Home Blog Renungan pdt. Nancy 7 Perkataan Yesus di atas kayu salib
7 Perkataan Yesus di atas kayu salib PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nicole   

AMPUNILAH MEREKA

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta

Ketika berada di atas kayu salib, Yesus mengucapkan 7 perkataan yang bermakna sangat dalam. Selama minggu sengsara ini, kita akan merenungkan satu persatu perkataan itu.

1. ”Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat”

(Luk 23:34). Kata ampunilah (Yun:kharizomai), bermakna melakukan atau menerima karena anugerah. Dengan kata lain, pengampunan itu membutuhkan ketulusan dan kerendahan hati baik yang memberi maupun yang menerima, dan bukan karena paksaan. Tanpa hal itu, maka pengampunan tidak akan terjadi. Karena itu dasar pengampunan bagi orang kristen, adalah  penyaliban dan kematian Kristus.

Kalimat yang disampaikan Yesus dalam bentuk doa kepada BapaNya, merupakan penyataan kasih di tengah-tengah kasih. Yesus memohonkan ampun bagi mereka yang menyiksa dan memaku diriNya, yang mengejek, yang mencambuk. Ia memohonkan ampun bagi mereka yang penyakitnya pernah disembuhkanNya, yang pernah ditolongNya dari kerasukan setan, yang dibangkitkan, yang dihiburkanNya. Ia memohon ampun bagi mereka yang hadir maupun yang tidak hadir pada saat Ia disalibkan, ”Ya Bapa, ampunilah mereka ....” Inilah penyataan  cinta di atas segala cinta. Dalam permohonan ampun itu seluruh kasih Yesus terhadap umat manusia tercurah. Ia yang tidak bersalah, harus menanggung semua kesalahan kita.

Bercermin pada permohonan ampun Yesus, bagaimanakah kita selayaknya menyikapi konflik yang sedang kita hadapi berkaitan dengan sakit hati, dendam, kemarahan dan ketidak adilan ? Masalah pengampunan seringkali dikaitkan dengan perasaan. Bagaimana mungkin saya mengampuni, kalau dampak perbuatan orang itu menghancurkan hidup bahkan mungkin masa depanku dan keluargaku ?

Sebenarnya, pengampunan terhadap sesama, terkait erat dengan relasi kita dengan Tuhan.  Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan,”...ampunilah kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat.6:12). Dengan kata lain Yesus katakan, sebelum engkau datang memohon ampun pada Tuhan, berdamai dulu dengan orang yang punya masalah denganmu.

Pengampunan tidak boleh bergantung pada perasaan. Pengampunan berkait dengan kehendak/kemauan. Mau atau tidak mau mengampuni ! Waspadalah seringkali karena kekerasan hati untuk mengampuni, berkat dalam hidup kitapun terhambat. Anda tidak menginginkan hal itu terjadi kan ? Ampunilah. Pengampunan berarti melupakan. Melupakan kesalahannya, melupakan sakit hati, melupakan semua yang buruk, untuk hidup ke depan yang lebih damai. Dendam akan menghilangkan kedamaian dan kebahagiaan. Berpautlah pada Kristus yang sudah menanggung segalanya di atas salib, untuk kita semua.

 

HARI INI JUGA ENGKAU BERSAMA AKU

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta

Perkataan kedua ketika Yesus berada di atas salib :

2. ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini  juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firrdaus”  (Lukas 23:35-43)

Ketika seseorang melakukan prestasi yang membanggakan, dan dirasakan bisa menguntungkan jika dekat dengannya sehingga kemudian menjadi figur panutan banyak orang,, tidaklah mengherankan kalau orang tersebut bagaikan mawar yang diminati lebah. Semua orang berada disekitarnya untuk menarik perhatiannya. Sebaliknya kalau seseorang dianggap bermasalah maka tidaklah mengherankan pula, kalau ia dihindari, dilecehkan bahkan difitnah dengan berbagai  isyu tak sedap.

Yesus mengalaminya !!

