g. Alat Kelamin Buatan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

AKTA GEREJA GPIB TENTANG KELUARGA

ALAT KELAMIN BUATAN


1. Masalah

1.1.   Kenyataan, terjadi berbagai kasus  perempuan di perkosa atau akibat kecelakaan sehingga mengalami kerusakkan pada alat genitalnya atau pada laki-laki yang mengalami disfungsi seksual.

1.2.   Kemajuan ilmu teknologi dan kecanggihan riset ilmu di bidang Medis, diperkirakan Dr. Myron Murdock (Kompas, 15 November 1999) bahwa pada 25 tahun mendatang oleh kemajuan riset genetika dapat melakukan cangkok penis / vagina yang di buat lewat rekayasa genetika. Menurut riset, alat kelamin laki-laki atau perempuan yang hilang, tak berfungsi (akibat kecelakaan, perkosaan, gangguan ereksi) atau tidak mamadai, bisa di ganti dengan organ buatan yang dicangkokkan agar berfungsi normal.

 

2. Kesimpulan

2.1.   Diperlukan usaha gereja mengantisipasi permasalahan ini sedini mungkin.

2.2.   Gereja perlu menjelaskan pemahaman teologis yang mendasar tentang hakikat penciptaan Allah dan manusia.

 

3. Prinsip Penyelesaian

3.1.   Gereja perlu mengadakan seminar khusus membahas masalah ini dengan tim medis atau hukum.

3.2.   Gereja perlu membimbing dan membina warganya yang mungkin mengalami kasus diperkosa, kecelakaan, atau disfungsi seksual, melalui konseling pastoral dengan melibatkan tenaga profesional.

3.3.   Gereja dapat menerima hasil riset genetika karena berdampak besar menolong laki-laki / perempuan mengembalikan jati dirinya.

3.4.   Gereja menolak jika alat kelamin manusia dipindah-pindahkan atau digantikan dengan alat kelamin orang lain (Kejadian 1:28;31, Efesus 5:29)

 

4. Petunjuk Pelaksanaan

4.1.   Majelis Sinode GPIB perlu merekomendasikan pembuatan kumpulan Akta Gereja agar warganya terbekali dengan suatu pemahaman yang baik.

4.2.   Perlu adanya penyuluhan, pembinaan yang berkesinambungan guna melengkapi warganya atas pemahaman teologis yang mendasar.




 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.