematahkan Rantai Dosa. Siapakah yang duduk dalam gelap? Mereka yang hidup dalam dosa pasti akan masuk ke dalam kegelapan, bahkan kekelaman. Mereka tidak mengarahkan diri menuju terang.Mereka akan terkurung dalam sengsara dan besi. Dosa membuat kita menjadi hamba dari dosa itu, sehingga kita mendapatkan diri tak tertolong, dan tak dapat menghindari dosa atau kesalahan itu dengan segala akibatnya. Dosa membuat kita menghamba bagaikan orang yang diikat dengan besi, orang dipasung dengan besi. Mengapa? Sebab kita memberontak terhadap perintah-perintah Allah. Bukankah upah dosa itu maut? (Roma 6:23). Kita juga suka menista yang Mahatinggi. Apakah Tuhan membiarkan perbuatan mereka yang melawan Dia? Tidak!. Ia menundukkan hati mereka ke dalam kesusahan. Mereka tergelincir, tak ada yang menolong. Situasi tak tertolong atau tak ada yang menolong itu sering dihadapi orang yang melanggar perintah Allah. Sering sudah amat terlambat ia menyadari semua pelanggaran itu, sehingga ia harus menerima saja semua hukuman dan denda yang harus dibayarnya pula. Kita diperhamba dalam dosa, kita tak tertolong sebab terikat oleh akibat-akibat dosa itu. Kita dikalahkan oleh semua kegelapan itu dan kita jatuh, sejatuh-jatuhnya. Kita dihancurkan oleh dosa dan kedapatan tak berdaya menghadapinya. Tak ada yang datang menolong. Apakah semua telah berakhir, artinya adakah harapan bagi kita?

Kalau kita berseru kepada Tuhan, maka kita akan mendapatkan pertolongan Tuhan. Kita harus benar-benar bertobat. GPIB adalah Gereja yang harus terus bertobat. Gereja yang terus menerus mengalami pembaharuannya. Ekklesia reformata, semper reformanda. Manusia baru yang terus menerus dibaharui !. Tuhan menyelamatkan mereka dari kegelapan atau kecemasan mereka. Tuhan melepaskan secara penuh. Tuhan mendengar seruan kita hari ini. Tuhan mengeluarkan kita dari gelap dan kelam. Tak akan ada kegelapan lagi, tak akan ada takut akan kematian. Pemeliharaan dan perawatan jiwa menjadi tantangan kita. Grief counseling harus mampu kita laksanakan. Bahkan tatkala melayani PKLU enggan bicara tentang persiapan menghadapi kematian . Memang, kita ingin hidup seribu tahun lagi. Tetapi usia kita tujuh puluh tahun atau bila kuat delapan puluh tahun. Lalu bagaimana kalau kita sendiri tak siap? Sewaktu hidup lakukanlah pekerjaan pelayanan sebesar-besarnya bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.

Tuhan membawa kita keluar dari dalam gelap dan kelam. Tuhan memutuskan belenggu-belenggu kita. Belenggu-belenggu besi yang berat itu diputuskan-Nya. Suatu pembebasan yang total dan lengkap. Bukankah itu yang dikehendaki oleh semua Bangsa di Dunia? Kita berhadapan dengan tema-tema pembebasan, keadilan dan perdamaian, kesatuan atau unity serta kelestarian lingkungan hidup. Lihat saja kepada semua keputusan gereja pada aras nasional, regional dan mondial. Apakah kita serius mengikuti jadwal kerjanya dan melakukan bagian kita, atau hanya sibuk mengurus tiket perjalanan ke Amerika atau Eropa menghadiri Sidang Raya tersebut dan hanya beritikad jalan-jalan dan malas menghadiri sidang-sidang penting itu? Apakah ada Departemen yang menangani hal itu? Apa tujuan semua pembebasan itu? Supaya kita bersyukur kepada Tuhan, karena kasih setia-Nya. Karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.