Ketika kehadiranNya dirasakan bisa membawa keuntungan, Ia dikelilingi banyak orang karena mujizat2 penyembuhan dan terapi counseling yang dilakukanNya. Ia bahkan diagungkan dengan teriakan Hosana! Hosana! Tetapi ketika sudah berada di atas salib, dan dianggap berdekatan denganNya hanya berujung pada masalah, Ia dihindari bahkan dilecehkan para pemimpin (ay.35), diolok-olokkan para prajurit (ay.36). Mulai dari orang terpandang sampai orang ’kecil’ menghindariNya. Juga penjahat yang ada di sisiNya menghujat keAllahanNya (ay.39). Bahkan orang-orang yang paling dekat denganNya – para murid – khawatir berdekatan denganNya.

Tetapi diantara reaksi negatif seperti itu, sangatlah mengejutkan ketika ada yang berpihak padaNya, dengan mengakui bahwa hukuman yang mereka terima sebagai penjahat, adalah konsekuensi dari kesalahan mereka. Sedangkan Yesus tidak mempunyai kesalahan. Karena itu sebenarnya penyalibanNya adalah sebuah kekeliruan besar. Penjahat itu bukan hanya berpihak pada Yesus, tetapi ia bahkan mengakui keAllahNya dengan memohon agar Yesus mengingatnya jika kembali sebagai Raja (ay.40-42).

Jika berada pada posisi Yesus, mampukah kita setenang Yesus ketika menghadapi penghinaan, pelecehan dan penyangkalan seperti itu? Yang dilakukan orang yang paling dekat denganNya (Petrus) sampai orang yang untuk mereka, Ia mau menjalani jalan penderitaan, penyaliban dan kematian? Tidakkah kita akan mengalami rasa kekecewaan yang menghancurkan hati?

Jika berada pada posisi terjepit, teraniaya dan dalam kondisi kritis, mampukah kita seperti si penjahat yang menempatkan posisi kebenaran dan keadilan di atas pementingan dirinya sendiri? Bahwa yang benar haruslah benar dan yang salah haruslah salah. Sekalipun konsekuensinya kitalah yang harus menanggung akibat dari prinsip itu. Bahwa kitapun harus mengalami penghukuman sebagai dampak kesalahan yang kita lakukan. Dan tidak berkelit agar tidak perlu menjalani penghukuman?

Apapun yang akan kita tanggung, selama pandangan mata iman kita kepada Yesus Kristus Sang Juruselamat. Dan mengutamakan kebenaran dan keadilan di atas segalanya. Maka Yesus Kristus akan membimbing dan menguatkan kita. Dan anda akan mendengar bisikanNya yang penuh kasih,Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini  juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”.


”IBU INILAH ANAKMU.....INILAH IBUMU”

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta

Perkataan ketiga ketika Yesus melihat ibunya, dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, Ia berkata kepada ibunya,”Ibu inilah anakmu!” Kemudian kataNya kepada muridNya, ”Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27).

Alkisah di sebuah desa hidup seorang ibu dengan anak lelaki satu-satunya. Anak ini selalu mencemaskan hati ibunya karena tabiatnya yang sangat buruk. Ia senang berjudi, mabuk, mencuri dan melakukan berbagai tindak kriminal lainnya, sehingga setiap hari ibunya selalu meratapinya. Doanya senantiasa memohon agar Tuhan merubah anaknya sebelum ia meninggal dunia. Namun semakin lama, anak ini makin terperosok dalam kehancuran. Keluar masuk penjara ia jalani berkali-kali. Suatu hari anak ini mencuri di rumah seorang pembesar dan tertangkap. Karena sudah berkali-kali mencuri serta melakukan tindakan kriminal, maka pengadilan memutuskan anak ini dihukum pancung. Hukuman itu akan dilaksanakan pada keesokan pagi, di lapangan di depan rakyat desa, tepat ketika lonceng gereja berdentang pukul 6 pagi. Berita itu segera sampai ke telinga ibunya. Si ibu menangis dengan sedih dan memohon agar Tuhan mengampuni anaknya. Ia menghadap raja untuk meminta keringanan hukuman, tetapi raja tidak mengabulkannya. Ia kembali berdoa dan memohon pada Tuhan, ijinkan ia menggantikan anaknya yang sangat dikasihinya untuk menanggung kesalahan sang anak.

Esok paginya rakyat datang berbondong-bondong, algojo sudah siap pada tempatnya. Si anak sudah pasrah menunggu hukumannya. Sudah lewat 5 menit dari pukul 6 pagi, tetapi heran, lonceng gereja tidak berdentang. Si petugas juga heran, ia telah menarik tali pemukul lonceng, tetapi tidak terdengar suara dentangnya. Tiba-tiba, dari tali penarik lonceng, mengalir dengan deras darah segar.Darimana asal darah itu? Beberapa orang diutus untuk melihat ke atas. Tidak lama kemudian seluruh rakyat menyaksikan orang yang memanjat untuk melihat sumber darah itu, menggotong ibu si anak yang kepalanya pecah bersimbah darah. Rupanya si ibu memanjat dan memeluk bandul lonceng, sehingga tidak berbunyi ketika tali lonceng ditarik. Tetapi akibatnya kepalanya menghantam lonceng tersebut berkali-kali hingga pecah . . . . Itulah cinta seorang ibu.

Seperti apapun dan bagaimanapun kondisi anaknya, seorang ibu akan berdiri di sisinya. Semua orang dapat menyalahkan si anak,  tetapi bagi seorang ibu anaknya adalah permata hati yang tidak pernah salah dan butuh perlindungan. Air matanya yang menetes bagi anaknya seakan berupaya mencuci semua kesalahan, dosa, penderitaan dan kesakitan anaknya. Seandainya mungkin, ia akan menggantikan anaknya menanggung semua kesakitan dan kesengsaraan yang dialaminya. Rasa sakit ketika anaknya memperlakukannya dengan kasar, tidak pernah bertahan lama. Sebab air mata seorang ibu yang menetes juga menghapus rasa sakit di hatinya.

Yesus memahami hal itu. Kalimat, ”Ibu inilah anakmu”, merupakan pernyataan kasihNya, karena tau ibunya menderita melihat anaknya tersiksa di salib. Dengan kata lain Yesus mengatakan, ”Sampai kapanpun, Aku anakmu dan engkau ibuKu. Aku merasakan kesedihan dan rasa sakitmu, tapi jalan ini harus Aku lalui.” Kepada murid yang dikasihiNya, Ia katakan, ”Inilah ibumu”. Ia menitipkan ibuNya untuk dikasihi, dihibur, dijaga, dilindungi, pada orang yang dipercayaiNya.

Dalam keadaan paling menderita, kasihNya pada Allah Bapa, pada sesama dan pada orang yang paling dekat denganNya sempurna adanya.

Seperti apakah kasih anda pada orang-orang yang dekat di hati?

 

” ELI, ELI, LAMASABAKHTANI?”

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta, M.Th.

Perkataan keempat Yesus di atas kayu salib, Eli, Eli, lamasabakhtani?” Artinya: ”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku ?” (Matius 27:46). Perhatikan saudaraku, dalam kalimat ini Yesus tidak menyebut Bapa. Tetapi Allahku. Pada saat itu, Yesus memposisikan diriNya sebagai ’umat’ yang berada dalam penderitaan yang teramat sangat, lahir dan bathin. Secara fisik Ia mengalami penyiksaan yang tidak berperi kemanusiaan. 2 Penjahat yang disalibkan bersama denganNya saja, tidak mengalami penyiksaan fisik sehebat diriNya. Secara psikis Ia merasa terkucilkan. Orang-orang yang ketika Ia melayani ada di sekitarNya, ’rebutan’ dekat denganNya, menanti-nantikan kehadiranNya, rindu pada khotbahNya, berlomba-lomba minta disembuhkan olehNya, bahkan murid-muridNya yang selama 3 tahun begitu dekat denganNya....... semuanya menjauh!! Ia memahami konsekuensi dan resiko yang harus ditanggungNya itu. Tetapi ketika dengan mata imanNya, Ia merasa Allah BapaNyapun memalingkan wajah daripadaNya (walaupun sebenarnya, Allah memalingkan wajahNya dari dosa manusia, bukan dari Yesus), Hati dan perasaanNya hancur.” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Adalah pertanyaan sekaligus ungkapan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam.