Tuhan meneruskan aksi pembebasan-Nya. Tuhan memecahkan pintu-pintu tembaga, dan dihancurkan-Nya palang pintu besi. Lihat Pasar Global membuat Pasar Lokal hancur. Lihat petani garam berhenti mengupayakan hasil garam sebab garam justru diimpor oleh Pemerintah. Batik juga diimpor? Baju jabatan GPIB juga sepi dari sentuhan bahan pakaian khas Indonesia seperti Batik dan Kain Ikat atau Kain Bentenan. Jangan-jangan kita memang produk Barat. Menjadi sakit oleh kelakuan sendiri? Ataukah karena kelakuan yang salah dari banyak orang sehingga mereka menjadi sakit? Mereka disiksa oleh kesalahan mereka. Itulah semua derita mereka. Inilah contoh orang-orang yang jatuh dan terluncur jauh ke belakang. Mengapa mereka begitu mundur? Sebab mereka sendiri tidak memberikan makanan rohani kepada jiwa mereka. Tak ada makanan rohani. Kita hanya mengenyangkan tubuh kita dan lupa memberi makan jiwa kita dengan Firman Tuhan. Bagaimana kesembuhan kita dapatkan? Kalau kita berseru dan menerima Firman Tuhan menjadi obat bagi kita. Kita kemudian beroleh kesembuhan. Bahkan Tuhan akan meluputkan kita dari liang kubur. Lalu apa yang akan atau harus kita kerjakan?

Kita harus mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan. Kita terpanggil memberikan Persepuluhan kita. Bukan itu saja. Kita harus menceritakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dengan sorak-sorai.Kita harus menjadi saksi-saksi-Nya dengan cara yang amat produktif, positif dan proaktif memberlakukan pembebasan-Nya dalam agenda pembebasan bagi sekitar kita. Indonesia negara maritim. Negara kelautan. Pekabaran Injil juga datang lewat laut pada zaman dahulu. Kita menggambarkan GPIB sebagai Bahtera Guna Dharma. Bahtera yang mengarungi wilayah-wilayah pelayanan GPIB dengan sarana transportasi dan komunikasi serta pelbagai hal yang perlu dibawa dalam pelayanan. Kita terpanggil juga untuk membangun sarana infra struktur yang dapat kita bangun bagi kemajuan mereka yang belum memilikinya. Bidang Pendidikan dan ketrampilan , skill dan teknologi, melakukan terobosan dalam bidang pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayanan pemberdayaan, merupakan panggilan yang harus kita penuhi.

Pernahkah kita naik kapal laut lalu terserang angin dan ombak besar? Hampir tenggelam? Kata Pemazmur, Tuhanlah yang membangkitkan angin badai. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan juga adalah Tuan atas Badai, Ombak dan Gelombang yang besar, termasuk badai dan gelombang kehidupan kita atau negara kita. Gereja yang pusing dengan permasalahan personalianya karena mutasi tak dipatuhi, Dalam keuangan rasanya GPIB tak mengalami kekurangan. Tetapi mungkin saja kita masih pusing dan terhuyung-huyng seperti orang mabuk. Buntut-buntutnya kita kehilangan akal. Bagaimana jalan keluarnya? Cara atau jalannya adalah berseru-seru kepada Tuhan. Sampaikan kesesakan hati kita kepada Tuhan. Tuhan akan mengeluarkan kita dari kecemasan kita. Seperti Nabi Yunus, seperti Rasul Petrus yang ketakutan berjalan di atas air laut yang dilihatnya bergelombang menakutkan. Bukankah The Master of the Sea is on board? Bukankah Ia adalah Tuhan atas angin ribut? Dibuat-Nyalah badai diam, sehingga gelombang-gelombangpun tenang. Mereka yang dikapal GPIB menjadi senang atau bersukacita. Tuhan menuntun kita ke dalam pelabuhan kesenangan kita.

Kita nyanyikan KJ 418 yang amat indah itu: BAHTRA YANG DIPANDU YESUS.

Bahtra yang dipandu Yesus, panji salib tandanya. Itu bahtra keslamatan, bagi orang yang resah. Meskipun badai menyesah dan ombak menderu, Dipandu Tuhan bahtra-Nya, ke pantai yang teduh.

Matahari tampak lagi, Badai taufanpun reda, Bunyi riak mengiringi, Lagu doa yang lega, Bersyukrlah dan angkatlah, Nyanyian yang merdu, Dipandu Tuhan bahtra-Nya, Ke pantai yang teduh.

Atau kita nyanyikan lagu Maluku yang amat manis itu :
Di tengah ombak….


GPIB dengan seluruh perlengkapannya akan meneruskan persekutuan, pelayanan dan kesaksiannya di Bumi Pertiwi dan Dunia.
Dasar GPIB adalah tetap Tuhan Yesus Kristus. Baht’ra GPIB telah siap merentangkan layarnya menuju Gereja dan Masyarakat Damai Sejahtera, sebagai tanda Kerajaan Allah di Bumi Pertiwi. Fare Well GPIB, Selamat Berlayar Baht’ra GPIB. Vaya Con Dios, GPIB. Amin.

JavaScript is disabled!
To display this content, you need a JavaScript capable browser.

Sumber : http://www.gpib.org

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.