Dalam keadaan seperti yang Yesus alami, kita merasa begitu dekat denganNya. Ia mewakili kita. Sebab itulah perasaan kita ketika mengalami pergumulan yang berat. Seringkali kita harus menghadapinya sendirian. Orang-orang yang dekat dengan kita menjauh, dengan beragam alasan : takut terkait dengan kasus kita, khawatir piring nasi mereka terancam, tau bahwa kita tidak membawa keuntungan apa-apa bagi mereka lagi, khawatir keluarga mereka terganggu, takut kita minta pertolongan, dll. Perasaan sakit itu lebih menghancurkan lagi, ketika kita berdoa dan berdoa, tetapi sepertinya Tuhan ’tidak peduli’. Ia diam saja. Tidak heran keputusan seperti yang diambil ibu Mercy di Malang yang mengakhiri hidupnya bersama keempat anaknya bisa terjadi. Orang yang kehilangan kekuatan imannya, putus asa dan kehilangan harapan akan memilih jalan seperti itu.

Perkataan Yesus bukanlah ungkapan keputus asaan melainkan ungkapan kesedihan yang teramat dalam. Kita perlu mengeluarkan kesesakan yang membebani hati kita. Kalau perlu menjerit, menjeritlah dengan keras! Setelah itu tentukan pilihan. Sebenarnya baik Yesus maupun kita, punya pilihan bebas. Hanya ada 2 pilihan. Yang sesuai dengan kehendak Allah, atau seturut kehendak kita. Kalau seturut kehendak Allah, mungkin jawaban yang didapatkan akan jauh berbeda dari harapan. Tetapi pasti yang terbaik. Kalau seturut kehendak kita, mungkin awalnya kita puas, tetapi ada saatnya kita akhirnya kecewa.

Karena itu saudaraku, sadarilah! Ada saatnya kita menghadapi pergumulan yang berat seorang diri. Tetapi jangan menyerah! Lihatlah itu sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan ujian untuk masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada perjuangan bersama Yesus yang berujung pada kesia-siaan.

 

” AKU HAUS!”

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta, M.Th.

Perkataan kelima Yesus di atas kayu salib "Sesudah itu karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – sudah genaplah yang apa tertulis dalam Kitab Suci -: ”Aku haus !” (Yohanes 19:28).

Ada sebuah aliran di kalangan filsafat yang namanya aliran Gnostik. Salah satu ajarannya adalah: Roh itu baik adanya, dan tubuh adalah jahat sepenuhnya. Karena itu Allah adalah Roh murni dan tidak mungkin punya tubuh. Itulah Yesus adanya. TubuhNya hanya ilusi mata. Jadi kalau Yesus berjalan di atas pasir, tidak ada jejak yang ditinggalkanNya. Itu berarti, sebenarnya Yesus tidak pernah menderita di kayu salib. Itu cara aliran Gnostik menerima Yesus sebagai Tuhan. Padahal dengan pemahaman seperti itu, mereka sebenarnya menghancurkan rencana Allah. Sebab Allah harus hadir sebagai manusia biasa, agar dapat menjadikan umat sebagai anak-anakNya. Salah satu alasan Yohanes menulis Injil ini, adalah dalam rangka menghadapi aliran Gnostik tersebut.

Itu sebabnya dalam bagian ini, Yohanes menekankan tentang penderitaan sesungguh-sungguhnya dari Yesus. Ia benar-benar menderita dan merasakan haus. Sama seperti manusia biasa yang setelah belasan jam disiksa, tanpa makan dan minum sedikitpun, terkuras energi dan mengalami kesakitan yang teramat sangat, maka salah satu kebutuhanNya adalah minum. Itulah yang dinyatakan Yesus, ”Aku haus !” .

Semua yang harus kita tanggung, sudah diambil alih oleh Yesus ketika berada di kayu salib. Penderitaan yang paling menyakitkan dan menakutkanpun sudah dijalaniNya dalam kesendirian, tanpa keluhan apalagi penolakan.

Lalu mengapa kita masih berkeluh kesah tanpa henti? Hidup terlalu berharga untuk diisi dengan omelan dan keluhan. Kalau Yesus mengajak kita mengikutiNya dengan memikul kuk - dan jangan mengeluh ! - karena kuk yang dipasangkan pada kita itu enak (Mat 11:30). Dan kalau Paulus mengajak kita untuk ”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! ..............!” (Fil 4:4). Maka baik Yesus maupun Paulus tidak bermaksud melecehkan/mengecilkan persoalan hidup kita. Mereka mengatakan demikian karena tau bahwa Yesus Kristus sudah melewati yang paling berat dan mengambil alih semua yang memberatkan kita, serta menggantinya dengan sukacita kemenangan.

Kalau saat ini beban hidup kita dirasakan sedemikian berat, belajarlah untuk berserah diri pada Tuhan. Berdoa mohon Tuhan mengambil alih beban yang terlalu berat tersebut. Karena Tuhan tau ukuran beban yang paling tepat menurut kekuatan kita. Sisanya Dia yang akan tanggung bagi kita. Sesudah itu kita jalani hidup dengan tetap tersenyum. Itulah cara kita menunjukkan penghargaan dan rasa terima kasih kita, atas apa yang dialami Kristus di atas kayu salib. Dengan beriman menjalani penderitaan, kita sudah membagikan minum pada Yesus yang berkata, ”Aku haus !”.


”SUDAH SELESAI...!”

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta, M.Th.

Perkataan keenam Yesus di kayu salib, setelah diberi minum anggur asam, Sudah selesai (Yohanes 19:30a).

Seorang profesor diundang sebagai pembicara disebuah basis militer. Disana ia berjumpa dengan seorang bernama Harry. Ia sangat takjub melihat Harry. Ketika menjemputnya di bandara, setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor, ketika berjalan keluar, Harry seringkali menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang ibu tua yang kopernya jatuh. Mengangkat seorang anak kecil yang ingin melihat sebuah pesawat yang parkir. Menolong orang yang butuh arah karena belum pernah datang ke kota itu. Dan setiap kali ketika kembali ke sisi sang Profesor, ia tersenyum lebar.

Wah, anda tidak pernah lelah ya? Dan setiap kali anda menolong orang, anda melakukannya dengan sukacita. Bagaimana anda melakukannya?”

Jawab Harry, ”Saya belajar di medan perang. Kalau tidak aktif bergerak, anda akan mati. Saya harus membersihkan ranjau. Kalau tidak melakukannya dengan sukacita, anda akan mati karena tegang dan takut”. ”Saya belajar hidup ketika melangkah. Kalau salah memilih langkah, saya pasti mati menginjak ranjau. Karena itu, setiap langkah yang saya lakukan adalah sebuah dunia baru. Menurut saya, kebahagiaan seseorang bukan ditentukan oleh berapa lama seseorang hidup, tetapi apa yang dilakukannya ketika ia hidup”.

Saudaraku, kehidupan Yesus adalah kehidupan yang tanpa lelah, berjuang memperkenalkan konsep keselamatan serta berbuat demi keselamatan tersebut.Ia hanya hidup selama 33 setengah tahun sebagai manusia di dalam dunia. Tetapi Ia telah melakukan karya besar. Walaupun demi Keselamatan umat percaya, konsekuensi: dihina, disiksa, dikhianati, dipakaikan mahkota berduri, disalibkan, menjadi bagian yang harus ditanggungNya. Ia lakukan semua itu dengan segala ketulusan dan kasih. Dan ketika ia meneriakkan, ”Sudah selesai !” dalam bahasa aslinya bermakna: finish, selesai dengan sempurna, tanpa cacat, genap seperti yang difirmankan. Sehingga kematianNya dimasuki tanpa penyesalan dan penuh kepuasan.

Berapa usia anda saat ini saudaraku? Apa yang sudah anda lakukan disepanjang waktu-waktu yang Tuhan anugerahkan dan percayakan pada anda selama ini? Siapa diantara kita yang tau batas umur kita? Jangan sampai terlambat! Kalau hidup yang anda jalani saat ini bergelimang pesta pora, kemunafikan, egoisme, pengkhianatan, percabulan, zinah, perjudian dan lain sebagainya, lalu dalam waktu yang tidak terduga kematian menghampiri anda. Dan sebelum ia menjemputnya, siapkah anda mengatakan hal yang sama dengan Yesus,  ”Sudah selesai !” ?? Bahwa hidupku diisi dengan hal-hal yang memuliakan namaMu, menyenangkan hadiratMu. Dan sekarang aku siap mempertanggung jawabkan semua di hadapanMu? Ataukah ketika kematian menghampiri anda, anda akan berteriak ketakutan dan menghindarinya ??

 

Ya Bapa, Ke Dalam Tanganmu Kuserahkan Nyawaku

Pdt. Ny. Nancy Nisahpih-Rehatta, M.Th.

Perkataan terakhir yang diucapkan Yesus, dimana setelahnya Ia mati adalah, Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu (Lukas 23:44-47).                Merupakan sebuah penyerahan diri, yang didasari kepercayaan total. Yesus sudah menyelesaikan tugas yang diberikan Allah Bapa kepadaNya dengan sempurna. Setelahnya Ia berserah diri pada Sang Pemilik pekerjaan tersebut. Dengan kata lain, Yesus mengatakan,”Karena Aku percaya tugas yang Engkau berikan ini sangat penting, karena itu jalan sengsarapun Aku lalui. Sekarang tugas itu sudah selesai. Dan Aku menyerahkan diriKu pada kehendak dan kuasaMu”.

Ketika menjalankan kehidupan, manusia seringkali diliputi kecemasan, ketakutan, kebingungan. Dimana dampaknya manusia hidup dalam keraguan, putus asa dan pesimisme. Apalagi kalau persoalan yang datang bertubi-tubi, tidak selesai-selesai bahkan menambah tekanan pikiran dan perasaan. Tidak jarang manusia menjadi putus asa. Lalu apa yang menguatkan setiap orang?

Harapan. Harapan membuat orang dengan berani melanjutkan hidup. Harapan membuat seseorang tidak pernah berhenti berjuang. Kita tau bahwa hidup itu sangat berharga, karena kalau sudah mati, kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Yesus memiliki kepastian yang dibarengi dengan harapan. Ia yakin Keselamatan yang datang dari Allah Bapa akan segera menjangkau kehidupan seluruh umat manusia, asal percaya padaNya. Dan Ia menyalakan api harapanNya pada umat manusia agar dengan sukacita mereka mau datang padaNya, berserah diri dan kemudian dalam keyakinan serta kepastian, menjadi berkat bagi banyak orang.

Menyerahkan nyawa pada diri seseorang/sesuatu, hanya dilakukan orang-orang yang yakin/sangat percaya bahwa seseorang/sesuatu tersebut mampu berbuat hal-hal baik yang tidak pernah dipikirkannya sekalipun. Dan sesuatu itu pasti yang baik. Yesus melakukan itu pada Allah bapa di surga.

Bagaimana dengan anda?? Apakah anda masih mencari siapa yang patut anda percayai? Apakah hati anda masih diliputi keraguan untuk berserah diri padaNya? Jangan salah !! Ketika anda berpikir untuk memilih antara Allah dan lainnya, anda sudah meragukanNya. Belajarlah pada Yesus. KepercayaanNya luar biasa. Kepastian imanNya tidak tergoyahkan, bahwa Allah Bapa-lah yang paling layak menerima milikNya yang paling berharga, yaitu nyawaNya. Hidup dan mati Yesus adalah milik Allah Bapa.

SELAMAT P A S K A H !!!

 
Baner
Hakcipta © 2014 .. Semua Hak Dilindungi.
Joomla! adalah perangkat lunak gratis yang dirilis dibawah lisensi GNU/GPL.